Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Suara Angin di Puncak Gunung

Malam itu, Puncak Argopuro seolah menjadi altar bagi amukan langit. Angin gunung berhembus kencang, membawa hawa dingin menusuk tulang hingga menembus lapis demi lapis kain tebal yang dikenakan Bayu. Suara dedaunan pinus bergesekan terdengar seperti ribuan orang berbisik gelisah, menciptakan simfoni alam yang kelam dan mencekam. Di kejauhan, petir menyambar-nyambar, membelah langit hitam dengan kilatan cahaya biru terang yang sejenak memperlihatkan kontur tebing curam dan jurang-jurang terjal di sisi utara gunung. Hujan deras mulai turun rintik-rintik sebelum akhirnya berubah menjadi badai lebat yang menghantam tanah berbatu tanpa ampun.

Di tengah kesunyian yang dipecah oleh gemuruh guntur, gerbang utama Perguruan Singa Putih berdiri megah namun sunyi. Lampu pelita di beranda luar beroyak liar, nyaris padam diterpa angin. Di dalam kompleks perguruan yang biasanya diisi oleh suara derap langkah para murid berlatih jurus malam, malam ini suasananya terasa begitu asing. Sepi, dingin, dan penuh rahasia.

Bayu berdiri tepat di ambang pintu kamar kayunya. Pemuda berusia sembilan belas tahun itu mengenakan pakaian bela diri hitam legam yang basah oleh keringat dan udara malam. Di punggungnya, sebuah bungkusan kain usang berisi sebilah pedang warisan leluhur dan beberapa pakaian ganti terikat erat. Matanya menatap tajam ke arah koridor panjang yang menghubungkan ruang latihan utama dengan paviliun sesepuh perguruan. Tidak boleh ada suara. Tidak boleh ada jejak. Keputusan telah diambil, dan malam ini adalah satu-satunya kesempatan baginya untuk melangkah keluar dari bayang-bayang masa lalu yang mengekang.

"Maafkan aku, Guru," bisik Bayu lirih, suaranya hampir tenggelam dalam deru angin yang menghantam dinding kayu perguruan.

Ia melangkah pelan, memastikan setiap pijakan kakinya di atas lantai papan tidak menimbulkan suara berderit. Bayu tahu betul risiko dari tindakannya. Meninggalkan perguruan secara diam-diam di tengah malam sama artinya dengan menanggung cap sebagai seorang pengkhianat. Di Perguruan Singa Putih, aturan adalah harga mati. Siapa pun yang pergi tanpa restu dari sang guru besar dianggap telah membuang sumpah setia yang diikrarkan di hadapan leluhur. Namun, tinggal lebih lama di tempat itu berarti membiarkan kebenaran tentang kematian orang tuanya terkubur selamanya di balik tembok kebohongan yang sengaja dibangun oleh para petinggi perguruan.

Langkah kakinya membawanya melewati patung harimau putih yang menjadi lambang kebanggaan perguruan tersebut. Di bawah temaram kilat, mata patung itu tampak mengawasinya, seolah-olah memperingatkan akan bahaya besar yang menanti di luar sana. Bayu menarik napas dalam-dalam, menghirup udara malam yang berbau tanah basah dan petir. Ia merapatkan mantelnya, mengeratkan ikatan di pinggangnya, lalu melompat ringan melewati pagar pembatas batu tanpa bersuara sedikit pun.

Di luar kompleks perguruan, hutan belantara telah menantinya. Pepohonan besar yang menjulang tinggi tampak seperti raksasa-raksasa bisu yang siap menelan siapa saja yang berani mengusik ketenangan mereka. Bayu tidak menoleh lagi ke belakang. Ia tahu, bayang-bayang perguruan itu akan terus mengejarnya, tetapi tekad di dalam dadanya jauh lebih kuat daripada rasa takut yang mencoba merayap di pikirannya.

"Aku harus menemukan Kitab Warisan Cakrawala sebelum fajar menyingsing di Lembah Hitam," gumam Bayu pada dirinya sendiri, mengulangi kalimat yang telah membakar semangatnya selama berminggu-minggu di dalam tahanan moral perguruan.

Tujuan utama Bayu bukanlah sekadar melarikan diri dari kungkungan disiplin ketat Perguruan Singa Putih. Ada misi yang jauh lebih besar dan sakral yang harus ia tuntaskan. Berdasarkan catatan tua yang ditemukannya secara tidak sengaja di ruang arsip terlarang, Kitab Warisan Cakrawala adalah kunci utama untuk membongkar konspirasi busuk di balik musnahnya Desa Karangtengah sepuluh tahun silam—desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan sebelum dibumihanguskan oleh orang-orang yang mengaku sebagai pendekar aliran hitam, yang kini ia curigai memiliki hubungan darah dengan petinggi perguruannya sendiri.

"Bayu, apa kau yakin dengan jalan ini? Jalan itu hanya akan membawamu pada kematian yang sia-sia," sebuah bayangan suara di dalam ingatannya tiba-tiba berkelebat. Itu adalah suara Ki Demang, sesepuh perguruan yang selama ini diam-diam melindunginya dan memberikan petunjuk samar tentang masa lalunya.

