
Malam itu, langit di atas distrik perbatasan Niskala menggantung rendah dengan warna lembayung tua yang pekat, seolah menumpahkan jelaga ke atas genting-genting tanah liat yang mulai retak. Angin barat berembus kencang, membawa serta debu jalanan dan bau belerang samar dari tungku pandai besi di ujung lorong yang sudah lama padam. Di sebuah kedai teh kayu yang hampir rubuh, tirai kain usang berkintal-kintal ditiup angin, memperlihatkan cahaya lampu minyak yang berkedip lemah melawan kegelapan. Bayu duduk di sudut paling gelap dari ruangan sempit itu, jemarinya yang kasar memegang cangkir tembikar retak berisi teh hitam suam-suam kuku yang mengepulkan uap tipis. Suara derit kayu bangunan yang dihantam badai kecil berpadu dengan dengung suara serangga malam, menciptakan suasana sunyi yang menekan dada.
"Kau yakin gerombolan itu akan melewati jalur ini, anak muda?" tanya Ki Jamin, pemilik kedai yang punggungnya sudah membungkuk dimakan usia, sambil meletakkan sepiring kecil ubi rebus di atas meja kayu berlubang. Suaranya serak, bersaing dengan suara tetesan air dari atap yang bocor.
Bayu mendongak, menatap lelaki tua itu dengan sepasang mata tajam yang menyimpan lelah berbulan-bulan di jalanan. "Mereka tidak punya pilihan lain, Ki. Jalur utama tertutup longsoran batu kapur sejak tiga hari lalu, dan karavan pedagang dari lembah barat pasti melintasi jalan setapak di belakang bukit ini jika mereka ingin tiba sebelum pasar pagi," jawab Bayu dengan nada rendah, tenang namun penuh keyakinan.
"Dunia ini sudah berubah, Bayu," keluh Ki Jamin sambil menyeka meja menggunakan kain lap kotor yang sudah berubah warna menjadi kecokelatan. "Dulu, jalanan ini aman untuk siapa saja yang ingin mencari sesuap nasi. Sekarang, seragam penguasa dan jubah penyamun tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama merampok darah rakyat kecil."
Bayu tidak langsung menjawab. Ia kembali menunduk, memandangi pantulan wajahnya sendiri di permukaan air teh yang tenang. Di balik kain penutup hitam yang melingkar di pinggangnya, gagang pedang besi berkarat miliknya berbisik pelan setiap kali ia menarik napas. Perjalanan panjang dari pegunungan utara telah menguras hampir seluruh perbekalannya, menyisakan hanya jubah perjalanan yang compang-camping dan tekad baja yang tidak mudah luntur oleh dinginnya malam perbatasan. Waktu menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit malam, saat keheningan malam mulai dipecahkan oleh suara derap kuku kuda yang tidak beraturan dari kejauhan, memecah keheningan distrik yang tertidur lelap.
"Mereka datang," bisik Ki Jamin, wajahnya memucat seketika hingga kehilangan seluruh warna darahnya. Pemilik kedai itu buru-buru memadamkan lampu minyak utama, menyisakan hanya pijar merah kecil dari tungku sudut ruangan yang hampir mati.
❖ ❖ ❖
Bayu berdiri perlahan, memastikan keseimbangan tubuhnya di atas lantai kayu yang berderit nyaring. Matanya menatap lurus ke arah pintu kayu kedai yang setengah terbuka, menanti detik-detik ketika bayangan malam berubah menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi dengan darah dan baja.
"Duduklah kembali, Ki. Jangan biarkan mereka tahu ada orang asing di sini," kata Bayu singkat sebelum melangkah mundur ke dalam bayang-bayang tiang penyangga ruangan.
Langkah kaki di luar semakin mendekat, diiringi suara tawa kasar dan makian kotor yang mencabik-cabik ketenangan malam. Bayu menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin malam memenuhi paru-parunya, menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu seiring derap kuda yang berhenti tepat di depan kedai.
Tujuan Bayu bukanlah mencari ketenaran atau mengumpulkan harta rampasan seperti para petualang amatir yang mati kelaparan di padang pasir. Sejak ia meninggalkan tanah kelahirannya di lembah seberang, satu-satunya tujuan hidup yang tersisa di benaknya adalah menemukan keberadaan Kelompok Laskar Hitam—organisasi bayangan yang telah menghancurkan desanya dan merenggut nyawa seluruh keluarganya lima tahun silam. Setiap langkah yang ia ayunkan di atas tanah berbatu ini adalah bagian dari peta dendam yang tersusun rapi di dalam kepalanya, meski ia tahu jalan tersebut dipenuhi oleh duri dan darah.
"Untuk apa kau terus mengejar bayangan masa lalu yang sudah menjadi abu, Bayu?" suara Ki Jamin tiba-tiba memecah lamunannya dari balik meja bar tempat lelaki tua itu bersembunyi.
Bayu menoleh sedikit, menatap sudut ruangan yang gelap gulita. "Abu masih bisa menyisakan bara, Ki. Dan bara itu cukup untuk membakar apa saja yang menghalangi jalanku," jawab Bayu dingin, suaranya mengandung beban emosi yang ditekan sedemikian rupa hingga terdengar seperti geraman angin malam.
Bagi Bayu, setiap pertempuran kecil yang ia hadapi di sepanjang perjalanan bukanlah tujuan akhir, melainkan batu loncatan untuk menguji seberapa jauh kemampuan pedangnya bisa diandalkan ketika saat pembalasan itu benar-benar tiba. Ia tidak ingin mati sia-sia di tangan prajurit rendahan atau penyamun jalanan sebelum ia sempat menatap mata pemimpin Laskar Hitam secara langsung.
"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, anak muda," balas Ki Jamin dengan nada prihatin. "Dendam tidak pernah menyelamatkan siapa pun. Ia hanya menenggelamkanmu lebih dalam ke dalam lumpur."
"Aku tidak mencari keselamatan, Ki. Aku mencari keadilan yang dirampas dari orang-orang lemah seperti kau," tegas Bayu, tangannya secara refleks meraba permukaan gagang pedangnya yang dingin.
Di luar kedai, suara derap kuda semakin jelas, diikuti oleh suara hantaman keras pada pintu kayu rumah tetangga sebelah. Waktu terus berjalan, dan tujuan Bayu semakin mendesak untuk diwujudkan, dimulai dari malam ini, di tempat antah berantah di mana hukum rimba berlaku lebih kuat daripada undang-undang kerajaan.
Perjalanan panjang dari dataran tinggi menuju perbatasan selatan ini telah mengubah cara pandang Bayu terhadap dunia luar. Transisi dari seorang pemuda desa yang naif menjadi seorang pengembara tanpa nama bukanlah proses yang mudah; ia harus belajar menelan rasa lapar, menahan rasa sakit dari luka-luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, dan menyaksikan bagaimana orang-orang tak berdosa disiksa oleh keserakahan para penguasa lokal.
"Dulu, tempat ini ramai oleh pedagang rempah dari timur," Ki Jamin mencoba mencairkan suasana sambil merapikan beberapa mangkuk kosong di atas rak kayu. "Sekarang, yang tersisa hanyalah ketakutan dan debu."