Liburan semester ganjil akhirnya tiba, membawa serta angin Desember yang basah dan aroma tanah. Bagi Bintan Torino, liburan ini bukan sekadar jeda dari rutinitas sekolah, melainkan sebuah panggung kemenangan kecil. Rapor semester gasal di tangan ibunya adalah trofi pertamanya. Peringkat dua dari 29 siswa di kelas 7C. Sebuah lompatan yang cukup jauh dibanding sejarah aslinya yang hanya mentok di urutan sembilan.
Meskipun baru saja kehujanan, Bu Sembadra tetap memamerkan senyum semringah di rumah. Bukan main bangganya ia terhadap anak bungsunya. Bahkan Pak Barata yang biasanya hemat bicara, tadi memberikan acungan jempol khusus.
Bintan duduk bertelanjang dada di kamar, menghadap buku catatan kecilnya. Sambil menyeka peluhnya, ia tersenyum. Ujung penanya menari di atas kertas, memberikan tanda centang yang tegas di poin kedua resolusinya: (2) Menjadi murid berprestasi. Ranking 2 dan bersinar di Ekskul English Club rasanya sudah cukup untuk klaim “murid berprestasi” tersebut.
Menghela napas panjang, mengulas senyum. Baru kali ini, Bintan bangga dengan dirinya. Tahun 2004 hampir purnabakti, dan kelima target utamanya telah tercentang semua. Memang belum sempurna. Belum ada "centang dua" yang menandakan pencapaian paripurna. Namun, ia yakin, 2005 akan menjadi tahun panen rayanya.
Buku kecil itu Bintan letakkan di meja belajar yang telah berfungsi kembali menjadi meja belajar, karena sudah bersih dan rapi, di sebelah map rapornya. Bintan kemudian berjalan ke depan cermin. Ia melanjutkan sesi latihan beban yang tadi sempat terinterupsi karena datangnya sang ibu dari sekolah.
Ia mulai mengangkat dumbel tiga kilogram di masing-masing tangannya, melakukan bicep curl dengan ritme teratur. Kulitnya mengilat oleh peluh. Di pantulan cermin, ia melihat progres itu. Tubuhnya mulai menunjukkan lekak-lekuk otot. Tetap kerempeng, tetapi setidaknya ia tak lagi terlihat seperti ranting kering yang akan patah jika ditiup angin.
“Tan, temenmu datang, tuh!” panggil Dwi dari luar kamarnya. Kakak SMA-nya yang juga sedang libur itu terdengar antusias. Ia berbisik, tetapi kata-katanya jelas. “Cewek! Cakep, woe!”
Gerakan ayunan dumbel Bintan spontan terhenti. Alisnya bertaut. Ia meletakkan dumbel itu di lantai, lalu membuka pintu kamarnya. “Cewek? Cakep? Siapa, Mas?”
“Ya enggak tahu, wong mama yang nerima, kok!”
Jantung Bintan berdegup girang. Senyumnya mengembang. Pasti Neta! Semoga Neta.
Tanpa pikir panjang, Bintan melangkah keluar kamar.
“Wow, wow, wow!” Dwi mengadang di depan pintu. “Enggak pernah nerima tamu cewek, sih. Jadi, enggak tahu etika.”
“Apa lagi?” Bintan jengkel.
“Apa, sih, yang mau kamu pamerkan? Tulang rusuk?”
“Hah?”
“Pakai baju dulu, Bloon!"
Bintan menunduk, menyadari ia masih bertelanjang dada. Ia pun cengengesan. “Oh, iya. Lupa!”
Ia berbalik cepat, mengeringkan tubuhnya dengan handuk, menyambar sweter biru dari gantungan baju dan langsung mengenakannya, lalu mengenakan celana panjang dan menyisir rambutnya dengan jari. Setelah merasa cukup layak menemui Neta, ia melangkah ke ruang tamu dengan dada bergemuruh.