
Malam itu, Samudra Selatan bergemuruh hebat, menelan seluruh cahaya bintang di balik gulungan awan hitam pekat yang menggantung rendah bagaikan tirai kematian. Di atas dek kapal dagang Bahtera Samudra yang sudah tua, kayu-kayu lambung mengerang nyaring dihempas gelombang raksasa setinggi rumah. Bayu berdiri mencengkeram tiang utama kapal, jubah perjalanannya basah kuyup tersiram air laut yang dingin membeku, sementara angin ribut menderu memekakkan telinga.
"Ikat tali pengamanmu lebih erat, anak muda!" teriak jurumudi kapal dari anjungan atas, suaranya hampir tenggelam di tengah deru badai yang mengamuk. "Badai ini bukan badai biasa, ini amukan penguasa samudra!"
Bayu mengangguk tanpa bersuara, matanya menatap tajam ke arah horison gelap di mana kilat menyambar-nyambar ganas, membelah langit kelam. Kapal oleng ke kiri dengan sudut yang hampir membuat seluruh muatan tumpah ke laut. Air laut telah menggenangi sebagian besar geladak bawah, dan kepanikan para awak kapal sudah tidak dapat disembunyikan lagi. Di tengah kekacauan itu, Bayu tetap berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya, mengandalkan tenaga dalam untuk menahan guncangan hebat yang terus menerus menghantam kapal setiap detik.
"Apakah kita masih jauh dari pelabuhan seberang, Kapten?" tanya Bayu dengan nada tegas, mengeraskan suaranya agar menembus desau angin malam.
Sang jurumudi menggeleng kuat-kuat sambil memegang kemudi yang berputar liar. "Pelabuhan sudah lewat sejak tiga jam lalu, kita tersesat di tengah badai pusaran!" teriaknya panik.
Tujuan utama Bayu menaiki kapal dagang ini sejak awal bukanlah untuk menikmati perjalanan melintasi lautan, melainkan mengejar waktu agar bisa tiba lebih cepat di pulau pengasingan tempat petinggi Laskar Hitam bersembunyi. Namun, amukan alam tampaknya memiliki rencana lain yang jauh lebih kejam bagi sang pendekar.
"Aku harus mencapai daratan itu sebelum fajar menyingsing," ucap Bayu dalam hati, meraba buntalan kain berisi pedang pusakanya yang terikat kuat di punggungnya.
Tujuan hidupnya yang dipenuhi dendam kesumat tidak boleh kandas hanya karena hantaman badai di tengah lautan lepas. Setiap tarikan napasnya di atas kapal yang berguncang hebat itu adalah manifestasi dari tekad baja yang menolak tunduk pada takdir buruk. Bayu tahu bahwa kegagalan berarti kematian yang sia-sia di dasar laut yang gelap gulita, tempat di mana tidak ada seorang pun yang akan mengenang namanya.
"Tahan sebentar lagi, Ayah," bisiknya lirih, memejamkan mata sejenak di tengah badai untuk memusatkan tenaga dalam ke seluruh persendian tubuhnya.
Bagi Bayu, lautan luas ini hanyalah salah satu rintangan alamiah yang harus ditaklukkan, sama seperti tebing es di pegunungan utara sebelumnya. Namun, ketika gelombang berikutnya menghantam lambung kapal dengan bunyi retakan yang memekakkan telinga, ia menyadari bahwa tujuan sucinya kini berada di ambang ujian terbesar yang sesungguhnya.
Transisi dari ketegangan di atas geladak yang mulai karam menuju detik-detik kehancuran total terjadi begitu cepat, mengubah struktur kapal menjadi serpihan kayu yang beterbangan di udara. Hantaman ombak raksasa dari sisi lambung kanan membuat tiang utama kapal patah menjadi dua bagian dengan suara dentuman keras yang mengerikan.
"Semuanya pegangan! Kapal kita terbelah!" seru kapten kapal sesaat sebelum tubuhnya tersapu oleh gulungan air laut yang menghantam anjungan.