
Malam telah merayap turun dengan anggun, menelan sisa-sisa cahaya senja keemasan yang tadinya berpendar di ufuk barat. Di sebuah kedai teh tua yang terletak di ujung distrik Pelabuhan Banyu Biru, suasana terasa begitu sunyi, hampir kontras dengan gemuruh ombak Selat Sunda yang menghantam karang-karang karam di kejauhan. Waktu menunjukkan pukul delapan malam lewat seperempat. Angin laut berembus kencang, membawa aroma garam, amis ikan, dan bau khas kayu basah yang meresap ke dalam pori-pori dinding papan bangunan tersebut. Lentera kertas merah yang digantung di teras kedai berayun liar ke kiri dan ke kanan, memancarkan cahaya temaram yang menciptakan bayangan panjang menari-nari di atas lantai papan yang sudah lapuk.
Di dalam kedai yang hampir kosong itu, aroma daun teh melati bercampur dengan wangi tembakau murah yang dibakar oleh segelintir nelayan pesisir. Hanya ada satu meja di dekat jendela sudut yang masih berpenghuni. Di meja bundar dari kayu jati kusam itu, duduk seorang pria berjas hujan usang yang basah oleh sisa gerimis malam. Di hadapannya, duduk seorang sosok misterius yang mengenakan tudung jubah tebal berwarna hitam legam. Tudung itu ditarik begitu rendah hingga wajah sang pemakai tertutup sepenuhnya oleh bayangan kelam, menyisakan hanya siluet dagu yang halus dan sepasang tangan ramping yang melingkar tenang di atas cangkir porselen retak.
"Malam ini angin laut bertiup sangat kejam, Nona," ucap Arya memecah keheningan, suaranya parau seraya menatap lurus ke arah sosok di hadapannya. "Kau memilih tempat yang sempurna untuk menyembunyikan diri dari keramaian kota."
Sosok berkerudung itu tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkirnya perlahan, menyesap teh hangat itu dengan anggun sebelum meletakkannya kembali ke atas meja tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Gerakannya begitu tenang, memancarkan aura ketenangan yang tidak biasa dimiliki oleh orang-orang kebanyakan yang singgah di pelabuhan kumuh ini. Di luar, suara deru ombak terdengar semakin keras, seolah alam sedang bersiap menyambut badai besar yang akan segera menghantam daratan.
"Keramaian kota sering kali menyimpan lebih banyak mata-mata daripada hutan belantara, Pendekar Arya," jawab gadis itu akhirnya. Suaranya terdengar lembut, jernih, namun menyimpan ketegasan yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa harus berhati-hati dalam memilih kata. "Dan aku tidak sedang bersembunyi. Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat."
Arya menyipitkan matanya, mengamati setiap detail kecil dari wanita misterius yang telah dua hari ini memancing rasa penasarannya. Pertemuan mereka bukanlah kebetulan; surat anonim yang ia terima di penginapan tadi sore membimbingnya langsung ke sudut terpencil Pelabuhan Banyu Biru ini. Namun, hingga detik ini, identitas asli gadis di hadapannya tetap menjadi teka-teki yang terkunci rapat di balik jubah tebal dan rahasia malam yang pekat.
Tujuan Arya mendatangi kedai tua di pelabuhan ini sangatlah jelas: ia harus mengungkap siapa dalang di balik pergerakan misterius kelompok bayaran yang terus memburunya, dan satu-satunya kunci yang tersisa berada di tangan gadis berkerudung hitam ini. Selama sepekan terakhir, semenjak pertempuran sengit di lereng bukit, nama Sekar—atau setidaknya nama panggilan yang ia berikan—terus berembus di antara para pedagang gelap dan pendekar bayaran.
"Kau memintaku datang ke tempat terkutuk ini, Nona," kata Arya dengan nada serius, jemarinya mengetuk pelan permukaan meja kayu. "Kau menjanjikan informasi penting mengenai lambang bulan sabit merah dan dalang yang mencuri Kitab Pusaka Naga Langit. Sekarang aku di sini. Buka tudungmu, katakan siapa kau sebenarnya, dan apa kepentinganmu dalam kekacauan dunia persilatan ini."
Gadis bernama Sekar itu mendongak sedikit, meski bayangan tudungnya masih menutupi sebagian besar wajahnya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang nyaris tak terlihat di balik remangnya cahaya lentera.
"Identitas adalah rantai pengekang, Pendekar Arya. Untuk apa kau bersikeras mengetahui nama asliku atau dari perguruan mana aku berasal?" balas Sekar dengan nada tenang, jemarinya memainkan ujung cangkir porselen. "Yang terpenting bukanlah siapa diriku, melainkan apa yang kubawa untukmu. Dunia persilatan sedang menuju kehancuran total, dan pertikaian yang kau hadapi sekarang hanyalah riak kecil dari badai besar yang sedang disiapkan oleh para penguasa bayangan."
