Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Kedai Kecil di Kaki Bukit

Kabut tebal merayap lambat di antara rimbunan pepohonan pinus, menyelimuti jalan setapak berbatu yang membelah lereng Bukit Singgah. Udara pagi terasa menggigit kulit, membawa serta embun yang menempel di ujung-ujung daun bambu dan menciptakan tetesan lambat yang jatuh ke tanah basah. Waktu menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit, fajar baru saja merayap naik malu-malu di balik cakrawala timur, menyapukan warna kelabu pucat yang perlahan berubah menjadi keemasan. Di tengah keheningan alam yang teramat pekat itu, terdengar derap langkah kaki yang teratur namun terdengar lelah. Langkah demi langkah, seseorang menyusuri jalan setapak tersebut dengan mengenakan jubah abu-abu tua yang ujung kainnya telah berlumuran debu perjalanan jauh.

Sosok itu adalah Arya, seorang pendekar tanpa nama yang telah menghabiskan separuh hidupnya di jalanan sunyi. Jubah yang ia kenakan tampak usang, membungkus tubuhnya yang tegap namun menyisakan garis-garis kelelahan yang nyata di wajahnya. Rambutnya yang sedikit panjang dibiarkan terikat longgar dengan sehelai kain hitam, sementara di punggungnya terselip sebuah pedang tua berbalut sarung kayu jati yang tampak kusam tanpa hiasan mewah. Setiap kali ia menghembuskan napas, uap putih tipis mengepul di udara dingin pegunungan. Matanya yang tajam menyapu sekeliling, mengawasi setiap gerak-gerik semak belukar yang bergoyang karena tiupan angin pagi.

"Sunyi sekali pagi ini," gumam Arya pelan, suaranya parau dan hampir tenggelam oleh desau angin gunung yang menderu pelan di antara dedaunan pinus.

Ia menghentikan langkah sejenak untuk mengatur napasnya yang mulai memburu setelah mendaki tanjakan curam selama dua jam penuh tanpa henti. Kakinya terasa pegal, namun ia tidak berniat untuk membuang waktu. Perjalanan yang ia tempuh masih amat panjang, dan matahari yang mulai naik perlahan-lahan memberikan sinyal bahwa dunia luar sedang bergerak cepat, jauh lebih cepat daripada langkah kakinya yang berat.

"Kau yakin kita harus melewati jalan ini, Arya?" sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan di dalam benaknya, atau mungkin lebih tepatnya bayangan ingatan dari seseorang yang telah ia tinggalkan di lembah seberang.

Arya menggelengkan kepala pelan, mengusir bayangan itu dari pikirannya. Ia kembali melangkah, menuruni punggung bukit yang mulai melandai. Di kejauhan, samar-samar terlihat kepulan asap tipis yang membubung lurus ke langit, menandakan adanya kehidupan manusia di tengah belantara sunyi itu. Aroma panggang kayu bakar dan samar-samar bau rebusan daun teh mulai tercium terbawa angin pagi, menyusup ke indra penciumannya yang sudah berhari-hari hanya mencium aroma tanah basah dan keringat.

"Sebentar lagi," ucap Arya pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan diri bahwa tempat istirahat terdekat sudah berada di depan mata.

Jalan setapak perlahan-lahan melebar, berubah menjadi tanah padat yang berdebu. Pohon-pohon besar mulai jarang, digantikan oleh semak-semak liar dan beberapa pohon buah yang tumbuh subur di sekitar batas hutan. Dari balik kelokan jalan, sebuah pemandangan kecil mulai menampakkan wujudnya. Sebuah bangunan beratap ijuk dengan dinding kayu yang sudah lapuk termakan usia berdiri menyendiri di kaki bukit. Di depan bangunan itu, terpasang sebuah papan kayu usang yang berayun pelan ditiup angin, mengeluarkan bunyi berderit yang nyaring.

Arya mempercepat langkahnya, merasakan kerinduan yang mendesak untuk sekadar meluruskan kaki dan meneguk air hangat. Pagi di kaki bukit ini menyimpan misteri yang belum ia ketahui, namun untuk saat ini, prioritas utamanya adalah menemukan tempat perlindungan sementara dari dinginnya udara pegunungan.

Kedai kecil di kaki bukit itu tampak remang-remang di bawah naungan cahaya matahari pagi yang belum sepenuhnya menghangat. Arya berdiri di depan pintu kayu yang setengah terbuka, memperhatikan suasana di dalam kedai yang tampak sepi. Hanya ada sebuah meja kayu panjang di sudut ruangan dan beberapa bangku bambu yang tertata rapi. Aroma daun teh kering bercampur dengan bau rempah-rempah yang tajam langsung menyergap hidungnya begitu ia melangkah melewati ambang pintu.

Seorang pria paruh baya dengan tubuh bungkuk dan sehelai kain handuk tersampir di bahunya tampak sedang membersihkan meja kayu. Ketika mendengar derit pintu, ia mendongak dan menatap Arya dengan pandangan waspada, namun sesaat kemudian ekspresinya melunak menjadi ramah khas penduduk pegunungan.

"Silakan masuk, Anak Muda. Udara pagi di luar sangat menusuk tulang, mari hangatkan badanmu dulu," ucap pemilik kedai itu dengan suara serak, meletakkan kain lapnya di atas meja.

Arya mengangguk singkat. "Aku hanya ingin memesan secangkir teh hangat dan sedikit makanan pengganjal perut, Ki Sanak."

