
Matahari sore baru saja merosot di ufuk barat Pelabuhan Karang Anget, menyisakan bias jingga kemerahan yang memantul di atas permukaan air laut yang bergolak. Pelabuhan itu tampak sibuk, dipenuhi oleh para buruh pelabuhan yang lalu-lalang memikul karpet barang dagangan, pedagang rempah-rempah yang berteriak menawarkan harga, serta bau asin air laut yang bercampur dengan aroma ikan segar dan debu pelabuhan. Di antara kerumunan manusia yang padat tersebut, Bayu berdiri diam di balik bayangan tiang dermaga kayu yang sudah lapuk, mengenakan jubah abu-abu kusam dengan tudung kepala yang ditarik rendah untuk menutupi wajahnya. Di sampingnya, gadis berkerudung merah merapatkan genggamannya pada ujung jubah Bayu, matanya mengawasi waspada setiap gerak-gerik orang asing yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Waktu menunjukkan pukul lima sore lewat seperempat, ditandai oleh suara dentang lonceng perunggu besar dari menara pengawas pelabuhan yang berdentang berat, mengisyaratkan bahwa gerbang pelabuhan utama akan segera ditutup bagi para pendatang gelap. Bayu menarik napas dalam-dalam, merasakan hawa lembap angin laut yang membawa ancaman tak kasat mata, menyadari bahwa pelarian mereka melalui jalur darat sudah terlalu berbahaya dan satu-satunya jalan keluar untuk meninggalkan wilayah kekuasaan mazhab besar adalah dengan menyeberangi lautan lepas menggunakan kapal dagang.
"Apakah kita benar-benar akan naik ke kapal itu, Tuan?" bisik gadis berkerudung merah itu dengan suara bergetar, menunjuk ke arah sebuah kapal layar raksasa berwarna hitam legam yang berlabuh paling ujung di dermaga terdalam.
"Itu satu-satunya kapal yang dijadwalkan berlayar ke seberang samudra malam ini sebelum badai musim timur menghantam pelabuhan," jawab Bayu tenang, matanya menatap tajam ke arah lambung kapal hitam yang tampak megah sekaligus mengerikan di bawah temaram senja. "Kita tidak punya pilihan lain. Pasukan Mazhab Naga Hitam pasti sedang menyisir seluruh penginapan di daratan."
Gadis itu menelan ludah dengan susah payah, mengangguk patuh meskipun perasaan tidak enak bergemuruh di dadanya. Kapal layar hitam itu memang terlihat sangat kontras dibandingkan dengan kapal-kapal dagang lainnya yang dicat cerah dengan hiasan bendera kerajaan; lambungnya terbuat dari kayu jati tua berwarna hitam pekat tanpa satupun atribut dagang yang lazim, dan para ABK yang mondar-mandir di atas geladak mengenakan pakaian serba hitam dengan lambang belati bersilang di dada mereka. Bayu menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada kapal tersebut, namun keterdesakan waktu dan kejaran musuh di daratan membuatnya mengabaikan insting pertamanya. Dengan langkah hati-hati, Bayu merangkul pundak gadis di sampingnya, membimbingnya melangkah meniti titian papan kayu tipis yang menghubungkan dermaga utama dengan geladak kapal layar hitam yang mulai bersiap mengangkat sauh.
"Tunjukkan tanda pengenal atau tiket jalan kalian!" seru seorang pengawas kapal berbadan tegap dengan bekas luka sayatan melintang di pipi kanannya, menghadang jalan mereka tepat di ujung papan titian.
"Kami adalah pedagang rempah yang tertinggal rombongan, Tuan. Ini uang tumpangan kami," ujar Bayu datar sambil menyelipkan sekeping koin emas murni ke dalam telapak tangan pengawas tersebut dengan gerakan cepat yang tidak menarik perhatian orang lain di sekitar mereka.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Bayu menaiki kapal layar hitam tersebut bukanlah sekadar mencari tumpangan pelarian biasa, melainkan demi mencapai Kepulauan Seribu Bayang di seberang lautan—tempat di mana ia berencana menyembunyikan gadis berkerudung merah dan mencari petunjuk lanjutan tentang sisa gulungan Kitab Sembilan Mata Air. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Bayu bertekad untuk menuntaskan pelarian ini dengan aman, mengantar gadis tersebut kepada keluarganya yang tersisa di pulau seberang, lalu memutus seluruh hubungan dengan dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah. Namun, untuk mencapai tujuan itu, ia harus bisa bertahan di atas kapal asing yang sejak detik pertama menginjakkan kaki di geladaknya sudah memancarkan aura permusuhan yang pekat. Bayu mengedarkan pandangannya secara diam-diam ke seluruh sudut dek kapal; para awak kapal tidak terlihat seperti pelaut biasa yang gemar bersenda gurau, melainkan para pendekar aliran sesat yang menyembunyikan senjata di balik jubah longgar mereka, bergerak dalam koordinasi diam yang sangat disiplin dan mematikan.
"Kita harus tetap berada di dek bawah dan jangan pernah keluar kamar tanpa seizinku," bisik Bayu kepada gadis berkerudung merah saat mereka digiring oleh seorang kelasi menuju sebuah kabin sempit di lambung kapal bagian bawah.
"Tempat ini bau amis dan terasa sangat menyesakkan, Tuan. Aku takut," keluh gadis itu sambil memeluk lututnya di atas ranjang kayu yang reot di dalam kamar sempit yang hanya diterangi oleh sebatang lilin kecil bergoyang.
"Tahanlah sebentar lagi. Begitu kapal ini berada di tengah lautan lepas, kita akan lebih aman dari kejaran pasukan darat," balas Bayu menenangkan, meskipun di dalam hatinya sendiri keraguan mulai merayap naik seiring dengan suara derit kayu lambung kapal yang diterpa ombak sore.
Ia memeriksa kunci pintu kabin dari dalam, memastikan bilah pedangnya terselip rapi di samping tempat tidurnya, lalu duduk bersila di lantai kayu untuk mengatur aliran tenaga dalamnya. Bayu tahu betul bahwa kapal dagang murni tidak akan pernah merekrut pengawal pribadi sebanyak dan sesadis para kelasi di kapal hitam ini. Semakin lama ia merenung, semakin ia yakin bahwa kapal layar hitam ini sebenarnya disewa khusus oleh kelompok silat aliran sesat untuk menyelundupkan senjata atau tahanan politik melintasi perbatasan wilayah. Kendati demikian, nasi sudah menjadi bubur; jangkar kapal telah diangkat, dan suara deru layar raksasa yang mengembang tertiup angin laut menandakan bahwa kapal tersebut telah meninggalkan dermaga dan meluncur cepat membelah ombak malam menuju lautan lepas.
"Siapa yang memimpin kapal ini sebenarnya?" gumam Bayu pelan pada dirinya sendiri, sementara telinganya menangkap suara langkah kaki berat berkulit sepatu besi yang mondar-mandir di atas langit-langit kabin mereka.
❖ ❖ ❖