Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Kuil Tua yang Runtuh

"Langit malam ini benar-benar tidak bersahabat, Sekar. Jika kita terus memaksa menerobos badai di tengah hutan belantara ini, bukan musuh yang akan menghabisi kita, melainkan hipotermia," gerutu Jaka sambil mengeratkan mantel bulunya yang basah kuyup, sementara air hujan terus menetes dari ujung rambutnya yang acak-acakan.

Sekar menghentikan langkah kudanya sejenak, menyeka cipratan air hujan di wajahnya dengan punggung tangan, lalu menatap tajam ke arah kegelapan di balik barisan pohon raksasa. "Kita tidak punya pilihan lain, Jaka. Jejak para pengikut Sekte Bayangan Hitam semakin dekat, dan tempat terbuka seperti ini adalah sasaran empuk untuk disergap."

"Tapi setidaknya kita butuh tempat berteduh, bukan kuburan massal berjalan," balas Jaka dengan nada setengah protes, meski ia tetap mengikuti arah pandangan Sekar yang menembus tirai air hujan yang begitu pekat.

"Di peta kuno milik gurumu, apakah ada tanda-tanda bangunan atau tempat perlindungan di sekitar lembah ini?" tanya Sekar sambil menuntun kudanya perlahan menapaki tanah yang licin dan dipenuhi lumpur.

Jaka merogoh kantong jubah dalamnya dengan tangan yang sedikit gemetar karena kedinginan, lalu mengeluarkan gulungan kulit domba yang mulai basah. "Sebentar... ah, ini dia. Konon, di balik bukit batu sebelah timur ada sebuah kuil tua peninggalan zaman kerajaan dulu. Tapi warga setempat bilang tempat itu sudah lama dikutuk dan ditinggalkan."

"Kutukan atau tidak, kuil itu jauh lebih baik daripada tidur di bawah pohon tersambar petir," kata Sekar mantap, memutuskan untuk segera mengarahkan kudanya ke jalur setapak yang menanjak ke arah bukit batu yang dimaksud oleh Jaka.

"Tujuan kita malam ini hanya satu: bertahan hidup sampai fajar menyingsing, lalu mencari jalan tembus menuju perbatasan barat sebelum kelompok pengejar menemukan persembunyian kita," ucap Sekar tegas begitu mereka berhasil merangsek masuk ke dalam pelataran kuil tua yang terlindung dari terjangan angin kencang.

Jaka merebahkan tubuhnya yang kelelahan di dekat pilar batu yang setengah runtuh, mengembuskan napas panjang penuh kelegaan. "Mudah diucapkan, Sekar. Tapi perutku sudah bergemuruh sejak sore tadi, dan perbekalan kita nyaris habis tak tersisa."

"Fokuslah pada keselamatan kita terlebih dahulu, urusan makanan bisa kita cari besok pagi setelah badai reda," sahut Sekar sambil melangkah mendekati altar utama kuil yang dipenuhi debu tebal dan sarang laba-laba raksasa.

"Kau tidak takut tempat ini benar-benar berhantu? Lihat saja arca-arca di sudut sana, wajahnya tampak mengerikan dalam temaram cahaya kilat," bisik Jaka sambil melirik waspada ke arah sudut ruangan yang gelap gulita.

❖ ❖ ❖

Sekar menggelengkan kepalanya pelan, mengabaikan kecemasan sahabatnya itu karena perhatiannya justru terpaku pada sesuatu yang berkilau samar di balik tumpukan reruntuhan batu di dinding sebelah utara altar. "Kesampingkan rasa takutmu yang tidak beralasan itu, Jaka, dan kemarilah sebentar. Bantu aku menyingkirkan puing-puing batu ini."

"Ada apa? Jangan bilang kau menemukan harta karun di tengah reruntuhan bangunan tua seperti ini," seru Jaka penasaran, langsung bangkit dari duduknya dan bergegas menghampiri Sekar untuk membantu menggeser batu-batu besar.

Suasana di dalam kuil mendadak terasa semakin sunyi, hanya diselingi oleh suara gemuruh guntur di luar dan deru napas mereka berdua yang memburu.

"Kau merasa aneh tidak, Sekar? Semakin dalam kita membersihkan dinding itu, udara di sekitar sini rasanya semakin dingin menusuk tulang," ujar Jaka dengan suara berbisik, sementara bulu kuduknya berdiri.

"Itu karena bangunan ini terbuat dari batu andesit tua yang menyerap kelembapan malam, Jaka. Jangan biarkan imajinasimu menguasai pikiranmu," jawab Sekar, meski ia sendiri mulai merasakan kejanggalan pada atmosfer ruangan tersebut.

"Tapi tetap saja, rasanya seperti ada sepasang mata yang sedang mengawasi gerak-gerik kita dari balik kegelapan lorong kuil di sebelah sana," gumam Jaka sambil menatap gelisah ke arah koridor gelap yang mengarah ke bagian dalam kuil.

Lihat selengkapnya