Arya menggelengkan kepala pelan, tidak mudah terpancing oleh kata-kata manis. "Aku tidak bisa mempercayai seseorang yang menyembunyikan wajahnya di balik bayangan, Sekar. Bagaimana aku tahu bahwa informasi yang kauberikan bukan sekadar jebakan untuk membunuhku?"
"Jika aku ingin membunuhmu, aku tidak perlu repot-repot mengirim surat dan memintamu menyeberang pelabuhan di tengah malam badai seperti ini," sanggah Sekar cepat, tatapannya menembus kegelapan tudung, seolah menatap tajam tepat ke dalam mata Arya. "Tujuanku sama sepertimu: menghentikan pertumpahan darah yang tidak berguna ini. Tapi cara kita mencapainya berbeda. Kau mengandalkan pedang dan kekuatan fisik, sementara aku mengandalkan kebenaran yang terkubur."
Arya terdiam. Tujuan utamanya memang mencari jawaban, namun sikap keras kepala Sekar justru membuatnya semakin penasaran. Di balik penolakan gadis itu untuk membuka identitasnya, tersimpan sebuah rahasia besar yang sengaja dijaga dengan pertaruhan nyawa. Pertarungan batin antara rasa curiga dan kebutuhan mendesak akan informasi membuat suasana di antara mereka semakin menegang, diiringi oleh deru angin malam yang semakin beringas di luar dinding kedai.
Suasana tegang di meja sudut itu mendadak terganggu ketika pintu depan kedai berderit keras didorong oleh terpaan angin laut yang semakin kencang. Pemilik kedai, seorang lelaki tua bertubuh bungkuk, segera bergegas menutup pintu kayu tersebut dan menguncinya rapat-rapat dari dalam, lalu menyalakan lampu minyak tambahan di dekat meja kasir.
"Malam ini badai benar-benar mengamuk di luar," gumam pemilik kedai cemas sambil melirik sekilas ke arah meja Arya dan Sekar, sebelum kembali sibuk membereskan botol-botol kosong.
Transisi suasana dari percakapan privat yang tenang menuju ketegangan luar biasa terjadi dalam hitungan detik. Di luar kedai, suara gemuruh guntur bergemuruh susul-menyusul, memecah langit malam yang pekat. Kilatan petir menyambar sesaat, memantulkan cahaya putih terang melalui kaca jendela yang berdebu, menyoroti bayangan dua orang asing berbadan tegap yang tiba-tiba berdiri di teras kedai, berteduh dari amukan cuaca buruk.
Arya melirik sekilas ke arah jendela, matanya menyipit saat melihat lencana kecil berbentuk bulan sabit merah yang tersemat di kerah jubah kedua orang asing tersebut. Mereka adalah anggota Sekte Darah Merah. Informasi kedatangan Arya sepertinya telah bocor, atau jejak mereka memang telah diikuti sejak memasuki kawasan pelabuhan.
"Sepertinya tamu tak diundang kita sudah datang," bisik Arya tajam, tangannya secara naluriah bergerak mendekati gagang pedang yang bersandar di sisi bangkunya.
Sekar tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan sedikit pun. Ia bahkan kembali menyesap sisa tehnya dengan tenang, seolah kehadiran para pembunuh bayaran di luar sana adalah hal biasa yang sudah sering ia saksikan.
"Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraanku," ucap Sekar pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara deru ombak. "Kau melihatnya, Arya? Rantai takdir tidak akan pernah membiarkanmu pergi begitu saja sebelum kau memilih jalan yang benar."
Arya berdiri perlahan dari bangkunya, tubuhnya siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Transisi dari perundingan rahasia menjadi konfrontasi fisik kini tidak dapat dielakkan lagi. Pintu kedai digedor keras dari luar, diiringi suara tawa parau yang mengerikan, menuntut agar pemilik kedai segera membukakan pintu.
"Buka pintunya atau kami robohkan bangunan tua ini!" teriak suara berat dari luar, menggema di dalam ruangan kecil tersebut dan membuat pemilik kedai gemetar ketakutan di sudut ruangan.
Geduman keras pada pintu kayu kedai semakin menjadi-jadi. Pemilik kedai yang ketakutan setengah mati berlari ke belakang meja kasir, meringkuk sambil menutup telinganya. Arya melangkah maju menempatkan diri di dekat pintu, bersiap menyambut siapapun yang berani merangsek masuk ke dalam ruangan.