Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Perkhalwat Gua Batu

Matahari sore baru saja menyemburkan warna jingga kemerahan di balik punggung Pegunungan Seribu, memantulkan bias cahaya keemasan di atas dinding-dinding batu cadas yang curam. Di ketinggian yang nyaris menembus lapisan awan, angin gunung bertiup kencang, membawa hawa dingin menusuk tulang yang membekukan setiap tetes keringat di kulit Bayu. Di tempat terpencil dan sunyi itu, berdiri sebuah gua purba yang mulutnya tertutup oleh rimbunnya akar-akar pohon gantung dan lumut hijau tebal. Tempat tersebut dikenal dalam legenda persilatan sebagai Gua Batu—sebuah pertapaan sakral yang sudah berabad-abad ditinggalkan oleh peradaban manusia, terkubur dalam kebisuan alam liar yang angker.

Suasana di sekitar mulut gua begitu senyap, seolah-olah waktu berhenti berputar di tempat itu. Tidak ada suara burung berkicau, tidak ada deru angin pepohonan, yang terdengar hanyalah suara tetesan air dari stalaktit gua yang jatuh secara teratur ke atas lantai batu, menciptakan gema kecil yang berulang-ulang. Di dalam rongga gua yang gelap dan lembap, bau dupa kuno dan belerang tipis tercium samar, menyatu dengan keheningan mistis yang menyelimuti seluruh ruangan batu tersebut. Tempat itu tidak bisa dijangkau oleh orang sembarangan; hanya mereka yang memiliki keteguhan hati luar biasa dan petunjuk gaib yang mampu menemukan jalan setapak tersembunyi menuju ke sana.

Bayu berdiri terhuyung-huyung di ambang pintu gua, napasnya memburu tidak teratur. Jubah usangnya compang-camping, berlumuran debu perjalanan, keringat, dan bercak darah segar dari luka-luka yang belum sepenuhnya sembuh. Tubuhnya terasa remuk redam setelah berhari-hari mendaki tebing batu terjal tanpa makanan yang layak, namun sepasang matanya tetap menyala tajam penuh tekad. Ia tahu, di dalam gua gelap inilah batas antara hidup dan kematiannya dipertaruhkan; apakah ia akan menjadi pendekar yang mampu mengubah takdir dunia persilatan, ataukah sekadar bangkai tanpa nama yang terlupakan di jurang pegunungan.

"Apakah ada orang di dalam?" panggil Bayu parau, suaranya memantul di dinding-dinding batu gua yang dingin, memecah kesunyian abadi yang menyelimuti tempat itu.

Tidak ada jawaban langsung yang menyambut panggilannya. Yang ada hanyalah embusan angin dingin dari dalam gua yang membawa serta getaran chi aneh—sebuah tekanan tak kasat mata yang membuat dada Bayu terasa sesak seketika. Namun, ia tidak mundur. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, pemuda itu melangkahkan kakinya melewati tirai akar gantung, memasuki kedalaman Gua Batu yang gelap gulita.

❖ ❖ ❖

"Aku harus menguasai inti sari tenaga dalam tingkat tinggi sebelum pasukan pengejar menemukanku di sini," gumam Bayu lirih, menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya saat ia meraba dinding batu yang kasar untuk menjaga keseimbangannya di dalam kegelapan.

Tujuan utama Bayu mempertaruhkan nyawa mendaki Puncak Gua Batu bukanlah sekadar mencari tempat persembunyian yang aman dari kejaran para pembunuh Perguruan Singa Putih. Di dalam gua tersembunyi itu, berdasarkan lembaran terakhir Kitab Warisan Cakrawala dan petunjuk samar dari sang petapa pelabuhan, bersemayam seorang pertapa legendaris yang sedang menjalani proses berkhalwat—sebuah ritual pengasingan diri yang suci untuk menyerap Ilmu Pernafasan Semesta, yaitu satu-satunya teknik pamungkas yang diyakini mampu menyatukan seluruh energi alam dengan tenaga dalam di dalam tubuh manusia untuk menembus batas kemampuan pendekar biasa.

