Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Bayangan Masa Lalu

Kabut tebal yang turun menyelimuti Lembah Batu Hitam selalu berhasil membawa ingatan Bayu kembali pada malam paling kelam dalam hidupnya, malam di mana ia menanggalkan jubah kebesarannya sebagai murid terdepan di Perguruan Tapak Sakti. Suara desir angin malam yang menerpa pepohonan pinus terdengar persis seperti deru napas berat sang Guru Agung, Ki Reksapati, saat murka melanda aula utama perguruan tinggi bertahun-tahun silam. Bayu duduk bersila di atas batu datar yang dingin, menatap bilah pedang pusaka yang tergeletak di pangkuannya. Logam dingin itu memantulkan cahaya bulan sabit yang pucat, seolah mengejek keraguan yang sempat singgah di hatinya. Di tempat sunyi itu, jauh dari hiruk-pikuk dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah, Bayu membiarkan pikirannya mengembara menembus lorong waktu, kembali ke detik-detik menentukan yang mengubah jalan hidupnya untuk selamanya.

Malam itu, sepuluh tahun yang lalu, langit di atas Perguruan Tapak Sakti tampak membara bukan oleh senja, melainkan oleh kobaran api yang sengaja disulap oleh para pengkhianat dari dalam. Bayu, yang saat itu masih berusia belasan tahun dengan darah muda yang bergejolak, berlari kencang melewati koridor batu pualam yang basah oleh darah rekan-rekan seperguruannya. Langkah kakinya terhenti di depan gerbang aula utama ketika ia menyaksikan pemandangan yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Ki Reksapati terkapar tidak berdaya di lantai marmer, sementara di dekatnya berdiri Ki Jayaningrat, sesepuh perguruan yang selama ini ia hormati bagaikan ayah kandungnya sendiri, memegang belati berlumuran darah dengan senyum kemenangan yang mengerikan. Udara di dalam ruangan terasa begitu pekat oleh aroma amis darah dan sisa-sisa tenaga dalam yang baru saja diadu dalam bentrokan maut. Bayu terpaku, napasnya memburu, sementara matanya menatap nanar sosok guru yang telah membesarkannya terbujur kaku tanpa nyawa.

"Kau datang di saat yang tepat, Bayu," suara Ki Jayaningrat menggema di antara pilar-pilar batu yang kokoh, dingin dan tanpa belas kasihan. Bayu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, amarah yang membakar dada mendesak untuk segera dilepaskan, namun akal sehatnya masih mampu menahan diri melihat perbedaan tingkat tenaga dalam yang teramat jauh di antara mereka. "Atau kau juga ingin menyusul guru tua yang keras kepala itu ke alam baka?" lanjut Jayaningrat sambil melangkah perlahan mendekati Bayu, jubah kebesarannya berkibar diterpa angin malam yang menyusup masuk dari jendela yang pecah. Bayu tidak menjawab, ia hanya menatap tajam ke arah pria paruh baya yang telah mengkhianati sumpah perguruan demi memperebutkan Kitab Warisan Leluhur. Di dalam benaknya saat itu, tidak ada rasa takut, yang ada hanyalah tekad membara untuk suatu hari nanti menuntut balas atas kehancuran rumah kedua yang telah melindunginya sejak kecil.

"Diam bukan berarti tunduk, Jayaningrat," desis Bayu akhirnya dengan suara yang bergetar hebat, menahan gelombang emosi yang hampir meledak dari lubuk hatinya. Ki Jayaningrat tertawa kecil, sebuah tawa merendahkan yang menggema di ruang kosong tersebut sebelum akhirnya ia melesat secepat kilat untuk melancarkan serangan pemungkas. Bayu yang telah bersiap sejak detik pertama langsung mengerahkan jurus Langkah Bayangan Angin, menggeser tubuhnya ke sisi kiri tepat sepersersekian detik sebelum telapak tangan musuh menghantam dadanya. Dentuman keras akibat benturan tenaga dalam mengguncang ruangan, membuat debu berhamburan dari langit-langit aula. Memanfaatkan kelengahan sesaat akibat serangan yang meleset itu, Bayu segera membalikkan badan, melompat keluar melalui jendela kaca yang pecah, dan melarikan diri ke dalam lebatnya hutan larangan di belakang kompleks perguruan.

❖ ❖ ❖

Pelarian malam itu menjadi titik balik yang memisahkan masa kecil Bayu yang penuh kedamaian dengan kenyataan pahit dunia persilatan yang kejam. Sembari berlari di bawah hujan lebat yang tiba-tiba turun, Bayu bersumpah di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, mengucapkan ikrar suci yang akan ia pegang teguh hingga napas terakhirnya. Dengan suara serak bercampur air mata yang menyatu dengan air hujan, ia berteriak menantang langit malam, berjanji bahwa ia tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di Perguruan Tapak Sakti sebagai seorang pengecut yang melarikan diri dari takdir. Bayu juga menyumpah di hadapan pedang pusaka peninggalan gurunya bahwa ia akan mendedikasikan seluruh sisa hidupnya untuk memupuk kekuatan, mencari kebenaran, dan suatu hari nanti kembali untuk menegakkan keadilan atas kematian Ki Reksapati, atau mati dalam usaha tersebut tanpa meninggalkan penyesalan sedikit pun.

Bayangan masa lalu itu perlahan memudar seiring dengan tiupan angin lembah yang membawa kesadaran Bayu kembali ke masa kini. Ia menarik napas dalam-dalam, meresapi dinginnya udara malam yang menusuk tulang, lalu bangkit berdiri dari batu tempat ia merenung tadi. Tujuan utamanya saat ini bukanlah lagi sekadar balas dendam pribadi seperti yang ia ikrarkan di masa muda, melainkan sebuah misi yang jauh lebih besar demi keselamatan orang-orang tak berdosa di Desa Karanganyar. Ki Jayaningrat, yang kini telah menguasai sebagian besar wilayah persilatan bagian selatan melalui cara-cara kotor, mengirimkan orang-orang kepercayaannya untuk memeras penduduk desa dan merampas tanah pertanian mereka. Bayu menyadari bahwa bentrokan antara dirinya dan bayang-bayang masa lalunya tidak bisa lagi dihindari lebih lama. Ia harus menghadapi ancaman nyata di depan mata sebelum mampu menyelesaikan urusan yang belum tuntas dengan sang pengkhianat perguruan di masa lalu.

Lihat selengkapnya