Matahari sore telah lama tenggelam di balik punggung Pegunungan Argopuro, menyisakan sisa-sisa jingga pudar yang perlahan-lahan ditelan oleh pekatnya malam. Di kaki bukit sebelah utara, gerbang alam berupa dua batang pohon beringin kembar yang berakar raksasa menandai batas terluar dari Hutan Larangan. Tempat itu tidak pernah tersentuh oleh cahaya rembulan secara utuh. Kanopi pepohonan yang tumbuh rapat dan saling mengunci di atas kepala membentuk kubah alami, menghalangi setiap sinar untuk menembus tanah. Di dalam sana, suasana terasa begitu sunyi, tetapi kesunyian itu menyimpan ketegangan yang merayap lambat di setiap jengkal ruang.
Bayu berdiri tepat di garis perbatasan, menatap ke dalam lorong gelap yang tercipta oleh barisan pohon purba. Udara di tempat itu memiliki aroma yang khas dan menyesakkan—bau tanah basah yang membusuk, jamur hutan, dan belerang tipis yang menguap dari celah-celah batu vulkanik di dasar lembah. Kabut putih tipis mulai merayap naik dari permukaan tanah, melilit pergelangan kaki seperti jari-jari tak kasat mata yang mencoba menahan setiap orang yang berani melangkah masuk. Tidak ada suara burung hantu atau jangkrik; yang terdengar hanya desir angin malam yang bergesekan dengan dedaunan kering, menciptakan suara bergemerisik mirip bisikan-bisikan orang mati.
"Tempat ini benar-benar tidak wajar," gumam Bayu lirih, suaranya teredam oleh tebalnya kabut yang menyelimuti lingkungan sekitar.
Ia merapatkan jubah usangnya yang telah koyak di beberapa bagian akibat perjalanan panjang menuruni jurang sungai. Di pinggangnya, pedang warisan leluhur tergantung tenang, siap dicabut kapan saja. Bayu tahu betul reputasi Hutan Larangan. Konon, siapa pun yang masuk ke dalam wilayah itu tidak akan pernah kembali dengan akal sehat yang utuh. Tempat tersebut telah lama ditinggalkan oleh para penduduk desa sekitar dan kini beralih fungsi menjadi sarang persembunyian para pelarian hukum, pendekar aliran sesat yang buron, serta mahluk-mahluk liar yang kehilangan naluri alaminya. Namun, di balik segala kengerian itu, hutan tersebut adalah satu-satunya jalur tersembunyi yang dapat mengantarkannya langsung ke reruntuhan Candi Cakrawala tanpa harus melewati pos penjagaan ketat Perguruan Singa Putih.
Bayu menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara dingin yang menusuk dada. Ia mengangkat kaki kanannya, lalu melangkah melewati celah di antara akar beringin kembar tersebut. Begitu ia melintasi garis batas itu, suhu udara mendadak turun drastis secara drastis. Bulu kuduk di sekujur tubuhnya meremang, seolah-olah ia baru saja memasuki dimensi yang sepenuhnya terpisah dari dunia luar. Kegelapan langsung mendekapnya rapat-rapat, dan petualangan paling berbahaya di dalam hidupnya pun resmi dimulai.
"Aku harus menembus hutan ini sebelum tengah malam, atau aku akan terjebak selamanya di labirin hijau ini," ucap Bayu pada dirinya sendiri, mencoba memompa semangat di tengah kelelahan fisik yang kian mendera.
Tujuan utama Bayu memasuki Hutan Larangan bukan sekadar mencari tempat perlindungan dari kejaran pasukan Ketua Utama Perguruan Singa Putih. Di dalam kedalaman hutan purba tersebut, berdasarkan lembaran peta kuno yang ia temukan di sela-sela pakaian mendiang ayahnya, terdapat sebuah petilasan tua bernama Gua Sanggha. Di sanalah tempat penyimpanan rahasia dari sisa-sisa gulungan naskah kuno yang dapat melengkapi kepingan teka-teki mengenai siapa sebenarnya dalang di balik tragedi pembantaian Desa Karangtengah sepuluh tahun silam.
"Jangan biarkan rasa takut menguasai pikiranmu, Bayu. Ingat janji yang telah kau ikrarkan di atas pusara ayahmu," batin Bayu meneguhkan pendiriannya.
