Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Pelabuhan Angin Ribut

Matahari baru saja naik sepenggalah ketika Bayu menjejakkan kakinya di tepian dermaga kayu Pelabuhan Angin Ribut. Kota pelabuhan di pesisir selatan Nusantara ini tidak pernah tidur, selalu berdenyut dalam ritme yang kasar, keras, dan penuh peluh. Bau asin air laut berpadu pekat dengan aroma rempah-rempah dagangan, ikan segar, serta asap batu bara dari dapur-dapur kapal niaga yang bersandar berjejer. Di kejauhan, tiang-tiang pancang layar kapal pinisi tampak menjulang tinggi seperti hutan kerangka baja yang membelah langit biru cerah. Gelombang laut selatan menghantam lambung dermaga dengan suara bergemuruh konstan, menciptakan cipratan buih putih yang membasahi papan-papan kayu tua tempat ribuan kuli angkut berlalu-lalang mengais rezeki.

Suasana di kawasan pelabuhan itu begitu riuh dan hiruk-pikuk. Teriakan para kapten kapal yang memberi komando kepada anak buahnya bersahut-sahutan dengan tawar-menawar harga barang dagangan antara para saudagar kaya dari seberang lautan dan para pedagang lokal. Namun, di balik keramaian permukaan yang tampak semarak itu, tersimpan atmosfer kelam yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang terbiasa hidup di dunia pinggiran hukum. Pelabuhan Angin Ribut terkenal sebagai sarang para penyelundup, tempat bermuaranya barang-barang gelap, sindikat perdagangan rempah ilegal, dan pelarian dari berbagai penjuru kerajaan yang mencari perlindungan di balik bayang-bayang kesibukan pelabuhan.

Bayu merapatkan tudung jubah usangnya untuk menyembunyikan wajahnya dari sorot mata orang-orang yang berlalu-lalang. Di pundaknya, bungkusan kain berisi pedang warisan leluhur tergantung erat. Napasnya terasa berat, bukan hanya karena kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang berhari-hari melintasi bukit dan lembah, melainkan juga karena ketegangan yang merayap di dalam dadanya. Kota besar ini adalah tempat yang asing dan berbahaya baginya; setiap sudut jalan, setiap kedai remang-remang di tepi pelabuhan, bisa jadi menyimpan mata-mata yang disebar oleh Perguruan Singa Putih atau jaringan sindikat gelap yang memburu kepalanya.

"Tempat ini benar-benar sarang penyamun," bisik Bayu pelan pada dirinya sendiri, matanya mengawasi gerak-gerik beberapa orang bertubuh kekar yang berdiri di ambang pintu sebuah gudang logistik besar sambil mengawasi setiap orang asing yang lewat.

Ia melangkah pelan, menjaga agar langkah kakinya tetap ringan dan tidak mencolok di antara kerumunan buruh pelabuhan yang memikul karung-karung goni berat. Tujuan utamanya datang ke tempat kumuh dan berbahaya ini bukanlah untuk menikmati pemandangan laut, melainkan untuk mencari satu-satunya celah melarikan diri keluar dari daratan utama pulau tersebut sebelum pasukan pengejar menemukannya.

"Aku harus mendapatkan tiket tumpangan di kapal kargo malam ini juga menuju Kepulauan Seberang," gumam Bayu penuh tekad, melangkah menyusuri lorong sempit di antara deretan bangunan gudang tua yang berbau amis.

Tujuan Bayu mendatangi Pelabuhan Angin Ribut sangatlah spesifik. Berdasarkan petunjuk samar yang ia dapatkan dari seorang petapa tua di lereng gunung sebelumnya, satu-satunya jalur yang aman untuk menghilangkan jejak pelariannya dari kejaran Ketua Utama Perguruan Singa Putih adalah menyeberangi Selat Selatan menuju Kepulauan Rempah. Di sana, hukum perguruan tidak memiliki yurisdiksi, dan ia bisa memiliki waktu luang untuk mempelajari sisa lembaran naskah kuno Kitab Warisan Cakrawala yang selama ini ia jaga dengan nyawanya.

Namun, untuk bisa naik ke kapal kargo gelap tanpa pas pelabuhan resmi bukanlah perkara mudah. Bayu tidak memiliki uang emas atau keping perak yang cukup untuk menyuap para nakhoda kapal penyelundup. Ia hanya mengandalkan keberanian, sisa perbekalan seadanya, serta kemampuan bela dirinya jika sewaktu-waktu situasi berubah menjadi buntu.

