Ucapan Mbah Karto menggantung di rumah sempit itu.
Sekar meneliti ruang kosong di bawah nama Wisanggeni pada buku Catatan Purnama Besar. Tidak ada goresan, noda, atau bekas penghapusan. Hanya bidang putih yang terasa terlalu bersih dibandingkan halaman di sekelilingnya.
Seolah nama Endang tidak pernah ditulis.
Pada pinggir halaman, Mbah Karto menuliskannya berkali-kali.
Endang. Endang. Endang.
Wisanggeni masih mencengkeram tepi meja.
“Di mana dia?”
Mbah Karto menatapnya cukup lama, lalu memalingkan wajah ke jendela.
“Tidak di desa ini.”
“Di mana?”
“Tempat yang orang-orang sini tidak suka datangi.”
Bima mengangkat alis. “Daftarnya cukup panjang.”
Sekar mendekatkan buku kepada Mbah Karto.
“Desa tetangga?”
Lelaki tua itu mengusap noda tinta pada pipinya. Pandangannya berpindah dari buku ke Wisanggeni, lalu kembali kepada Sekar.
“Kalau kusebut tempatnya, kalian mungkin tidak sampai ke sana.”
“Kenapa?”
“Karena ada yang bisa mendengar dari jauh.”
Bima mengangkat wajah ke langit-langit.
“Saya mulai tidak suka rumah yang punya terlalu banyak pendengar.”
Mbah Karto menutup buku dengan cepat.
“Pulang.”
Sekar tidak bergerak.
“Mbah baru saja bilang Endang hidup.”
“Aku sudah bicara terlalu banyak.”
“Mbah tahu tempat persembunyiannya.”
“Aku pernah tahu.”
“Sekarang?”
Karto menoleh ke lemari kayu di pojok. Salah satu pintunya tidak tertutup rapat. Di dalamnya terlihat tumpukan amplop, kain tua, serta botol tinta.
“Petunjuknya kusimpan di tempat yang tidak mudah ditemukan.”
Sekar mengikuti arah pandangnya.
“Di lemari?”
“Kalau kusebut di sini, orang lain bisa dengar.”
Wisanggeni bergerak menuju lemari.
Karto langsung berdiri dan menghalangi.
“Jangan.”
“Dia kakakku.”
“Karena itu kau tidak boleh datang.”
Wisanggeni menghentikan langkah.
Sekar menangkap perubahan pada wajah Mbah Karto. Bukan takut kepada Wisanggeni. Ia seperti takut pada sesuatu yang mungkin mengikuti lelaki itu.
“Endang bersembunyi darinya?” tanya Sekar.
“Bukan.”
“Dari keluarga Wisanggeni?”
Karto tidak menjawab.
“Dari Wujud Sengkolo?”
Lelaki tua itu menggeleng pelan.
“Dari orang yang membuat keluarganya percaya dia mati.”
Sekar justru merasa masalahnya bertambah.
Endang tidak sekadar disembunyikan setelah ritual. Seseorang telah menyebarkan kematiannya sebagai kebenaran dan memastikan keluarganya sendiri tidak mencarinya.
“Siapa?” tanya Wisanggeni.
“Kalau aku masih ingat, seharusnya nama itu masih bisa kusebut.”
“Keluargaku?”
“Yang pegang kunci belum tentu orang yang punya rumah.”
Sekar tidak memaksanya menyebut nama.
“Bagaimana kami menemukan Endang tanpa membawa bahaya kepadanya?”
Karto memandang Sekar. Kali ini matanya lebih jernih.
“Jangan bawa anak Sundari.”
Wisanggeni menegang.
“Kenapa?”
“Karena orang-orang yang mengawasi Endang akan mengenali cap di tubuhmu.”
Sekar melirik dada Wisanggeni yang tertutup kain. Cap itu tidak tampak dari luar, tetapi retakannya dapat muncul kapan saja.
“Siapa yang mengawasinya?” tanya Sekar.
“Orang yang tidak ingin perempuan yang sudah dianggap mati bicara lagi.”
“Itu belum menjawab pertanyaanku.”
“Itu yang masih bisa kukatakan.”
Mbah Karto membuka lemari, mengambil sepotong kain lurik, lalu menyerahkannya kepada Sekar.
Kain itu sudah usang dan salah satu ujungnya memiliki sulaman tiga bunga kecil.
“Bawa ini ke pasar Desa Kalibening.”
Akhirnya sebuah nama tempat.
“Lalu?”
“Cari penjual tempe yang tidak menjual tempe pada hari Selasa.”
Bima mengerutkan kening.
“Kalau tidak menjual tempe, kenapa disebut penjual tempe?”
Mbah Karto menatapnya. “Karena hari lainnya dia menjual.”
“Masuk akal. Saya hanya memastikan.”
Sekar menyimpan kain itu.
“Hari ini hari apa?”
“Senin,” jawab Bima.
“Besok kami pergi.”
Wisanggeni menoleh kepadanya.
“Kami?”
Sekar belum menjawab ketika Mbah Karto menutup pintu lemari.
“Bawa perempuan yang dikenal orang pasar. Jangan membawa lelaki dari rumah tepi hutan. Jangan sebut nama Endang di jalan.”
“Kenapa harus perempuan?” tanya Wisanggeni.
“Yang jaga jalur itu tidak percaya lelaki dari keluarga kalian.”
“Siapa perempuan yang harus dibawa?”
Mbah Karto memandang Sekar.
“Yang berani bohong buat nyelamatin temannya. Sama yang kalau ngomong susah berhenti.”
Sekar langsung teringat Wulan.
Bima juga tampaknya mencapai kesimpulan yang sama.
“Cocok,” katanya. “Bagian cerewetnya terutama.”
Mereka meninggalkan rumah Mbah Karto menjelang siang.
Sepanjang jalan, Wisanggeni tidak banyak bicara. Ia berjalan menggunakan tongkat Bima, tetapi langkahnya lebih cepat daripada saat mereka berangkat.
Sekar tahu keheningan itu tidak akan bertahan sampai mereka tiba di rumah.
Benar saja, setelah melewati pematang terakhir, Wisanggeni berhenti.
“Aku ikut besok.”
Sekar juga berhenti.
“Mbah Karto jelas melarang.”
“Dia juga mengatakan Endang kakakku.”
“Dan cap di tubuhmu bisa dikenali.”
“Aku bisa menutupnya.”
“Retakanmu terbuka hanya karena aku menyentuh altar.”