Setiap langkah yang ia ayunkan di atas tanah berlumpur dipenuhi dengan perhitungan yang cermat. Ia tidak boleh menyalakan obor karena cahaya api akan menjadi petunjuk utama bagi para pemburu bayaran atau gerombolan pelarian yang berkeliaran di dalam hutan. Ia harus mengandalkan ketajaman mata batin dan pendengaran malamnya untuk membaca arah jalan setapak yang nyaris tertutup oleh semak belukar liar.
Target perjalanannya malam ini cukup jelas: mencapai mata air batu hitam yang terletak di tengah-tengah hutan sebelum fajar menyingsing. Di tempat itulah ia bisa beristirahat sejenak memulihkan tenaga dalam sebelum melanjutkan pendakian terakhir menuju puncak bukit tempat Gua Sanggha berada. Bayu sadar bahwa tubuhnya sudah mulai kehabisan cadangan tenaga setelah berhari-hari melarikan diri tanpa makanan yang layak dan waktu tidur yang cukup. Namun, tekad baja di dalam dadanya tidak memberikan ruang sedikit pun bagi kata menyerah.
"Sebentar lagi, Ayah. Petunjuk itu akan segera berada di tanganku," bisik Bayu penuh keyakinan, sementara tangannya semakin mengeratkan genggaman pada gagang pedangnya di tengah pekatnya malam.
Semakin jauh Bayu melangkah masuk ke dalam perut Hutan Larangan, suasana di sekitarnya semakin terasa menekan dan asing. Pepohonan besar dengan batang berlumut hijau tua menjulang tinggi bagaikan raksasa bisu yang mengawasi setiap gerak-geriknya. Kabut putih yang tadinya tipis kini berubah menjadi gumpalan-gumpalan awan rendah yang merayap di antara semak-semak, membuat jarak pandang menyempit hingga tidak lebih dari tiga tombak ke depan.
Bayu menghentikan langkahnya sejenak di samping sebuah batu besar yang ditumbuhi jamur bercahaya biru kehijauan. Ia menyeka keringat yang bercampur debu di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu mengatur deru napasnya agar tidak terdengar terlalu nyaring di tengah keheningan hutan.
"Aneh sekali... Kenapa semakin ke dalam, jejak jalan setapak ini semakin hilang?" gumam Bayu pelan sambil memperhatikan permukaan tanah di bawah kakinya yang kini dipenuhi oleh akar-akar liar yang saling berbelit.
Ia menyadari bahwa dirinya telah menyimpang dari jalur yang tertera di dalam peta kunonya. Di tempat terbuka tadi, ia seharusnya berbelok tajam ke arah timur laut mengikuti alur aliran air kecil. Namun, kabut tebal dan kegelapan total telah mengecoh indra arahnya, membawanya masuk lebih dalam ke bagian hutan yang jarang terjamah oleh manusia—sebuah zona yang dalam dunia persilatan disebut sebagai Lembah Sesat.
"Apakah aku harus kembali ke belakang?" pikirnya ragu.
Namun, keputusan untuk berbalik arah di tengah malam buta seperti ini sama saja dengan membuang-buang waktu berharga. Terlebih lagi, ia bisa saja langsung berpapasan dengan rombongan pengejar dari perguruan yang mungkin sedang menyisir jalur utama. Bayu menggelengkan kepalanya perlahan, menepis keraguan yang sempat singgah di benaknya. Ia memutuskan untuk terus melangkah maju ke depan sambil meningkatkan kewaspadaannya hingga tingkat maksimal.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara gemerisik yang tidak wajar dari arah semak-semak lebat di sebelah kiri jalurnya. Suara itu begitu pelan, seperti gesekan kain kasar yang menyeret permukaan tanah basah. Bayu langsung menubrukkan tubuhnya ke balik batang pohon beringin besar, merendahkan posisinya, dan menahan napasnya rapat-rapat. Matanya menatap tajam ke arah bayangan gelap yang perlahan-lahan bergerak di balik kabut tebal.
"Siapa di sana?" suara berat dan serak tiba-tiba memecah keheningan malam, datang dari arah sosok yang baru saja muncul dari balik semak belukar.
Bayu tidak menjawab. Ia tetap bergeming di balik perlindungan batang pohon, mencengkeram erat pedangnya. Dari balik kabut, muncullah sesosok pria berbadan tegap dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai liar menutupi sebagian wajahnya. Pria itu mengenakan pakaian kulit binatang yang sudah kusam dan kotor, dengan bekas luka besar melintang dari pelipis kiri hingga ke ujung dagunya. Di tangan kanannya, ia menyeret sebilah golok bermata lebar yang berlumuran noda kehitaman—tanda jelas bahwa pemilik golok itu baru saja melakukan tindakan kekerasan.