Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Jejak Tanpa Tujuan

Bayu berdiri di tepi tebing Karang Tempatsan, tempat di mana kabut abadi berputar-putar seperti asap dupa dari altar raksasa yang terlupakan oleh langit. Di bawah sana, lembah terjal bernama Lembah Jiwa-Jiwa Hampa membentang luas, menyembunyikan rahasia kelam dari dunia persilatan arus utama yang selama ini memuja darah dan kekuasaan. Matahari pagi baru saja mengintip di balik punggung bukit, memancarkan sinarnya yang pucat dan dingin, merayap malas di atas bebatuan tajam yang menyerupai gigi binatang buas. Angin lembah berembus kencang, membawa aroma tanah basah, lumut tua, dan bau samar besi berkarat dari bilah pedang yang lama tak dihunus. Bayu merapatkan jubah hitamnya yang sudah kusam oleh debu perjalanan dan noda darah yang mengering. Rambutnya yang sedikit berantakan ditiup angin, membingkai wajahnya yang tirus, keras, namun menyembunyikan kelelahan batin yang teramat sangat. Di pinggang kirinya, tergantung sebuah pedang tua dengan sarung kayu jati yang retak di beberapa bagian—sebuah senjata pusaka warisan gurunya yang telah tiada, sebuah peninggalan dari masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam.

"Dunia persilatan hari ini bukan lagi tempat bagi mereka yang mencari kebenaran, melainkan pasar lelang bagi para algojo berkedok pahlawan," gumam Bayu pelan, suaranya hampir tenggelam dalam deru angin lembah yang menghantam dinding karang.

Ia memutar tubuhnya untuk terakhir kalinya menghadap ke arah utara, arah di mana Menara Langit Biru—pusat aliansi persilatan arus utama—berdiri megah menembus awan. Dari tempat yang sangat tinggi ini, menara itu tampak seperti paku emas yang menancap di jantung bumi, memancarkan kekuasaan yang absolut namun rapuh di atas penderitaan orang-orang kecil. Bayu mengingat kembali bagaimana ia pernah berdiri di aula utama menara tersebut, dielu-elukan sebagai pendekar muda berbakat yang berhasil menumpas ribuan musuh demi menjaga stabilitas faksi-faksi besar. Namun, pujian itu kini terasa seperti ludah busuk di wajahnya sendiri. Ia sadar, darah yang ia tumpahkan selama ini bukanlah darah para penjahat sejati, melainkan darah orang-orang yang menolak tunduk pada keserakahan para ketua mazhab besar. Kenangan itu berkelebat cepat di benaknya, menghadirkan rasa mual yang membakar kerongkongannya. Bayu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, merasakan denyut nadi kemarahan yang perlahan-lahan mereda digantikan oleh kehampaan yang dingin.

"Cukup," ucapnya tegas pada diri sendiri. "Ikatan itu sudah putus. Hari ini, Bayu si Pedang Tanpa Bayangan telah mati di atas tumpukan mayat rekan-rekannya sendiri. Yang tersisa hanyalah seorang pejalan kaki tanpa nama."

