Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Ujian di Geladak Kapal

Malam merayap pekat di atas perairan Selat Sunda yang terkenal ganas. Badai besar mengamuk tanpa ampun, melemparkan kapal layar kayu berukuran sedang itu ke sana ke mari bagaikan sehelai daun kering di tengah pusaran air raksasa. Waktu menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh malam. Langit malam tertutup rapat oleh awan hitam legam yang bergemuruh dahsyat, disusul oleh sambaran petir menyilaukan yang sesekali membelah angkasa dan memancarkan cahaya biru pucat ke seluruh permukaan laut yang bergolak.

"Tahan kemudinya lebih kuat! Jangan biarkan ombak besar itu memutar arah haluan kapal!" teriak Sang Kapten kapal dengan suara serak, berjuang keras melawan deru angin malam yang menderu kencang dan menghantam layar utama hingga nyaris robek.

Di atas geladak kapal yang basah kuyup dan licin oleh cipratan air asin, suasana terasa begitu mencekam. Kayu-kayu lambung kapal berderit nyaring setiap kali dihantam ombak setinggi rumah. Di tengah kekacauan cuaca yang luar biasa itu, berdiri sesosok pemuda berpakaian jubah kelabu dengan rambut tergerai basah kuyup. Dia adalah Arya, pendekar tanpa nama yang telah berhari-hari terkatung-katung di atas lautan demi mengejar jejak musuh bebuyutannya.

"Badai ini tidak datang secara alami," gumam Arya pelan pada dirinya sendiri, matanya menyipit menembus pekatnya malam dan derasnya curahan air hujan.

Ia bisa merasakan adanya tekanan tenaga dalam yang tidak biasa di sekitar geladak kapal, sebuah tanda kehadiran energi hitam yang menyatu dengan amukan alam. Di sekitarnya, para anak buah kapal berlarian pontang-panting, mencoba mengamankan tali-temali layar yang terlepas. Namun, fokus Arya tiba-tiba teralihkan ketika ia mendengar suara gelak tawa melengking yang terdengar sangat aneh, seolah menembus suara gemuruh guntur dan deburan ombak lautan.

"Persiapkan nyawa kalian, para tikus laut! Malam ini adalah akhir dari pelayaran kalian!" sebuah suara serak berteriak dari kegelapan malam, menggema dari arah lambung kapal sebelah kanan.

Arya langsung menarik tangan kanannya mendekati gagang pedang yang terselip di pinggangnya, memasang kuda-kuda kokoh di atas geladak yang terus berguncang hebat.

Tujuan utama Arya berada di atas kapal layar ini sebenarnya sangat jelas: ia harus mencapai daratan seberang untuk menghadang pergerakan Sekte Darah Merah yang dikabarkan membawa gulungan Kitab Pusaka Naga Langit. Namun, keadaan mendadak berubah menjadi krisis ketika kelompok pendekar dari aliran sesat, yang terkenal sebagai Perompak Hantu Laut, tiba-tiba muncul dari balik gulungan ombak dan menyusup ke atas kapal.

"Kita tidak boleh membiarkan mereka merebut kendali kapal atau menghancurkan barang bawaan penumpang," ucap Arya tegas ketika berpapasan dengan Sang Kapten yang terengah-engah kelelahan.

"Anak Muda, mereka bukan perompak biasa! Mereka adalah algojo aliran sesat yang menguasai ilmu silat air hitam!" seru Kapten kapal memperingatkan sambil memegang sebilah golok karatan. "Tujuan mereka bukan sekadar merampok harta, tapi menenggelamkan seluruh isi kapal tanpa meninggalkan saksi hidup!"

Arya mengangguk paham. Tujuan hidupnya kini bergeser menjadi sebuah kewajiban moral yang mendesak: melindungi para awak kapal yang tidak bersalah dan bertahan hidup dari sergapan para pendekar sesat yang terkenal haus darah. Ia melangkah mantap menyusuri geladak utama yang dipenuhi genangan air hujan, matanya tajam mengawasi setiap sudut bayangan yang tercipta oleh kilatan petir.

"Keluarlah kalian yang bersembunyi di balik badai!" seru Arya menantang, suaranya melengking tajam menembus desau angin laut yang menderu buas.

Seketika itu juga, dari balik tiang layar utama yang besar, tiga bayangan hitam melompat ringan dengan gerakan akrobatik yang luar biasa, mendarat dengan mulus di atas geladak kayu tepat di hadapan Arya. Mereka mengenakan pakaian ketat berwarna hitam legam dengan lambang tengkorak biru di dada, masing-masing memegang senjata trisula bercabang tajam yang memancarkan kilau kebiruan beracun.

"Bocah lancang, nyali besar sekali kau menantang Pasukan Bayangan Hitam di tengah lautan lepas," desis pemimpin perompak itu dengan senyum seringai mengerikan.

Transisi dari suasana tegang akibat amukan badai alam menuju pertarungan hidup dan mati terjadi dalam sekejap mata. Pemimpin perompak itu tidak menunggu lama; ia langsung memberi isyarat tangan, dan kedua anak buahnya menerjang ke depan secara bersamaan, mengayunkan trisula tajam ke arah dada dan leher Arya dengan kecepatan kilat.

Cring!

Suara benturan logam beradu nyaring memecah keheningan malam, bersaing dengan suara guntur yang menyambar bertubi-tubi. Arya menangkis serangan pertama dengan gerakan memutar pedang yang anggun, menciptakan percikan api kecil di tengah guyuran air hujan yang deras.

"Tahan mereka!" teriakan panik para awak kapal terdengar dari arah kabin bawah, tempat para penumpang disembunyikan.

Suasana di atas geladak mendadak berubah menjadi medan pembantaian yang sesungguhnya. Gelombang laut yang besar menghantam sisi kiri kapal, membuat seluruh dek miring tajam ke kanan dan memaksa Arya serta para perompak harus menjaga keseimbangan tubuh mereka di atas kayu yang licin. Air laut asin yang dingin bercampur dengan tetesan air hujan menyelimuti sekujur tubuh Arya, membuat cengkeramannya pada gagang pedang harus lebih erat dari biasanya.

"Kau tidak akan bisa lolos dari sini, Pendekar Bodoh! Laut ini akan menjadi kuburanmu!" bentak salah seorang perompak bertubuh tinggi besar sambil melompat tinggi dan menghujamkan trisulanya dari atas.

Arya meliukkan tubuhnya dengan gesit ke samping, membiarkan ujung trisula musuh menancap dalam-dalam ke lantai geladak kayu. Tanpa membuang waktu, Arya membalas dengan hantaman sikut keras ke dada penyerang tersebut, membuat sang perompak terdorong mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh ke dalam lautan yang mengamuk di bawah sana.

Lihat selengkapnya