Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Pertarungan di Arena Bawah Tanah

Malam merangkak pelan di bawah bayang-bayang distrik kumuh Kota Megatara, menyembunyikan sisi paling gelap dari peradaban manusia di balik gemerlap lampu pasar malam. Tepat pukul sebelas malam, di balik pintu besi berkarat yang dijaga ketat oleh dua orang bertubuh tegap berwajah garang, tersembunyi sebuah dunia lain yang penuh dengan bau keringat, darah, dan taruhan uang. Arena Bawah Tanah—sebuah tempat di mana hukum rimba berlaku sepenuhnya, di mana nyawa manusia dihargai selembar koin perak dan kemenangan ditentukan oleh seberapa kejam seseorang menginjak lawan.

"Kau yakin ingin masuk ke tempat ini, Anak Muda? Tempat ini memakan banyak pendekar hebat tanpa pernah meninggalkan nama," bisik seorang pria tua bertopi jerami lusuh, pengantar jalan yang membawa Arya menyusuri lorong bawah tanah yang lembap dan bau apek.

Arya tidak menjawab. Ia hanya menarik tudung jubah abu-abunya sedikit lebih rendah untuk menutupi separuh wajahnya, sementara tangannya secara naluriah meraba gagang pedang usang yang terselip di pinggangnya. Suara sorak-sorai penonton yang menggema dari ruang utama arena terdengar samar-samar menembus dinding batu, menyerupai raungan binatang buas yang kelaparan. Di sekeliling mereka, para penjudi, wanita malam, dan pendekar bayaran berlalu-lalang dengan tatapan mata yang penuh curiga dan permusuhan.

"Aku tidak punya pilihan lain," jawab Arya singkat, suaranya terdengar dingin dan datar di tengah hiruk-pikuk lorong yang remang-remang oleh cahaya obor minyak berjelaga.

Pintu besi besar di ujung lorong akhirnya terbuka lebar ketika penjaga mengenali koin emas yang diserahkan oleh pengantar jalan tadi. Begitu melangkah masuk ke ruang utama arena, udara panas yang pekat langsung menyergap penciuman mereka. Ratusan penonton berdesakan di tribun melingkar, berteriak histeris menyaksikan dua orang petarung sedang saling bantai di atas lantai batu berdarah di tengah ruangan.

Waktu terus berjalan, dan malam semakin larut, namun atmosfer di dalam arena bawah tanah itu justru semakin membara, seolah menanti darah segar berikutnya untuk disajikan di atas altar kekerasan.

Tujuan Arya mempertaruhkan nyawanya di arena ilegal yang kejam ini bukan sekadar mencari sensasi atau uang taruhan, melainkan sebuah strategi berbahaya demi menarik perhatian sang penguasa bayangan Kota Megatara—seorang tokoh penting yang konon memegang petunjuk langsung tentang keberadaan Kitab Pusaka Naga Langit. Berdasarkan informasi samar dari pelabuhan sebelumnya, satu-satunya cara untuk mendapatkan audiensi dengan tokoh misterius berjuluk Sang Laba-Laba Hitam itu adalah dengan menaklukkan seluruh petarung bayaran di arena bawah tanah ini secara beruntun.

"Ingat aturan mainnya, Nak. Kau harus mengalahkan tiga petarung elit pilihan bandar malam ini jika ingin namanya melirikmu," bisik pengantar jalan tadi sebelum menghilang di antara kerumunan penonton yang mabuk.

Arya mengepalkan tangannya erat-erat. Matanya tajam mengamati ke tengah arena, tempat wasit berbadan gempal sedang mendeklarasikan kemenangan brutal dari petarung sebelumnya—seorang raksasa berotot besi yang dijuluki si algojo dari timur. Tantangan ini sangat berisiko tinggi; jika ia kalah, bukan hanya misinya yang gagal, tetapi nyawanya akan melayang di lantai batu kotor itu tanpa ada yang peduli.

"Aku datang bukan untuk kalah," gumam Arya pada dirinya sendiri, melangkah mantap mendekati area pendaftaran di sisi kiri tribun.

Petugas pencatat taruhan yang bertubuh kurus dengan senyum sinis menatap Arya dari atas meja kayu penuh coretan angka. "Ha! Bertubuh kurus begitu mau ikut bertarung melawan algojo kita? Mau taruhan nyawa atau sekadar mencari mati, Anak Muda?"

"Daftarkan aku," ucap Arya dingin, melemparkan sekeping koin emas murni ke atas meja kayu hingga berbunyi nyaring. "Aku menantang penguasa arena malam ini."

Tujuan utamanya kini sudah dikunci. Tidak ada jalan mundur. Arya harus membuktikan kekuatan penuh dari jurus bayangan angin miliknya di hadapan para penonton haus darah, demi memancing sang tokoh penting keluar dari persembunyiannya.

Transisi dari suasana bising penonton menuju keheningan mencekam di dalam arena terjadi ketika wasit mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberi tanda bahwa pertarungan berikutnya akan segera dimulai. Sorak-sorai penonton yang tadinya memekakkan telinga seketika mereda, berubah menjadi bisikan-bisikan tegang ketika nama Arya dipanggil sebagai penantang baru melawan sang juara bertahan.

"Di sudut kiri, penantang tanpa nama yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sini!" seru wasit dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruangan. "Dan di sudut kanan, sang algojo berdarah dingin dari timur, si algojo besi!"

Pintu besi di seberang arena terbuka dengan suara berderit berat. Muncul sesosok pria berbadan raksasa setinggi dua meter dengan otot-otot menonjol mengerikan dan sepasang kapak bermata dua di kedua tangannya. Penonton kembali bergemuruh meneriakkan nama sang algojo, menjagokan petarung favorit mereka yang belum pernah terkalahkan selama satu tahun terakhir.

Arya melangkah perlahan memasuki arena batu yang masih menyisakan bercak-cakap darah segar dari pertarungan sebelumnya. Bau amis darah langsung menusuk hidungnya, namun ia tetap tenang, menarik napas dalam-dalam untuk menyelaraskan aliran tenaga dalam di dalam tubuhnya.

"Bocah cacing ini mau melawan si algojo? Kematian datang lebih cepat dari perkiraannya!" cibir seorang penonton di barisan depan sambil tertawa meremehkan.

Arya sama sekali tidak terusik oleh ejekan penonton. Ia melepas jubah abu-abunya yang usang, membiarkan angin malam dari ventilasi atas membelai rambutnya, sementara tangan kanannya perlahan-lahan mencabut pedang dari sarungnya. Kilatan baja dingin memantulkan cahaya obor, menciptakan transisi visual yang tajam dari kegelapan lorong menuju pusat perhatian arena bawah tanah yang penuh intrik ini.

Sang algojo besi menyeringai lebar, menatap Arya bagaikan seekor singa yang melihat anak domba tersesat. Tanpa menunggu aba-aba lebih lanjut dari wasit, raksasa itu membanting kapaknya ke tanah hingga lantai batu retak, lalu menerjang maju dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuh sebesar itu.

Rintangan pertama di tengah arena langsung menghantam dengan kekuatan penuh. Sang algojo besi mengayunkan kapak bermata duanya secara horizontal, menciptakan desau angin tajam yang membelah udara dan mengarah langsung ke leher Arya. Serangan itu sangat beringas, memanfaatkan tenaga otot kasar yang mampu membelah batu besar menjadi dua bagian.

Lihat selengkapnya