
Matahari telah lama tenggelam di balik punggung Pegunungan Seribu, meninggalkan langit malam yang pekat tanpa taburan bintang di atas Pasar Gelap Kaki Langit. Tempat ini bukan sekadar pasar malam biasa, melainkan pusat perdagangan bawah tanah paling berbahaya di seluruh dataran persilatan, di mana para buronan, pembunuh bayaran, pedagang racun, dan pengkhianat mazhab besar berkumpul untuk melakukan transaksi terlarang. Di antara deretan lapak remang-remang yang diterangi oleh temaram lampu minyak babi, aroma kemenyan, bau darah kering, dan bau rempah-rempah eksotis bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada. Bayu melangkah pelan di atas jalanan berbatu yang becek, mengenakan jubah hitam tebal berkerudung lebar yang ditarik rendah untuk menyembunyikan separuh wajahnya. Pukul sembilan malam baru saja berdentang dari menara lonceng besi berkarat di pusat pasar, mengisyaratkan bahwa transaksi gelap malam itu baru saja dimulai. Bayu menyamarkan jejak langkahnya, memastikan setiap gerakannya terlihat seperti lazimnya para pengelana gelap yang sering mondar-mandir di tempat durjana tersebut, sementara tangan kanannya terus bersiaga di dekat gagang pedang tersembunyi di balik jubahnya.
"Jangan menatap siapa pun terlalu lama jika kau tidak ingin kepalamu terpenggal sebelum fajar menyingsing, Kak," bisik seorang pemuda bertubuh kurus yang berjalan di samping Bayu, bertindak sebagai penunjuk jalan bayaran yang ia sewa seharga sekeping perak.
"Aku tahu batasanku, Kancil," jawab Bayu datar, suaranya sengaja dibuat parau dan berat untuk menyamarkan identitas aslinya dari para pendenggar usil di sekitar mereka.
Di bawah naungan keremangan pasar gelap itu, Bayu terus mengawasi setiap lapak yang ia lewati. Matanya menangkap pemandangan yang membuat perutnya mual: seorang pedagang sedang menawarkan kepala buronan seharga puluhan koin emas, sementara di sudut lain, sekelompok pendekar aliran sesat sedang menawar racun lumpuh saraf jenis baru. Bayu tidak datang ke tempat menjijikkan ini untuk mencari keributan atau membalas dendam kepada para preman rendahan tersebut. Tujuannya jauh lebih spesifik dan mendesak: ia harus menemukan petunjuk mengenai keberadaan Sekar, gadis berkerudung merah yang diculik oleh Pasukan Naga Hitam beberapa waktu lalu. Jejak gadis itu terputus di wilayah kekuasaan pasar gelap ini, dan satu-satunya cara untuk melacaknya adalah dengan membeli informasi dari para broker rahasia yang menguasai jaringan intelijen bawah tanah.
"Di mana kita bisa menemui Ki Ronggo?" tanya Bayu tanpa mengalihkan pandangannya dari kerumunan orang-orang bertopeng yang lalu-lalang.
"Kita harus masuk lebih dalam ke lorong para penjual rahasia di balik kedai judi bawah tanah itu," jawab Kancil berbisik gugup, menunjuk sebuah bangunan kayu reyot yang memancarkan cahaya merah samar dari celah-celah pintunya.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Bayu menembus labirin Pasar Gelap Kaki Langit bukanlah untuk mencari kekayaan atau bertransaksi senjata pusaka, melainkan demi membebaskan Sekar dari cengkeraman tangan-tangan kotor yang memperdagangkan manusia sebagai tumbal ritual mazhab sesat. Bayu tahu betul bahwa Sekar tidak memiliki hubungan apa pun dengan intrik politik dunia persilatan arus utama, selain kenyataan bahwa gadis itu mewarisi liontin giok peninggalan keluarganya yang menjadi incaran para ketua mazhab haus kekuasaan. Di dalam lubuk hatinya yang telah disucikan melalui zikir dan Tazkiyatun Nafs, tersimpan janji suci bahwa ia akan melindungi orang-orang yang tertindas, terutama mereka yang menderita akibat kebiadaban dunia persilatan yang busuk. Bayu bertekad untuk membeli informasi tentang lokasi penyekapan Sekar dari para pedagang informasi profesional, berapapun harga yang harus ia bayar, bahkan jika ia harus mempertaruhkan seluruh sisa koin emas miliknya atau nyawanya sendiri di sarang penyamun ini.
"Ingat, Kancil, begitu kita mendapatkan nama tempat di mana Sekar disekap, kau langsung pergi dari tempat ini dan jangan pernah kembali," ujar Bayu tegas saat mereka berhenti tepat di depan pintu tirai kain merah kedai judi bawah tanah yang bising.
"Tapi, Tuan Bayu... orang-orang di dalam itu tidak pernah mau melepas informasi tanpa bayaran darah atau nyawa," protes Kancil dengan keringat dingin bercucuran di pelipisnya. "Ki Ronggo adalah broker informasi paling licik di seluruh wilayah barat; dia hanya mau bicara jika kita membawa barang berharga atau rahasia mazhab yang setara."
Bayu merogoh saku jubah bagian dalamnya, merasakan kantong kain kecil yang berisi beberapa koin emas murni dan sebuah batu permata peninggalan masa lalunya sebagai pendekar Menara Langit Biru. "Aku membawa sesuatu yang jauh lebih bernilai daripada sekadar emas," ucap Bayu tenang, meskipun sorot matanya menajam tajam menembus kain tirai merah yang bergetar ditiup angin malam.
Ia tidak punya waktu untuk ragu; dengan satu dorongan mantap, Bayu menyingkap tirai kain merah tersebut dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi asap rokok tembakau murah dan aroma anggur tua yang pekat.
❖ ❖ ❖
Transisi dari suasana luar pasar yang bising menuju keheningan tegang di dalam ruang pribadi Ki Ronggo terjadi begitu pintu kayu tebal ditutup rapat oleh dua orang pengawal berbadan kekar bersenjata golok besar. Ruangan itu tampak remang-remang, diterangi oleh lampu gantung besi yang berayun pelan di atas sebuah meja judi tua dari kayu jati. Di balik meja tersebut, duduklah Ki Ronggo—seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan mata juling sebelah, mengenakan jubah sutra ungu yang sudah terlihat kotor dan penuh noda makanan. Di sekelilingnya, berdiri empat orang pendekar bayaran berwajah bengis yang mengawasi setiap gerak-gerik Bayu dengan tatapan penuh curiga dan ancaman. Transisi psikologis ini dirasakan betul oleh Bayu; ia harus segera mengubah sikapnya dari seorang pengelana yang tenang menjadi sosok pembeli informasi yang berbahaya dan tidak boleh diremehkan, agar para penjahat di hadapannya tidak berani mempermainkannya.