Ada dua tanda tangan pada kain yang sama.
Nama Raden Sotya terlihat jelas pada permukaan sumpah yang selama ini dibacakan kepada warga. Tintanya gelap, tebal, dan dikelilingi cap merah.
Tanda tangan Ki Ageng Tirto tersembunyi di bawah lapisan kain, lebih tua dan hampir hilang.
Sekar memiringkan lampu.
Di antara kedua lapisan terdapat jahitan halus yang nyaris menyatu dengan serat. Orang yang menutup sumpah asli tidak sekadar meletakkan kain baru di atasnya. Ia menjahit kedua lapisan agar tampak seperti satu kain.
“Ini memang dibuat supaya tahan lama,” kata Sekar.
Wisanggeni duduk di sampingnya. Bajunya sudah kembali terikat, tetapi bagian dada masih sedikit terbuka agar retakan tidak bergesekan dengan kain.
“Berapa lama?”
“Cukup lama sampai semua orang lupa pernah ada lapisan pertama.”
Bima berdiri dekat pintu sambil memegang lampu kedua.
“Atau sampai semua orang yang tahu meninggal.”
Sekar mengamati pinggir kain.
Ada garis-garis kecil seperti bekas hitungan. Dua belas garis disusun dalam satu kelompok, kemudian dipisahkan oleh lingkaran kecil. Pola itu berulang beberapa kali di sepanjang tepi sumpah.
“Ini bukan hiasan.”
Wisanggeni mendekat.
“Ini hitungan tahun?”
“Mungkin.”
Sekar mengambil kertas dan menyalin susunannya.
Dua belas garis.
Satu lingkaran.
Dua belas garis lagi.
Satu lingkaran.
Pada kelompok ketiga, satu garis terakhir berwarna lebih gelap daripada yang lain.
Bima menurunkan lampu.
“Garis itu seperti baru dibuat.”
Sekar menyentuhnya dengan ujung kain.
Noda hitam berpindah.
“Tintanya masih baru.”
Wisanggeni menoleh ke dinding yang penuh nama.
“Berarti seseorang masih memperbarui hitungan.”
“Setiap kapan?”
Sekar segera teringat.
Dua belas tahun.
Retno menuliskan bahwa cap Sundari bertambah setiap dua belas tahun. Mbah Karto mengatakan sengkolo pernah kembali setelah dua belas tahun. Perjanjian desa dibaca ulang setiap dua belas tahun, meski warga menyebutnya hanya sebagai ritual pembersihan besar.
Sekar kembali pada kelompok garis terakhir.
“Pernikahan kita jatuh pada hitungan kedua belas.”
Wisanggeni tidak membantah.
“Jadi waktunya sudah ditentukan,” lanjut Sekar. “Mereka hanya menunggu siapa yang dipilih.”
“Namamu sudah ditulis sebelum kau lahir,” kata Wisanggeni.
Sekar mengingat daftar lama yang dibawa Danang.
Namanya memang ada di sana.
Meski begitu, ia belum tahu siapa yang menulis atau mengapa.
“Berarti pernikahan ini bukan keputusan darurat karena wabah.”
“Wabah membuat mereka bergerak lebih cepat.”
“Tapi persiapannya sudah ada.”
Sekar kembali pada sumpah palsu di lantai.
Kepala Desa Marto berdiri di depan warga seolah baru menemukan satu-satunya jalan keselamatan. Sri membawa daftar utang dan ancaman kepada Slamet seakan keluarga mereka kebetulan terdesak pada waktu yang sama.
Tidak ada yang kebetulan.
Sebelum sadar, Sekar sudah diarahkan ke pilihan yang mereka inginkan.
Bima menangkap perubahan di wajahnya.
“Baskomnya di luar.”
Sekar berpaling. “Baskom apa?”
“Kalau mau lempar sesuatu, pakai baskom. Lampu minyak mahal.”
“Aku tidak akan melempar lampu.”
“Mejanya saja sudah rusak satu.”
Wisanggeni tetap diam.
Bima mengangkat bahu. “Saya menjaga harta rumah.”
Sekar berdiri.
“Kita keluarkan kain ini dari ruangan.”
“Tidak,” kata Wisanggeni.
Sekar berpaling kepadanya.
Ia segera melanjutkan, “Bukan. Kain ini mungkin terikat ke dinding. Kita salin dulu.”
Sekar mengembuskan napas dan mengangguk.
Mereka terus membuat salinan sampai siang.
Sekar menyalin tulisan yang dapat terbaca. Bima mengusap arang pada kertas untuk mengambil bentuk pahatan dan jahitan. Wisanggeni memegang lampu meski tangannya beberapa kali gemetar ketika retakan di dadanya berdenyut.
Pada lapisan sumpah lama, sebagian besar kalimat masih tertutup. Sekar hanya dapat membaca kata-kata yang pernah muncul di altar:
nama yang dirugikan
tanah yang diambil
kuasa yang dibangun
Bagian akhir setiap kalimat hilang di bawah jahitan.
Tulisan palsu di atasnya jauh lebih mudah dibaca. Isinya pendek dan tegas: desa akan selamat jika darah seorang pengantin disatukan dengan Penanggung Sengkolo.
Kalimat itu tidak menyebut tanah, nama korban, atau kuasa yang harus dilepas.
Kesalahan yang seharusnya ditanggung banyak orang akhirnya jatuh kepada dua orang.
Sekar dan Wisanggeni.
Sekar menyelesaikan salinan terakhir, lalu menandainya dengan tanggal.
“Yang asli tetap di sini. Salinannya dibawa keluar.”
Bima mengangkat tiga lembar kertas. “Satu untuk Wulan?”
“Satu untuk Wulan, satu untuk Mbah Karto, dan satu disimpan di rumah Prawoto.”
Wisanggeni memandangnya. “Ayahmu?”
“Dia ikut menyerahkanku. Sekarang dia harus menyimpan bukti tentang alasan yang dipakai.”
Sekar tidak berniat menggunakan bukti itu sekadar untuk melukai Prawoto. Ia ingin ayahnya tak lagi bisa berlindung di balik kalimat bahwa semua orang percaya ritual itu benar.
Mereka keluar dari ruang terkunci.
Wisanggeni baru melangkah dua kali ketika tubuhnya goyah.
Sekar menangkap lengannya.