Tanpa menoleh lagi ke belakang, Bayu membalikkan tubuhnya dan melangkah mantap menuruni lereng curam yang nyaris tak memiliki jalur setapak. Langkah kakinya yang pertama di atas tanah lembab itu menandai detik-detik pemutusan total dari seluruh aturan, kode kehormatan palsu, dan sumpah setia yang pernah mengikat jiwa raganya selama belasan tahun. Waktu menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit ketika bayangannya memanjang di atas bebatuan curam, mengiringi perjalanannya menuju ketidakpastian yang pekat.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Bayu melangkah turunbukanlah untuk mencari pelarian yang tenang atau sekadar menikmati masa tua yang damai di tempat terpencil. Jauh di dasar lembah yang tertutup kabut tebal itu, tersimpan sebuah legenda kuno tentang Kitab Sembilan Mata Air—sebuah naskah pengobatan dan pernapasan spiritual yang konon mampu menyembuhkan luka batin terparah sekaligus memurnikan chi seseorang dari racun kebencian yang mendalam. Selama bertahun-tahun, para petinggi dunia persilatan mencari kitab tersebut untuk memperkuat hegemoni mereka dan mencapai tingkat keabadian semu. Namun, bagi Bayu, kitab itu adalah satu-satunya instrumen yang tersisa untuk membersihkan jiwanya sendiri dari noda dosa pembantaian yang ia lakukan di Desa Candi Wulung beberapa bulan lalu. Ia bertekad bulat untuk menemukan kitab itu, bukan untuk menjadi penguasa baru atau pendekar nomor satu di bawah kolong langit, melainkan untuk membakar naskah tersebut setelah ia menghafal prinsip dasarnya, atau menggunakannya guna menebus kesalahan masa lalu dengan cara menyembuhkan orang-orang tertindas yang diabaikan oleh para pendekar besar.

"Aku tidak boleh gagal kali ini," bisik Bayu pada angin, napasnya mulai teratur mengikuti irama langkah kakinya yang menuruni tebing curam. "Jika kitab itu benar-benar ada di dasar jurang ini, maka aku akan menemukannya, meski harus mempertaruhkan sisa nyawaku."

Ia teringat pada janji yang pernah ia ucapkan di makam gurunya, Ki Jati Murka, sesaat sebelum guru tua itu menghembuskan napas terakhirnya akibat tusukan racun dari murid pengkhianat mazhab mereka sendiri. Saat itu, Ki Jati Murka berpesan dengan suara parau: ‘Bayu, dunia persilatan sudah busuk sampai ke sumsum tulang belakangnya. Jangan pernah kau gunakan pedangmu untuk membela mereka yang duduk di kursi singgasana emas. Carilah kedamaian sejati di tempat-tempat yang paling dihindari oleh manusia, dan temukan cara untuk menyembuhkan dunia tanpa harus meneteskan darah.’ Pesan itu terus bergemuruh di dalam kepalanya, menjadi kompas moral satu-satunya di tengah badai keputusasaan yang melanda jiwanya. Bayu tahu, perjalanan ini tidak akan mudah. Medan yang harus ia taklukkan bukan hanya tebing batu yang curam dan hutan lebat yang dipenuhi binatang buas beracun, tetapi juga bayang-bayang masa lalunya sendiri yang terus mengekor di setiap langkah.

"Tujuanmu mulia, anak muda, tapi jalan yang kau pilih adalah jalan menuju kematian yang sunyi," sebuah suara tiba-tiba menggema dari balik bebatuan besar di sisi kiri jalur turunnya.

Bayu menghentikan langkahnya seketika. Tangan kanannya secara refleks mencengkeram gagang pedang di pinggangnya, sementara matanya tajam memindai setiap sudut tempat berserakannya batu-batu besar. Dari balik kabut yang mulai menipis, sesosok bayangan bertubuh bungkuk muncul perlahan, mengenakan jubah abu-abu yang compang-camping. Wajah orang tua itu tertutup sehelai kain kusam, menyisakan sepasang mata tua yang bersinar tajam bagai bintang malam di kegelapan jurang.

"Siapa kau?" tanya Bayu dingin, suaranya mengandung tekanan chi yang cukup kuat untuk menggoyangkan kerikil di dekat kaki orang tua itu.

"Seseorang yang sudah lebih dulu tersesat di tempat ini," jawab orang tua itu sambil terkekeh pelan, suaranya terdengar seperti gesekan dua buah batu kering. "Dan kau, Bayu... pendekar pelarian dari Menara Langit Biru. Kau kira dengan membuang jubah kehormatanmu, kau bisa melepaskan takdir darah yang mengalir di tanganmu itu?"

