Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Chapter tanpa judul #20

Samudra luas yang selama berbulan-bulan menjadi batas antara hidup dan mati akhirnya perlahan-lahan tertinggal di belakang buritan kapal layar kayu yang sudah tampak usang dan rapuh. Langit di atas benua barat menyambut kedatangan hari dengan warna jingga kemerahan yang pekat, memantulkan bias cahaya matahari terbenam di atas hamparan daratan tandus yang membentang sejauh mata memandang. Tiupan angin darat yang kering membawa serta aroma debu gurun dan bau belerang yang menyengat, menggantikan kelembapan asin udara laut yang telah menemani perjalanan panjang Bayu selama berminggu-minggu. Di sepanjang garis pantai berbatu karang yang tajam itu, ombak besar menghantam tebing-tebing cadas dengan suara gemuruh yang konstan, seolah memberikan salam penolakan yang keras bagi setiap pendatang asing yang berani mencoba menginjakkan kaki di tanah tersebut.

Bayu berdiri di anjungan depan kapal, memegang erat tali kemudi sementara jubah abu-abunya berkibar liar diterpa angin kencang dari arah daratan. Perjalanan panjang melintasi lautan tanpa batas ini telah meninggalkan guratan kelelahan yang jelas di wajahnya, namun tatapan matanya tetap tajam, menyapu setiap inci pemandangan asing di hadapannya.

"Kita akhirnya tiba, anak muda," suara serak kapten kapal, seorang lelaki paruh baya bermata satu bernama Karta, memecah kesunyian di dek kapal yang sunyi.

Karta melangkah mendekati Bayu sambil menyumpal tembakau ke dalam pipa cangklungnya.

"Daratan yang tampak begitu tenang dari kejauhan itu sebenarnya adalah sebuah kuali peleburan yang sedang mendidih," lanjut Karta, menunjuk ke arah gumpalan asap hitam yang mengepul rendah di balik perbukitan tandus sebelah barat pelabuhan.

Bayu menoleh sekilas ke arah sang kapten, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke dermaga kayu tua yang mulai tampak dalam jangkauan pandangan mata.

"Aku tidak datang untuk mencari kedamaian di benua ini, Kapten," jawab Bayu dengan suara dingin yang mencerminkan ketetapan hatinya. "Aku datang untuk menyelesaikan urusan yang tertunda, dan jika faksi-faksi silat di sini mencoba menghalangi jalanku, mereka akan menemukan bahwa tanah ini terlalu sempit untuk menampung pertumpahan darah yang akan kubawa."

❖ ❖ ❖

"Tujuan utamaku menginjakkan kaki di daratan barat ini bukan untuk terlibat dalam perang saudara antar faksi persilatan yang memperebutkan kekuasaan semu," ucap Bayu tegas saat kapal mereka akhirnya merapat dengan bunyi deritan kayu yang nyaring di dermaga Pelabuhan Karang Kering.

Karta mengembuskan asap cangklungnya ke udara, menggelengkan kepala perlahan mendengar ucapan pendekar muda tersebut.

"Kau boleh berkata demikian, Bayu, tapi di benua barat ini, tidak ada satu pun orang yang bisa berjalan bebas tanpa mengikatkan diri pada salah satu dari tiga faksi besar yang menguasai jalur perdagangan utama," ujar Karta memperingatkan sambil melempar tali tambang ke arah dermaga yang kosong.

Bayu melompati pagar kapal dan mendarat sempurna di atas papan kayu dermaga yang berdebu, merasakan getaran keras dari tanah benua seberang yang terasa begitu asing di telapak kakinya.

"Aku hanya butuh informasi mengenai keberadaan Toko Kitab Kuno Seribu Bayangan, dan setelah itu aku akan pergi ke lembah utara," balas Bayu tanpa menoleh, melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan area pelabuhan menuju gerbang kota terdekat.

"Informasi di tempat ini tidak dijual dengan uang tembaga, anak muda, melainkan dengan tetesan darah atau kepala musuhmu," teriak Karta dari atas dek kapal, memperingatkan realitas kejam yang menyambut para pendatang baru di daratan gersang tersebut.

Bayu mengabaikan teriakan sang kapten, tangannya secara instan meraba gagang pedang pusaka yang terselip rapi di balik jubah abu-abunya untuk memastikan senjatanya siap digunakan kapan saja.

"Tujuan utamaku jelas: menembus benteng pertahanan Faksi Macan Besi, mendapatkan gulungan peta rahasia leluhur, dan mencari dalang di balik kehancuran perguruanku di masa lalu," gumam Bayu dalam hati, mempercepat langkahnya memasuki lorong gerbang kota yang dijaga ketat oleh prajurit bayaran bersenjata lengkap.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam kota pelabuhan itu jauh lebih mencekam daripada yang dibayangkan oleh Bayu sebelumnya; jalanan tanah yang berdebu dipenuhi oleh gelandangan, pedagang senjata ilegal, dan kelompok pendekar berseragam merah yang mondar-mandir membawa pedang telanjang.

"Minggir kalian, anjing-anjing kurap!" bentak seorang pendekar Faksi Macan Besi kepada seorang pedagang tua yang tumpah buah jualannya ke tengah jalan akibat didorong dengan kasar.

Bayu berjalan melewati kerumunan itu dengan kepala tertunduk setengah, menghindari kontak mata langsung yang bisa memancing masalah yang tidak perlu di hari pertamanya tiba di daratan asing.

"Atmosfer di sini benar-benar dipenuhi oleh kebencian dan ambisi kekuasaan yang busuk," batin Bayu sambil mengamati interaksi penuh intimidasi di setiap sudut pasar malam daratan barat.

Udara panas yang berdebu membuat tenggorokan terasa kering, memaksa Bayu untuk singgah sejenak di sebuah kedai minuman kecil berdinding bambu reyot yang terletak di sudut gang sempit kota pelabuhan tersebut.

"Beri aku semangkuk air dingin," ucap Bayu singkat kepada sang pemilik kedai, seorang wanita tua bermuka masam yang langsung menuangkan air keruh ke dalam mangkuk tanah liat.

Sambil meneguk air tersebut, telinga Bayu menangkap percakapan bisik-bisik dari sekelompok pendekar bertopeng hitam yang duduk di meja pojok ruangan kedai.

"Faksi Naga Hitam baru saja membantai seluruh pos penjagaan Faksi Rajawali Api di perbatasan lembah barat," bisik salah seorang dari mereka dengan nada tegang. "Perang terbuka antar faksi sudah di ambang pintu, dan tidak ada tempat yang aman lagi di daratan ini."

❖ ❖ ❖

Belum sempat Bayu mencerna informasi penting dari percakapan para pendekar bertopeng itu, pintu kedai tiba-tiba ditendang hingga hancur berkeping-keping oleh sekelompok prajurit berseragam merah dari Faksi Macan Besi.

Lihat selengkapnya