Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Perahu Rakit Buatan Sendiri

Matahari pagi di pulau tak berpenghuni itu baru saja mengintip di balik cakrawala timur, memantulkan cahaya keemasan di atas permukaan air laut yang membentang luas tanpa tepi. Bayu duduk termenung di tepi pantai berpasir putih, dikelilingi oleh puing-puing kayu sisa kapal dagang yang terdampar bersama ombak beberapa hari lalu. Udara pagi beraroma garam dan lumut laut berhembus lembut, membelai rambutnya yang acak-acakan dan jubah perjalanannya yang sudah kering namun penuh koyak. Di sekelilingnya, hutan tropis lebat yang menyelimuti bukit pulau tersebut tampak hijau tua, kontras dengan buih putih ombak yang berkejaran membasahi kaki pantainya. Bayu menarik napas dalam-dalam, merasakan kesunyian tempat terasing itu yang hanya dipecahkan oleh suara kepakan sayap burung camar laut dan desir angin yang konstan.

"Sudah tiga hari aku terperangkap di pulau sialan ini," gumam Bayu pelan, jemarinya meraba permukaan batu karang yang tajam di sampingnya.

Di hadapannya, lautan luas membentang bagaikan dinding raksasa yang memisahkan dirinya dari daratan utama di seberang sana. Tempat itu dulunya merupakan pos peristirahatan para pelaut kuno, namun kini hancur lebur dan ditinggalkan begitu saja oleh zaman. Bayu tahu ia tidak bisa terus-menerus tinggal di pulau ini menunggu keajaiban yang tidak akan pernah datang. Perbekalan air tawar dari mata air bukit mulai menipis, dan buah-buahan hutan yang ia temukan tidak akan cukup untuk bertahan hidup lebih dari sepekan ke depan. Ia harus segera bertindak sebelum tubuhnya kembali melemah akibat isolasi yang berkepanjangan ini.

"Waktunya pergi," kata Bayu pada dirinya sendiri, bangkit berdiri sambil mengibaskan pasir yang menempel di celana panjangnya yang usang.

Ia melangkah perlahan menuju tumpukan kayu balok besar yang telah ia kumpulkan dan susun rapi di bawah naungan pohon kelapa besar selama dua hari terakhir. Di atas pasir basah itu, sebuah kerangka rakit kayu sederhana mulai terbentuk, diikat kuat menggunakan serabut pohon yang dipintal menjadi tali yang kokoh.

"Kau benar-benar nekat ingin menyeberangi lautan lepas dengan benda rapuh itu, anak muda?" suara berat tiba-tiba mengejutkan keheningan pantai, datang dari arah balik semak-semak.

Bayu menoleh dengan sigap, tangan kanannya secara refleks mencengkeram gagang pedang di pinggangnya. Ternyata itu hanya bayangannya sendiri, sebuah sisa trauma dari pertempuran masa lalu yang sering membuatnya siaga di tempat sunyi. Ia menghela napas panjang, melepaskan cengkeramannya, dan kembali menatap kerangka rakit buatannya dengan tatapan penuh keyakinan.

"Laut tidak akan menghentikanku," bisiknya tegas, siap memulai hari yang menentukan di pulau sunyi tersebut.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Bayu merakit tumpukan kayu dan bambu tersebut bukanlah untuk sekadar mencari pelarian dari keterasingan, melainkan demi melanjutkan sisa perjalanan panjang menuju benteng utama Laskar Hitam yang berada di seberang samudra. Setiap ikatan simpul tali serabut yang ia buat di atas kayu-kayu itu adalah manifestasi dari dendam kesumat yang mendesak dadanya untuk segera diselesaikan. Ia tidak peduli seberapa berbahaya arus bawah laut atau ganasnya gelombang samudra selatan; tujuannya sudah bulat, dan tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang dapat mengubah arah tekadnya.

"Aku harus tiba di daratan seberang sebelum musim badai kedua datang," ucap Bayu sambil mengangkat sebatang balok kayu berat dan meletakkannya di atas kerangka rakit.

Pelariannya dari pulau ini adalah titik krusial dalam misi hidupnya. Jika ia gagal membuat rakit yang cukup kuat menahan terjangan ombak, maka namanya akan hilang ditelan sejarah tanpa ada seorang pun yang tahu di mana ia tewas. Namun, jika ia berhasil, rakit sederhana itu akan membawanya langsung ke jantung kekuasaan musuh yang selama ini merenggut kebahagiaan masa kecilnya. Bayu membasahi bibirnya yang kering, lalu menatap tajam ke arah ufuk barat tempat matahari perlahan meninggi.

"Apakah kau yakin rakit ini mampu bertahan di tengah arus deras selat selatan, Bayu?" tanya hati kecilnya, meragukan kekuatan material seadanya yang ia miliki.

"Ia harus bertahan," jawabnya mantap secara lisan, memukul-mukul permukaan kayu rakit untuk menguji kekokohan struktur utamanya.

Lihat selengkapnya