Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #28

BAB 27 Sumpah yang Dipalsukan

Bekas cap di dada Wisanggeni sama persis dengan gambar Sundari.

Sekar membandingkannya tiga kali.

Pada gambar dalam buku Retno, dua garis pucat berpilin di tengah dada Sundari. Satu garis putus sebelum mencapai lingkaran luar. Putusannya berada di sisi kanan, tepat seperti bekas pada tubuh Wisanggeni.

Bukan bentuk yang sekadar mirip.

Bukan kebetulan.

“Sudah?” tanya Wisanggeni.

Sekar mengangkat wajah.

Lelaki itu masih berdiri dengan bagian atas bajunya terbuka. Retakan hitam dari altar membelah kulit di atas bekas lama. Napasnya teratur, tetapi otot pada rahangnya menegang.

Sekar menyadari dirinya terlalu lama memperhatikan luka itu.

“Sudah.”

Wisanggeni hendak menutup bajunya.

“Tunggu.”

Tangannya berhenti.

“Ada noda di dekat cap.”

“Noda darah?”

“Seperti tinta.”

Sekar mengangkat kain bersih dari meja. “Boleh aku melihat lebih dekat?”

Wisanggeni diam sesaat, lalu mengangguk.

Sekar berdiri satu langkah di depannya.

Mereka berdiri cukup dekat hingga hangat tubuh lelaki itu terasa. Sekar menahan napas sebentar sebelum kembali memeriksa cap.

Ia menyentuhkan kain pada garis pucat di dada Wisanggeni.

Lelaki itu menarik napas.

“Perih?”

“Tidak.”

“Kau menjawab terlalu cepat.”

“Aku tidak berbohong.”

“Mukamu tidak kelihatan begitu.”

Dari dapur, Bima berkata, “Wajah Kang Wisnu jarang setuju pada apa pun.”

Wisanggeni berpaling.

Bima muncul membawa mangkuk ramuan.

“Saya cuma bilang.”

“Letakkan di meja.”

Bima menaruh mangkuk, lalu memperhatikan posisi Sekar yang masih berdiri dekat Wisanggeni.

“Saya pergi dulu?”

“Ya,” jawab Wisanggeni.

Sekar berkata bersamaan, “Tidak perlu.”

Bima berhenti.

“Jadi saya bagaimana?”

“Kau bisa tetap di sini,” kata Sekar.

Wisanggeni mengembuskan napas.

Bima duduk di tepi tikar. “Saya duduk di sini saja. Saya tidak ikut campur.”

Sekar kembali memeriksa cap.

Di salah satu celah luka terdapat warna hitam tipis. Ia mengusapnya dengan kain lembap.

Noda itu tidak hilang.

Sebaliknya, warna hitam merambat mengikuti garis bekas lama.

Tubuh Wisanggeni mendadak kaku.

Sekar segera menarik tangan.

“Ada apa?”

“Panas.”

Retakan di dada Wisanggeni menyala merah.

Bukan seluruhnya.

Hanya titik tempat Sekar tadi menyentuh.

Kertas bergambar Sundari yang berada di atas meja bergerak sendiri. Lembar tipis itu meluncur sampai jatuh ke lantai, tepat di antara kaki mereka.

Sekar membungkuk untuk mengambilnya.

Begitu jarinya menyentuh gambar cap Sundari, rasa panas menyambar telapak tangan.

Ruangan mendadak gelap.

Sekar berdiri di sebuah pendapa yang belum pernah dilihatnya.

Atap kayu menjulang tinggi. Empat tiang utama dibalut kain putih dan hitam. Lampu minyak berderet di lantai, tetapi nyalanya bergerak ke bawah, bukan ke atas.

Udara berbau tanah basah.

Di tengah pendapa terdapat meja panjang dari batu. Di atasnya terbentang selembar kain yang dipenuhi tulisan.

Sekar mencoba bergerak.

Kakinya tidak bisa melangkah.

Ia tahu ini bukan ingatannya.

Beberapa orang berdiri mengelilingi meja. Pakaian mereka berasal dari masa lama. Sebagian mengenakan kain lurik dan ikat kepala, sementara dua orang memakai pakaian bangsawan dengan benang emas pada bagian tepi.

Salah seorang lelaki berdiri paling dekat dengan tulisan.

Usianya sekitar empat puluh tahun. Tubuhnya tegap, kumisnya tipis, dan cincin batu merah melingkar pada jari telunjuk.

Seorang lelaki tua di seberangnya memanggilnya.

“Raden Sotya.”

Nama itu terdengar jelas.

Lelaki bercincin merah menoleh.

“Kita tidak punya waktu sampai pagi, Ki Ageng.”

Ki Ageng Tirto berdiri dengan tongkat kayu di samping meja. Rambutnya putih, tetapi punggungnya masih tegak. Cap dua garis terukir pada kepala tongkatnya.

“Waktu bukan alasan untuk mengubah kata,” katanya.

Raden Sotya tersenyum tipis.

“Aku hanya membuatnya bisa diterima warga.”

“Kau membuatnya menguntungkan keluargamu.”

Beberapa orang di sekitar meja saling pandang.

Tidak seorang pun berani menyela.

Sekar memusatkan perhatian pada kain bertulisan.

Beberapa baris masih terbaca. Sisanya tenggelam dalam bayangan.

Ia melihat kata-kata:

Nama yang dirugikan…

Tanah yang…

Kuasa…

Bagian selanjutnya menghitam sebelum dapat dibaca.

Raden Sotya meletakkan satu lembar kertas lain di atas kain sumpah.

“Kalau kalimat ini dibaca seperti semula, tanah sebelah utara harus dilepas.”

“Tanah itu bukan milik keluargamu,” jawab Ki Ageng Tirto.

“Sudah kami kelola selama tiga generasi.”

“Lamanya pencurian tidak mengubahnya menjadi warisan.”

Lihat selengkapnya