"Hei, anak muda! Jangan berjalan sambil melamun di sini kalau tidak ingin kepalamu terinjak gerobak muatan!" bentak seorang pengawas buruh berbadan gempal yang melintas sambil menarik gerobak sarat kayu balok.

Bayu segera menghindar ke samping, mengangguk singkat tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk menghindari keributan yang tidak perlu. Ia tahu betul bahwa menarik perhatian di tempat umum seperti ini adalah tindakan bodoh. Fokusnya kini tertuju pada sebuah kedai remang-remang di ujung dermaga barat yang bernama Kedai Jangkar Karam—tempat berkumpulnya para pelaut bayaran, penyelundup rempah, dan orang-orang buangan yang biasa memperjualbelikan informasi rahasia.

"Di kedai itulah aku harus mencari orang bernama Ki Janggut," batin Bayu mengingat-ngingat deskripsi yang diberikan oleh sang petapa tua. "Hanya dia satu-satunya orang yang bisa mengatur penyelundupanku ke kapal malam."

Bayu mempercepat langkahnya, menembus teriknya matahari siang yang mulai membakar kulit. Setiap detik sangat berharga baginya. Ia sadar betul bahwa waktu terus berjalan, dan para pembunuh bayaran dari perguruan mungkin sudah mencium jejak pelariannya hingga ke gerbang kota pelabuhan ini.

Semakin jauh Bayu berjalan mendekati kawasan dermaga barat, suasana di sekitarnya semakin terasa sepi dari aktivitas perdagangan legal. Bangunan-bangunan gudang digantikan oleh barak-barak kayu reyot yang berdiri di atas tiang-tiang pancang di atas air laut pasang. Bau belerang dan minyak tanah bercampur dengan bau busuk sampah ikan yang dibiarkan menumpuk di sela-sela jembatan kayu. Orang-orang yang berkeliaran di sekitar tempat itu tampak jauh lebih mencurigakan; kebanyakan dari mereka mengenakan pakaian compang-camping dengan bekas luka sayatan senjata tajam di wajah atau lengan mereka, memancarkan aura kekerasan yang kental.

Bayu menghentikan langkahnya sejenak di balik bayang-bayang sebuah tiang penyangga jembatan besar. Ia mengatur deru napasnya, menyeka peluh yang mengalir di dahinya, lalu mengamati bangunan kayu berlantai dua yang berdiri tepat di ujung dermaga. Papan nama tua berukir gambar jangkar berkarat tergantung miring di atas pintu masuknya, bertuliskan Kedai Jangkar Karam dengan cat hitam yang sudah mulai mengelupas.

Dari dalam kedai tersebut, terdengar suara tawa kasar, alunan musik petik tradisional yang sumbang, serta suara dentingan gelas tempurung kelapa yang saling beradu. Asap tembakau yang pekat mengepul keluar dari celah-celah dinding kayu yang renggang, menciptakan kabut tipis di sekitar teras kedai.

"Tempat ini benar-benar sarang penjahat kelas kakap," gumam Bayu pelan, meraba gagang pedangnya di balik punggung untuk memastikan senjatanya itu siap ditarik kapan saja jika terjadi hal-hal di luar dugaan.

Ia tahu, memasuki tempat seperti itu sama artinya dengan menyerahkan diri ke sarang macan. Sedikit saja ia salah bicara atau memperlihatkan gelagat mencurigakan, puluhan penjahat berandalan yang ada di dalam bisa langsung mengeroyoknya tanpa ampun. Namun, tidak ada pilihan lain. Informasi mengenai kapal penyelundup hanya bisa didapatkan di tempat-tempat kotor seperti itu.

Bayu menarik napas dalam-dalam, meneguhkan tekad di dadanya, lalu melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berjalan mantap menaiki tangga kayu lapuk menuju pintu utama kedai, mendorong daun pintu yang berderit nyaring, dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang remang-remang dan penuh asap.

Begitu Bayu melangkah masuk, suasana bising di dalam kedai seolah mereda sejenak. Puluhan pasang mata dari para pengunjung yang duduk di meja-meja kayu kusam langsung menoleh ke arahnya, mengamati sosok pemuda berwajah asing dengan pakaian jubah usang yang berdiri di dekat pintu. Tatapan mata mereka penuh dengan kecurigaan, penilaian, dan seringai meremehkan.

Bayu mengabaikan pandangan-pandangan menusuk itu. Ia tetap berjalan tenang, melangkah menuju sebuah meja kosong di sudut ruangan yang agak gelap, lalu duduk dengan punggung bersandar ke dinding agar ia bisa mengawasi seluruh penjuru ruangan.

Lihat selengkapnya