
Malam merayap turun di atas dataran tandus Pegunungan Batu Hitam, membawa serta angin dingin yang mengikis sisa-sisa kehangatan dari permukaan bumi. Langit tertutup oleh awan kelabu yang tebal, tanpa satu pun bintang yang sudi menampakkan diri untuk menemani kesunyian Bayu di sela-sela perjalanannya. Di bawah naungan sebuah pohon tua yang batangnya telah menghitam tersambar petir, Bayu duduk bersila di atas batu pipih sambil memandangi bilah pedangnya yang memantulkan cahaya samar dari sisa-sisa bara api unggun kecil. Suara serangga malam berpadu dengan deru angin yang bergesekan dengan bebatuan cadas, menciptakan melodi sunyi yang sudah sangat akrab di telinganya selama berminggu-minggu meninggalkan dunia persilatan arus utama. Pukul delapan malam baru saja berlalu, ditandai oleh suara burung hantu yang melengking panjang di kejauhan, membelah keheningan yang mencekam. Bayu merapatkan jubah abu-upunya yang mulai usang, mencoba menepis hawa dingin yang merasuk hingga ke tulang. Di tempat terpencil ini, jauh dari hiruk-pikuk perebutan kekuasaan mazhab besar, ia mengira bisa menemukan ketenangan batin yang selama ini ia cari. Namun, ketenangan itu mendadak terusik ketika telinganya yang tajam menangkap suara derap kaki buru-buru dan napas terengah-engah yang memecah keheningan hutan di sebelah barat. Bayu tidak langsung bergerak; ia tetap mempertahankan posisinya, membiarkan indranya bekerja untuk menilai situasi yang sedang mendekat ke arah tempat peristirahatannya.
"Siapa di sana?" gerutu Bayu pelan pada dirinya sendiri, jemarinya secara refleks mencengkeram erat gagang pedang di sisi pinggangnya.
"Tolong... kumohon, selamatkan aku!" sebuah suara lirih bergetar ketakutan terdengar memecah semak-semak belukar, disusul oleh suara ranting patah yang diinjak dengan terburu-buru.
Bayu bangkit berdiri dalam satu gerakan halus, matanya menatap tajam ke arah kegelapan di balik rimbunnya pohon pinus. Dari balik bayang-bayang pepohonan, sesosok tubuh kecil berlari terhuyung-huyung ke arahnya, mengenakan jubah berkerudung merah terang yang kontras dengan warna suram malam itu. Gadis tersebut hampir saja tersandung akar pohon yang melintang di tanah jika Bayu tidak dengan cepat melangkah maju dan menangkap lengan mungilnya untuk menopang keseimbangannya. Napas gadis itu memburu hebat, dadanya naik-turun dengan cepat, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat seolah ia baru saja lolos dari cengkeraman maut yang mengerikan. Bayu dapat mencium bau samar darah dan debu pekat dari jubah merah yang dikenakan oleh gadis misterius tersebut. Belum sempat Bayu melontarkan pertanyaan untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi, suara derap kaki lain yang jauh lebih berat dan teratur mulai terdengar mendekat dengan kecepatan tinggi, menggetarkan tanah di sekitar mereka.
"Mereka... mereka datang," bisik gadis berkerudung merah itu dengan suara tercekat, mencengkeram erat ujung jubah Bayu seolah-olah pendekar itu adalah satu-satunya benteng pertahanan terakhir di dunia yang kejam ini.
"Tetaplah di belakangku dan jangan bersuara," perintah Bayu dengan nada datar namun penuh wibawa, matanya tidak pernah lepas dari kegelapan malam di hadapan mereka.
❖ ❖ ❖
Tujuan Bayu malam itu sebenarnya sangat sederhana: beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan panjang menyeberangi lembah menuju perbatasan barat. Namun, kemunculan gadis berkerudung merah ini mengubah segalanya dalam sekejap mata. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, prinsip lamanya sebagai seorang pendekar yang pernah bersumpah untuk menutup mata dari penderitaan orang lain berbenturan keras dengan nuraninya yang kini telah hancur dan ingin ditebus kembali. Bayu tahu persis, terlibat dalam urusan orang lain di tempat terpencil seperti ini hanya akan menarik perhatian para pemburu bayaran atau sisa-sisa anggota mazhab yang mungkin masih memburunya sebagai buronan kelas kakap. Kendati demikian, melihat ketakutan yang begitu nyata di sepasang mata gadis di belakangnya, Bayu menetapkan satu tujuan baru yang tidak tertulis: ia tidak akan membiarkan gadis tak berdosa itu dibunuh di hadapannya, terlepas dari seberapa besar risiko yang harus ia tanggung setelahnya. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa pedang yang ia miliki kini tidak lagi digunakan untuk menumpas orang-orang lemah atas nama ambisi, melainkan untuk melindungi mereka yang teraniaya.
