Hening yang panjang menggantung di antara dua murid SMP Wufi itu. Bintan menatap Vitri lekat-lekat, mencari tanda-tanda bahwa ia sedang bercanda. Namun, paras cantik tersebut masih sebeku es batu dan sedatar hamparan tikar.
Gagal membaca ekspresi teman sekelasnya, Bintan tidak dapat menyembunyikan lagi rasa penasarannya. “Siapa kamu ini… sebenarnya?”
“Savitri Edenia, kamu enggak kenal?” jawab gadis itu, bermaksud melucu. Sayang, Vitri tidak berbakat melawak. Bintan sama sekali tidak tertawa. Vitri pun kembali ke mode serius. “Bedanya, isi kepalaku datang dari tahun 2031.”
Bintan terdiam, mencoba mencerna informasi itu. “Dua ribu… tiga puluh satu? Itu, kan, masih lama. M-maksudmu….”
“Betul, Om!” Vitri memungut selembar daun mangga yang jatuh ke dasbor motornya, lalu mengamatinya. “Aku datang ke sini disuruh Doktor Mali. Katanya, ada seorang pria yang mendahuluiku. Destinasinya tahun 2004. Namanya Bintang, hahaha.”
Mali Sumali…
Nama itu meledak di kepala Bintan. Keraguan terakhirnya runtuh. Mustahil ada orang lain yang tahu tentang Mali dan mesin waktunya, kecuali sesama pengarung waktu. Apalagi si tua sialan itu memanggilnya Bintang, bukan Bintan, walaupun sudah bolak-balik ia koreksi.
Bintan memijat kedua pelipisnya. Ia nyaris tidak percaya akhirnya memiliki “teman” dari masa depan. Ia sebenarnya senang, tetapi ada perasaan waswas juga. Bagaimana seandainya pengarung waktu itu sebenarnya ada banyak, bukan hanya Vitri dan dirinya? Bagaimana seandainya Mali membuka jasa “wisata waktu” di Desa Wufi? Jika seperti itu, apa yang coba ia perbaiki sekarang dapat kembali berantakan, karena setiap orang bisa mengubahnya lagi.
“Aku datang dari Oktober 2025, Vit. Kamu…”
“Juni 2004! Saat MOS… Masa Orientasi Siswa. Ya, aku sempat merasakan dipelonco sama bocil-bocil tengil di OSIS itu,” Vitri mendengus geli. “Disuruh pakai topi kerucut, tas karung goni, kalung bawang bombai… hahaha. Tapi kusenyumin aja. Mana bisa bocil-bocil bau kencur menggertak kita-kita yang udah 40 tahun ini?”
“Empat puluh tahun?” Bintan menatap remaja di depannya dengan pandangan baru. “Oh iya, ya, tahun 2031, ya? Wah, berarti kamu meninggalkan suami dan anak-anakmu… demi kembali ke tahun ini?”
Vitri memutar matanya. “Aku belum nikah, Om.”
“Serius?”
Gadis itu mengangguk.