Bayu tidak langsung menjawab. Ia mengamati postur tubuh orang tua tersebut, mencoba menilai tingkat tenaga dalam yang dimiliki oleh sosok misterius di hadapannya. "Aku tidak tertarik berbasa-basi dengan penjaga jalanan. Minggir atau rasakan ujung pedangku."

"Gunakan pedangmu jika kau punya keberanian, tapi ketahuilah, semakin cepat kau berlari menuju tujuanmu, semakin dekat pula kau pada perangkap yang telah disiapkan oleh orang-orang yang ingin melihatmu hancur," ujar orang tua itu sebelum tubuhnya melesat lenyap ditelan kabut tebal, meninggalkan gema tawa yang menyayat hati di sepanjang dinding lembah.

❖ ❖ ❖

Kejadian bermunculannya orang tua misterius itu meninggalkan jejak kegelisahan yang mendalam di dada Bayu, namun ia tidak punya pilihan selain terus melangkah maju menembus batas antara dunia yang ia kenal dan dunia asing di bawah sana. Transisi dari seorang pendekar arus utama yang dihormati menjadi seorang buronan yang berjalan tanpa arah bukanlah proses psikologis yang mudah diterima oleh akal sehatnya. Setiap kali ia melewati sebuah pos penjagaan tua yang kini telah runtuh dan ditumbuhi oleh tanaman rambat liar, bayangan masa lalunya sebagai algojo mazhab besar kembali berkelebat dengan kejam. Ia ingat bagaimana ia dengan mudahnya menghancurkan gerbang perguruan-perguruan kecil yang dianggap membangkang, atas nama ketertiban dunia persilatan. Kini, di tempat yang sunyi ini, kesadaran itu menghantamnya bagaikan palu godam. Perjalanan menuruni lembah ini bukan sekadar perpindahan geografis dari dataran tinggi menuju jurang yang gelap, melainkan sebuah proses pengikisan identitas yang menyakitkan. Bayu harus menanggalkan satu per satu kebiasaan lamanya: cara ia berdiri, cara ia memandang orang asing, bahkan cara ia bernapas yang dulunya selalu diatur untuk kesiapan bertarung dalam tempo cepat.

"Dulu, setiap langkahku diiringi oleh tabuhan genderang perang dan sorak-sorai pengikut," gumam Bayu lirih, matanya menatap telapak tangannya sendiri yang dipenuhi bekas luka tebasan pedang. "Sekarang, satu-satunya suara yang menemaniku adalah deru angin lembah dan detak jantungku sendiri yang terdengar begitu asing."

Ia berhenti sejenak di sebuah dataran kecil di antara bebatuan cadas untuk mengatur napas. Udara di sini terasa jauh lebih berat dan lembap dibandingkan dengan udara di puncak gunung tempat ia memulai perjalanannya tadi pagi. Di hadapannya, hamparan hutan purba dengan pepohonan raksasa berakar gantung membentang sejauh mata memandang, membentuk sebuah labirin hijau gelap yang seolah-olah menelan setiap sinar matahari yang mencoba menembusnya. Bayu membuka kantong air di pinggangnya dan meneguknya perlahan, merasakan kesegaran air pegunungan yang membasahi kerongkongannya yang kering. Di saat-saat sunyi seperti inilah ia mulai merasakan perubahan besar dalam cara pandangnya terhadap dunia. Musuh bukanlah lagi sosok pendekar mazhab lain yang mengenakan pakaian berbeda warna, melainkan rasa bersalah yang terus menggerogoti nuraninya dari dalam. Ia menyadari bahwa keputusan untuk memutus ikatan dengan dunia persilatan arus utama bukanlah akhir dari masalah, melainkan awal dari perang yang jauh lebih berat—perang melawan diri sendiri untuk menemukan kembali kemanusiaannya yang telah hilang di tengah ambisi kekuasaan.

Lihat selengkapnya