"Kematian yang sia-sia lebih baik daripada hidup berkalang dusta, Guru," jawab Bayu dalam hati, menjawab keraguan yang sempat singgah di benaknya.

Bagi Bayu, Kitab Warisan Cakrawala bukan sekadar kumpulan jurus silat tingkat tinggi yang dapat mendatangkan kekuasaan duniawi. Kitab itu adalah martabat. Kitab itu adalah keadilan bagi ratusan jiwa tak bersalah yang tewas tanpa pernah mendapatkan pembelaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, ia harus menempuh perjalanan melintasi Hutan Larangan, menyeberangi Sungai Arus Deras, dan mendaki tebing batu curam di ujung timur pegunungan—sebuah jalur yang terkenal mematikan bahkan bagi para pendekar berpengalaman sekalipun.

Rencana perjalanannya telah tersusun rapi di kepala. Malam ini, ia harus berhasil keluar dari batas wilayah kekuasaan perguruan sebelum pergantian penjaga pos pukul tiga pagi. Jika ia tertangkap basah, hukumannya bukan lagi cambuk rotan, melainkan pembuangan permanen ke jurang kematian atau eksekusi mati demi menjaga nama baik perguruan.

"Tidak ada jalan kembali," tekad Bayu semakin bulat. Ia mempercepat langkahnya, menembus lebatnya semak belukar yang basah oleh embun dan air hujan. Setiap ayunan tangannya membelah kegelapan dengan presisi tinggi, menunjukkan bahwa dasar-dasar ilmu silat yang ia pelajari selama belasan tahun telah mendarah daging dalam setiap gerakannya.

Di dalam benaknya, bayangan wajah ayahnya—seorang pendekar agung yang gugur dalam pembantaian sepuluh tahun lalu—terus berkelebat, memberikan energi tambahan bagi otot-otot kakinya yang mulai terasa penat.

"Ayah, tunggu aku sebentar lagi. Kebenaran itu akan segera terungkap," ucap Bayu pelan, matanya memancarkan binar penuh keyakinan di tengah gelapnya malam yang pekat.

Perjalanan menuruni lereng Puncak Argopuro ternyata jauh lebih berat daripada yang dibayangkan Bayu sebelumnya. Hujan badai yang tadinya menderu kini mulai mereda, menyisakan kabut tebal berwarna putih kelabu yang merayap naik dari lembah, menyelimuti pepohonan dan menutupi jalan setapak. Suasana berubah menjadi sunyi secara misterius, hanya terdengar suara tetesan air hujan dari ujung-ujung daun pinus yang jatuh ke tanah berlumpur.

Bayu menghentikan langkahnya sejenak di bawah naungan sebuah batu besar yang menjorok keluar. Ia mengatur napasnya yang mulai memburu. Peluh dingin bercampur dengan air hujan mengalir di pelipisnya.

"Kabut ini terlalu pekat. Jarak pandang tidak lebih dari dua tombak," gumam Bayu sambil menyeka wajahnya dengan lengan baju.

Ia menyadari bahwa dirinya kini telah meninggalkan zona aman wilayah teritorial Perguruan Singa Putih dan memasuki kawasan hutan transisi yang dikenal sebagai Hutan Kabut Abadi. Di tempat ini, kompas alamiah sering kali mengecoh, dan suara-suara gaib kerap kali mempermainkan akal sehat para pelancong yang tidak awas.

Bayu merogoh kantong jubah dalamnya, mengeluarkan sebuah kompas kecil berbingkai perunggu milik mendiang ayahnya. Jarum penunjuk kompas itu berputar-putar tidak beraturan, terpengaruh oleh medan magnet bumi yang kuat di sekitar pegunungan vulkanik tersebut.

"Sial, alat ini tidak bisa diandalkan di sini," desis Bayu kesal.

Ia memasukkan kembali kompas itu, lalu menutup matanya sejenak. Ia mulai mengandalkan indra pendengaran dan kepekaan chi di dalam tubuhnya. Dalam dunia persilatan, seorang pendekar sejati tidak hanya mengandalkan mata fisik, tetapi juga mata batin untuk membaca arah angin dan getaran tanah. Dari kejauhan, ia bisa mendengar suara gemercik air yang mengalir di atas bebatuan—sebuah tanda bahwa Sungai Arus Deras sudah tidak jauh lagi di sebelah timur.

Tiba-tiba, telinganya menangkap suara gemerisik yang tidak wajar di balik semak-semak di sebelah kanannya. Suara itu begitu halus, nyaris tak terdengar di antara desir angin malam, namun cukup tajam bagi telinga seorang murid utama Perguruan Singa Putih.

Bayu langsung membuka matanya. Tubuhnya menegang seketika. Tangan kanannya secara otomatis bergeser mendekati gagang pedang yang terselip di balik punggungnya.

"Siapa di sana?" bentak Bayu setengah berbisik, suaranya tajam memecah keheningan kabut.

Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang kembali berhembus, membawa hawa dingin yang terasa semakin menusuk. Namun, Bayu tahu ia tidak salah dengar. Seseorang atau sesuatu sedang mengikutinya sejak ia melewati batas hutan tadi.

Lihat selengkapnya