Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Kota Perdagangan Kuno

Matahari baru saja merangkak naik di ufuk timur, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus lapisan kabut tipis di Lembah Barat. Di bawah naungan tebing batu kapur yang menjulang tinggi, terbentang sebuah kota metropolitan kuno yang tidak pernah tidur—Kota Perdagangan Kuno. Gerbang utama kota tersebut terbuat dari kayu jati tua yang dilapisi pelat besi berkarat, dijaga ketat oleh puluhan prajurit berzirah lengkap dengan tombak terhunus. Di sekelilingnya, dinding benteng batu setinggi sepuluh tombak berdiri kokoh, mengelilingi kawasan padat penduduk yang menjadi pusat perputaran roda ekonomi, intrik politik, dan pertukaran informasi paling gelap di dunia persilatan barat.

Suasana di dalam kota begitu bising dan menyesakkan dada. Ribuan manusia dari berbagai penjuru mazhab, pedagang asing berhidung mancung, pengelana berkerudung gelap, hingga para pendekar aliran sesat berhambiran memenuhi jalanan batu yang sempit dan berdebu. Suara tawar-menawar harga rempah-rempah beradu dengan derap kaki kuda, teriakan para pengangkut barang, dan dentingan palu dari bengkel pandai besi di sudut jalan. Bau rempah-rempah tajam, daging panggang, dan debu jalanan berpadu menjadi satu di udara panas siang itu, menciptakan atmosfer khas kota niaga yang tidak pernah kehilangan gairahnya.

"Tempat ini benar-benar sarang penyamun dan pusat segala rahasia," gumam Bayu pelan, menarik jubah hitamnya lebih rapat untuk menutupi wajahnya dari sorotan mata orang-orang di sekitar gerbang.

Ia melangkah masuk melewati celah kerumunan pedagang sutra dari daratan seberang. Langkah kakinya terasa ringan namun penuh kewaspadaan, mengingat namanya kini telah masuk dalam daftar buronan utama berbagai perguruan besar di wilayah barat. Setiap sudut kota seolah mengawasi gerak-geriknya, memaksa pemuda itu untuk terus menjaga konsentrasi tenaga dalamnya agar siap menghadapi bahaya yang bisa datang kapan saja dari balik lorong-lorong sempit.

"Perhatikan langkahmu, anak muda! Jangan menghalangi jalan kafilah dagang!" bentak seorang pengawal berbadan tegap sambil mendorong bahu Bayu dengan gagang pedangnya.

"Maafkan kelengahan saya, Tuan," jawab Bayu tenang, menundukkan kepala sedikit tanpa membalas provokasi tersebut, memilih untuk menghindari keributan yang tidak perlu di tengah ramainya gerbang kota.

❖ ❖ ❖

"Aku harus menemukan Kedai Angin Utara sebelum malam berganti, atau petunjuk tentang keberadaan kelompok bayangan itu akan lenyap selamanya," batin Bayu seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling pasar yang mulai padat.

Tujuan utama Bayu mempertaruhkan nyawa memasuki Kota Perdagangan Kuno bukanlah untuk berbelanja atau mencari perlindungan sementara, melainkan demi memburu informasi penting. Berdasarkan petunjuk samar yang ia temukan di lembaran rahasia Perguruan Singa Putih, Kedai Angin Utara yang terletak di distrik timur kota tersebut adalah satu-satunya tempat netral di mana para informan bayaran, penyelundup barang antik, dan pendekar buronan bertukar berita rahasia di bawah pengawasan sindikat bawah tanah.

Tanpa informasi valid mengenai siapa dalang sebenarnya di balik pembantaian keluarganya dan hilangnya artefak kuno, Bayu sadar bahwa dirinya hanya akan berjalan dalam kegelapan, menjadi sasaran empuk bagi para pembunuh bayaran yang terus mengintainya dari bayang-bayang. Ia membutuhkan peta pergerakan musuh serta jadwal pertemuan para petinggi aliran hitam yang dijadwalkan berlangsung di kota ini.

"Di mana letak distrik timur itu?" tanya Bayu dalam hati, meraba kantong kain berisi beberapa keping perak di balik jubahnya.

Ia berjalan menyusuri lorong pasar rempah yang semakin lama semakin sepi dan kumuh. Di kawasan tersebut, bangunan-bangunan kayu berlantai dua tampak saling berhimpitan dengan atap jerami yang mulai lapuk. Orang-orang yang berlalu-lalang di tempat itu pun tampak berbeda; mata mereka memancarkan kecurigaan tinggi, tangan selalu siap siaga di hulu senjata yang disembunyikan di balik jubah kusam mereka.

"Cari masalah di sini, dan nyawamu melayang sebelum matahari terbenam," bisik seorang pria tua bermata satu yang duduk di ambang pintu sebuah kedai remang-remang, menatap Bayu dengan senyuman sinis penuh peringatan.

Bayu tidak memedulikan ancaman tersebut. Ia terus melangkah dengan mantap, memfokuskan pendengarannya untuk menangkap setiap percikan informasi yang berhembus bersama angin sore di antara deretan bangunan tua kota perdagangan itu.

❖ ❖ ❖

Suasana di distrik timur terasa jauh lebih mencekam dibandingkan kawasan pasar utama yang bising oleh aktivitas perdagangan legal. Langit sore yang mulai menampakkan warna kelabu membuat bayangan bangunan-bangunan tua terlihat semakin panjang dan pekat di atas jalanan tanah yang becek. Bayu memperlambat langkahnya saat ia mencium bau apek anggur murahan bercampur aroma dupa tajam dari sebuah bangunan kayu berlantai tiga yang papan namanya telah separuh copot: Kedai Angin Utara.

Pintu kedai tersebut terbuka lebar, memancarkan cahaya lampu minyak yang kekuningan ke arah jalanan yang gelap. Dari dalam bangunan itu terdengar suara gelak tawa parau, benturan mangkuk porselen, dan alunan kecapi sumbang yang dimainkan oleh seorang pengemis tua di sudut ruangan.

Bayu menarik napas dalam-dalam, menstabilkan detak jantungnya, lalu melangkah melewati ambang pintu kayu yang berderit nyaring. Begitu ia masuk, puluhan pasang mata seketika beralih menatapnya dengan sorot penuh curiga dan permusuhan. Para pengunjung kedai—yang sebagian besar adalah pendekar pelarian, algojo bayaran, dan penyelundup buronan—langsung menghentikan aktivitas mereka, mengukur kekuatan pemuda asing yang berani menampakkan diri di sarang penyamun tersebut.

"Hei, anak muda! Tempat ini bukan taman bermain untuk anak manja sepertimu," seru seorang bertubuh besar dengan luka parang melintang di pipinya, berdiri dari kursi kayunya sambil memegang kendi anggur.

"Aku tidak mencari musuh, aku hanya ingin memesan secangkir teh hangat dan sedikit informasi," jawab Bayu tenang, suaranya terdengar jelas di tengah keheningan kedai yang mendadak senyap.

Pemuda itu berjalan lurus menuju sebuah meja kosong di sudut ruangan yang agak gelap, mengabaikan tatapan tajam dari para preman yang mengitarinya. Ia tahu, menunjukkan rasa takut di tempat seperti ini sama saja dengan mengundang kematian instan.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya