Endang menutup pintu setelah mengucapkan kalimat itu.
Ia memasang palang kayu, lalu menempelkan telinga pada dinding bambu. Sekar dan Wulan berdiri di tengah ruangan tanpa bergerak. Anak perempuan yang tadi memeluk boneka kayu mundur ke dekat tungku.
Di luar, langkah seseorang terdengar melewati rumah.
Pelan.
Tidak berhenti.
Endang menunggu sampai suaranya menghilang menuju sungai.
“Duduklah,” katanya.
Sekar duduk di atas tikar tipis. Wulan mengambil tempat di sampingnya, tetapi tetap menaruh keranjang di dekat lutut seperti siap mengangkatnya kapan saja.
Endang menutup jendela menggunakan kain.
Rumah itu kecil. Ruang depan sekaligus menjadi tempat makan dan tidur. Di sudut kanan terdapat dipan bambu. Di dinding tergantung dua pakaian perempuan dan satu pakaian anak. Tidak ada benda berharga selain kendi air, beberapa mangkuk, serta kotak jahit yang sudah retak.
Rumah itu lebih terasa seperti tempat persembunyian daripada rumah orang yang pergi meninggalkan keluarganya.
Sekar melirik anak perempuan tadi.
“Anakmu?”
Endang mengangguk.
“Namanya Puspa.”
Puspa memeluk boneka kayunya lebih erat.
Usianya mungkin delapan atau sembilan tahun. Rambutnya dipotong sampai bahu, dan ada bekas luka kecil pada dagunya. Matanya terus mengawasi pintu.
“Puspa,” kata Endang, “masuklah ke belakang.”
“Aku mau di sini.”
“Ini pembicaraan orang dewasa.”
“Orang dewasa suka bilang begitu kalau ada yang mau disembunyikan.”
Wulan melirik Sekar.
“Anaknya cepat belajar.”
Endang mengembuskan napas.
“Bawa bonekamu ke belakang.”
“Dia juga mau dengar.”
“Boneka tidak punya telinga.”
Puspa membalik boneka kayunya. “Ada.”
Pada sisi kepalanya memang terdapat dua tonjolan kecil yang dibentuk menyerupai telinga.
Endang memejamkan mata sebentar.
“Ke belakang.”
Puspa akhirnya menurut, tetapi tidak menutup pintu penghubung. Ia duduk di balik tirai, masih cukup dekat untuk mendengar.
Sekar tidak meminta Endang mengusirnya lagi. Anak itu tinggal di rumah persembunyian dan sudah terbiasa mengawasi orang asing. Mungkin Puspa tahu lebih banyak daripada yang disadari ibunya.
“Kau mengatakan Sundari masih hidup,” kata Sekar.
Endang menuang air ke dalam tiga cangkir.
“Aku mengatakan dia tidak pernah mati.”
“Itu berbeda?”
“Bisa.”
Sekar menerima cangkir, tetapi tidak meminumnya.
“Di mana dia sekarang?”
“Aku tidak tahu.”
“Kapan terakhir kali melihatnya?”
“Dua belas tahun lalu.”
Tahun siklus terakhir.
Sekar menaruh cangkir di lantai.
“Setelah ritual?”
Endang mengangguk.
Wulan mencondongkan tubuh.
“Orang desa bilang kau juga meninggal pada waktu yang sama.”
“Mereka tidak membunuhku.”
Endang berpaling kepadanya.
Wulan mengangkat cangkir. “Maaf. Aku sulit menghargai orang yang cuma menghapus seseorang dari keluarga tanpa membunuhnya.”
“Aku juga.”
Endang duduk berhadapan dengan Sekar. Ia tetap memilih tempat dekat pintu. Bahunya tegang dan matanya sesekali kembali ke jendela.
“Wisanggeni mengingatmu?” tanya Endang.
“Namamu,” jawab Sekar. “Wajahmu tidak jelas.”
“Lebih baik begitu.”
“Tidak baginya.”
Endang menurunkan pandangan.
“Dia masih mudah demam setelah purnama?”
“Sekarang bukan hanya demam.”
Sekar menceritakan secukupnya tentang perubahan Wisanggeni—kulit yang retak, suara korban di dalam tubuhnya, dan bagaimana nama lengkapnya bisa menahan wujud itu.
Ia tidak menceritakan semua catatan Retno atau tulisan di altar. Endang belum sepenuhnya mempercayainya. Sekar juga belum mengetahui siapa yang mengikuti mereka dari pasar.
Endang mendengarkan tanpa memotong.
Ketika Sekar selesai, perempuan itu menggenggam cangkir sampai jemarinya memutih.
“Berarti semakin kuat.”
“Apa yang semakin kuat?”
“Wujudnya.”
“Karena setiap siklus menghapus korban?”
Endang mengangkat wajah cepat.
“Dari mana kau tahu?”
“Mbah Karto menyimpan catatannya.”
“Mbah Karto masih hidup?”
“Masih. Ingatannya tidak selalu utuh.”
“Orang bisa kehilangan ingatan kalau terlalu dekat dengan keluarga kami.”
Sekar membuka tas dan mengeluarkan salinan hitungan siklus. Ia tidak menyerahkannya, hanya menunjukkannya dari tempat duduknya.
“Setiap dua belas tahun mereka baca lagi. Satu nama hilang, lalu Wujudnya makin kuat.”
Endang meneliti susunan garis.
“Ini dari kain sumpah?”
“Salinannya.”
“Kalian membuka ruangan?”
“Ya.”
Endang berdiri mendadak.
Cangkirnya terguling. Air membasahi tikar.
“Kalian tidak boleh menyentuh kain itu.”
“Kami tidak memindahkannya.”
“Bukan itu masalahnya.”
“Lalu apa?”
Endang berjalan ke jendela dan mengintip melalui celah kain.
“Kalau orang dari dua garis berbeda membaca kain itu, orang-orang yang menjaga perjanjian akan tahu.”
“Siapa mereka?”
“Orang yang menjaga perjanjian palsu.”
“Nama.”
Endang menoleh.
“Aku tidak tahu namanya.”
“Kau hidup bersembunyi dua belas tahun dan tidak tahu siapa yang membuatmu bersembunyi?”
“Aku tahu wajah. Tahu cara mereka berjalan. Tahu rumah mana yang mereka datangi. Tapi nama orang bisa berganti, Sekar.”
Ia kembali duduk.
“Kadang orang yang sama memakai nama orang mati.”
Sekar teringat lelaki berwajah retak dan peringatan Nyi Kembang tentang orang yang memakai nama seperti pakaian.
Ia tidak memaksa bagian itu lebih jauh.