"Kenapa kau mengejarnya? Apa yang mereka inginkan darimu?" tanya Bayu tanpa menoleh ke belakang, suaranya tenang namun mengalirkan gelombang tenaga dalam yang menenangkan kepanikan gadis itu.
"Mereka... mereka mengincar liontin giok yang ada di dalam kantong jubahku," jawab gadis itu dengan suara terisak pelan, jemarinya yang gemetar meraba saku bagian dalam jubah merahnya. "Liontin itu adalah pusaka peninggalan terakhir keluargaku yang dibantai oleh Pasukan Bayangan Hitam semalam."
Bayu mengerutkan keningnya mendengar nama kelompok tersebut. Pasukan Bayangan Hitam adalah kelompok pembunuh bayaran legendaris yang terkenal kejam dan tidak pernah meninggalkan saksi hidup dalam setiap misi pembantaian yang mereka lakukan. Fakta bahwa kelompok ini turun tangan secara langsung untuk mengejar seorang gadis muda menandakan bahwa liontin giok yang ia bawa bukan sembarang pusaka, melainkan sebuah kunci rahasia besar yang sangat bernilai tinggi di dunia persilatan. Bayu menyadari bahwa musuh yang sedang mendekat bukanlah prajurit eceran atau pendekar rendahan yang bisa dikalahkan dengan mudah hanya dengan tebasan pedang biasa. Mereka adalah para pembunuh profesional yang terlatih khusus untuk membunuh dalam kegelapan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
"Kau membawa benda yang sangat berbahaya, gadis muda," ujar Bayu serius sambil melangkah setengah langkah ke depan, menempatkan dirinya secara sempurna di antara gadis itu dan jalur kedatangan para mengejar. "Jika benda itu jatuh ke tangan mereka, bukan hanya nyawamu yang melayang, but seluruh rahasia di balik pembantaian keluargamu akan terkubur selamanya."
Gadis berkerudung merah itu mengangkat kepalanya, menampakkan sepasang mata jernih yang bersinar di bawah bayangan kerudungnya. "Aku tidak peduli dengan rahasia itu! Aku hanya ingin hidup... kumohon, lindungi aku, Tuan."
"Mundur sepuluh langkah ke belakang pohon itu," kata Bayu tegas, sementara tangannya perlahan-lahan mulai melonggarkan ikatan pedang di pinggangnya. "Dan tutup matamu jika kau tidak sanggup melihat darah."
❖ ❖ ❖
Transisi dari suasana malam yang tenang menjadi medan pertempuran yang mematikan terjadi dalam hitungan detik ketika udara di sekitar mereka mendadak berubah menjadi dingin membeku. Bayu merasakan perubahan tekanan chi di sekitarnya, sebuah tanda pasti bahwa para pembunuh bayangan telah mengepung posisi mereka dari segala penjuru mata angin. Dari balik kegelapan hutan pinus, bayangan-bayang hitam pekat bergerak laksana hantu di antara batang-batang pohon, meluncur tanpa suara dengan kecepatan yang mencengangkan. Bayu menarik napas dalam-dalam, memusatkan seluruh konsentrasinya ke telapak tangan dan ujung pedangnya, sementara gadis berkerudung merah menuruti perintahnya dengan mundur ketakutan ke balik batang pohon besar sambil menutup mulutnya rapat-rapat untuk meredam isak tangisnya. Suasana di tempat itu berubah menjadi hening yang menakutkan, sebuah ketenangan sebelum badai pembunuhan menerjang tanpa ampun. Bayu berdiri tegak bagaikan patung batu di tengah lapangan kecil tersebut, menantikan kemunculan musuh pertama yang berani menampakkan diri.
"Keluar kalian dari persembunyian! Tidak ada gunanya bermain kucing-kucingan di hadapanku," seru Bayu lantang, suaranya menggema memecah kesunyian malam dan menggetarkan dedaunan pohon pinus.