Tanpa penguasaan tenaga dalam tingkat tinggi tersebut, Bayu sadar bahwa dirinya tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menghadapi Ketua Utama Perguruan Singa Putih yang memiliki kekuatan dahsyat setara dewa. Setiap jurus silat biasa yang ia pelajari selama ini tidak akan ada artinya jika berhadapan langsung dengan gelombang chi tingkat tinggi yang dapat menghancurkan batu karang dalam sekali hantam.

"Aku tidak boleh menyerah di sini," batin Bayu meneguhkan tekadnya, menggertakkan gigi menahan rasa nyeri di bahunya yang terluka.

Ia terus berjalan menyusuri lorong gua yang semakin lama semakin luas, hingga akhirnya ia tiba di sebuah ruangan batu yang cukup besar di bagian dalam. Di tengah ruangan tersebut, di atas sebuah lempengan batu datar yang dikelilingi oleh genangan air jernih, tampak sesosok tubuh manusia duduk bersila dengan posisi sempurna dalam kondisi berkhalwat. Sosok itu mengenakan jubah putih yang sudah tampak sangat usang dan tertutup debu tebal, seolah-olah telah duduk membeku di tempat itu selama bertahun-tahun tanpa pernah membuka mata sedikit pun.

Bayu menghentikan langkahnya beberapa tombak dari sosok tersebut. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena rasa takut, melainkan karena getaran energi luar biasa besar yang terpancar secara alami dari tubuh sang pertapa tua yang sedang khusyuk dalam laku khalwatnya.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam ruangan batu besar itu terasa begitu magis dan mencekam. Cahaya temaram yang bersumber dari lumut-lumut bercahaya di langit-langit gua memantulkan pendaran kehijauan yang lembut, menerangi separuh tubuh sang pertapa tua. Rambut dan janggutnya yang putih panjang tergerai hingga menyentuh lantai batu, menyatu dengan debu waktu yang menyelimutinya selama proses khalwat berlangsung.

Bayu membungkukkan badan dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada orang tua sakti tersebut, lalu berlutut di atas lantai batu yang dingin.

"Hamba mohon ampun karena telah lancang mengganggu masa berkhalwat Guru Besar di tempat suci ini," ucap Bayu dengan suara gemetar namun tulus, menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.

Beberapa saat lamanya tidak ada respons apa pun dari sosok yang duduk bersila itu. Ruangan tersebut tetap sunyi senyap, hanya terdengar suara tetesan air gua yang jatuh berkala. Bayu tetap pada posisinya, tidak berani mengangkat kepala atau bergerak sedikit pun, menyadari bahwa mengganggu orang yang sedang berkhalwat bisa mendatangkan maut seketika jika disambut dengan amarah energi batin.

Tiba-tiba, kelopak mata sang pertapa tua yang tertutup rapat selama bertahun-tahun itu perlahan-lahan terbuka, menandakan usainya tahap awal laku khalwat yang ia jalani. Sepasang matanya tidak memancarkan sorot mata manusia biasa, melainkan pendaran cahaya keemasan yang jernih dan tenang, menembus langsung ke dalam jiwa Bayu seolah-olah membaca setiap rahasia, penderitaan, dan niat tersembunyi di dalam hati pemuda itu.

"Anak muda dari perguruan yang tercemar darah... Untuk apa kau datang mengusik masa berkhalwat orang tua yang sudah dilupakan dunia ini?" suara sang pertapa terdengar bergema di dalam ruangan batu, bernada tenang namun mengandung wibawa yang luar biasa besar hingga membuat dinding-dinding gua seolah bergetar halus.

"Ampuni kelancangan hamba, Guru," jawab Bayu dengan suara mantap, mengangkat kepalanya sedikit. "Hamba datang untuk memohon bimbingan. Hamba membawa beban dendam, kebenaran yang terkubur, dan sisa-sisa lembaran Kitab Warisan Cakrawala yang terancam musnah."

Pertapa tua itu menatap Bayu lekat-lekat selama beberapa detik lamanya, sebelum akhirnya sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya yang kering.

❖ ❖ ❖

"Kitab Warisan Cakrawala... Nama itu sudah lama sekali terkubur bersama angin masa lalu," kata sang pertapa tua dengan suara serak namun penuh makna. Ia perlahan-lahan menggerakkan tangannya, mengangkat tubuhnya yang renta untuk mengakhiri posisi duduk berkhalwatnya.

Lihat selengkapnya