"Tentu, tentu. Silakan duduk di dekat tungku perapian, di sana paling hangat," balas sang pemilik kedai sambil menunjuk ke sudut ruangan di mana sebuah tungku kecil berisi arang menyala kemerahan, memancarkan kehangatan yang amat dinantikan.

Arya berjalan menuju bangku yang ditunjukkan, melepaskan tas punggungnya yang berat dengan hati-hati, lalu menaruh pedangnya bersandar di sisi meja. Tujuan utamanya singgah di tempat terpencil ini sebenarnya sederhana: ia hanya ingin mencari informasi mengenai jalur perjalanan teraman menuju lembah utara, sekaligus menghindari kejaran badai salju yang konon sering turun secara tiba-tiba di puncak bukit menjelang siang hari. Namun, lebih dari itu, ada kegelisahan tersembunyi di dalam dadanya yang mendorongnya untuk terus mencari tahu tentang desas-desus yang belakangan ini samar-samar ia dengar dari para pelancong lain di pos perbatasan.

"Apakah perjalanan ke utara masih aman, Ki Sanak?" tanya Arya langsung, begitu secangkir teh panas disuguhkan di hadapannya. Uap putih mengepul mengepung cangkir tanah liat tersebut, membawa aroma wangi melati yang menenangkan.

Pemilik kedai menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh dengan tatapan menyelidik. Ia merendahkan suaranya, seolah takut dinding kayu kedai itu bisa mendengar percakapan mereka. "Aman? Nak, kata itu sudah lama tidak ada di dunia persilatan saat ini. Kau baru turun dari gunung ya? Tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana?"

Arya mengerutkan keningnya, sebelah alisnya terangkat. "Aku baru saja menyelesaikan pelatihan di pertapaan terpencil. Aku tidak banyak mendengar berita dari luar selama beberapa bulan terakhir."

Pemilik kedai itu menghela napas panjang, menggelengkan kepalanya prihatin. Ia menarik sebuah bangku kecil dan duduk di dekat meja Arya, bersiap menceritakan sesuatu yang tampaknya jauh lebih besar daripada sekadar urusan perjalanan biasa.

"Dunia sedang kacau balau, Anak Muda. Aliansi Persilatan Utama pecah menjadi dua kubu setelah ketua mereka ditemukan tewas secara misterius di Paviliun Angin Timur," bisik pemilik kedai dengan nada penuh kekhawatiran. "Kitab Pusaka Naga Langit yang selama ini menjadi lambang perdamaian antar perguruan hilang tanpa jejak. Sekarang, semua pendekar saling curiga, saling bunuh di jalanan, memperebutkan kekuasaan."

Mendengar kata-kata itu, mata Arya menajam. Tujuan sederhananya untuk sekadar beristirahat mendadak terasa terpinggirkan. Kitab Pusaka Naga Langit—benda legendaris yang seharusnya terkunci rapat di ruang suci—kini menjadi pemicu pertumpahan darah massal di seluruh negeri.

"Apakah ada petunjuk siapa yang mengambilnya?" tanya Arya serius, suaranya berubah dingin.

"Tidak ada yang tahu pasti. Tapi orang-orang bilang, bayangan kegelapan dari Sekte Darah Merah telah terlihat di berbagai kota besar," jawab pemilik kedai itu gemetar.

Arya terdiam, jemarinya mengetuk perlahan permukaan meja kayu. Tujuannya kini bergeser; bukan lagi sekadar mencari jalan pulang, melainkan mencari kebenaran di balik kekacauan yang mengancam keselamatan orang banyak.

Percakapan di kedai kecil itu terhenti ketika suara derap kuku kuda mendadak memecah keheningan di luar bangunan. Suara itu terdengar tergesa-gesa, menghentak tanah berbatu dengan kasar, disusul oleh suara ringkikan kuda yang kesakitan. Pemilik kedai langsung berdiri dengan wajah pucat pasi, sementara Arya secara insting meletakkan tangannya di atas gagang pedang yang bersandar di sisi bangkunya.

"Siapa itu?" bisik pemilik kedai dengan suara tercekat di tenggorokan.

"Tetaplah di sini, jangan keluar," perintah Arya singkat namun tegas.

Tanpa membuang waktu, Arya beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pelan menuju jendela kecil yang menghadap ke arah jalan raya di depan kedai. Dari celah kayu yang renggang, ia melihat tiga orang penunggang kuda mengenakan jubah hitam legam dengan lencana bergambar bulan sabit merah di dada mereka. Mereka bukan pendekar sembarangan; cara mereka mengendalikan kuda menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang terlatih dalam seni membunuh.

Kuda-kuda itu berhenti tepat di depan kedai. Salah seorang penunggang kuda yang berbadan besar dan memegang sebuah golok bermata lebar melompat turun dengan suara gedebuk yang keras. Ia menendang pintu kedai hingga terbuka lebar, membuat kayu tua itu berderit keras nyaris patah.

"Pemilik kedai! Keluar kau!" bentak pria bergolok itu dengan suara menggelegar, memenuhi ruangan kecil tersebut.

Pemilik kedai gemetar ketakutan di sudut ruangan, tubuhnya meringkuk seolah berharap bisa menembus dinding kayu. Arya menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu lebih cepat. Transisi dari suasana damai minum teh pagi menjadi ketegangan mendarah daging terjadi begitu cepat, seolah takdir memang sengaja mempertemukannya dengan badai kekacauan ini lebih cepat dari perkiraannya.

"Tenanglah, Ki Sanak. Biar aku yang mengurus mereka," ucap Arya tenang tanpa menoleh, suaranya memberikan secercah ketenangan bagi pria paruh baya yang ketakutan itu.

Lihat selengkapnya