
Malam itu, distrik kumuh Pelabuhan Rembulan diselimuti kabut tebal yang merayap lambat dari permukaan air pelabuhan, menelan bayangan-bayangan bangunan tua berdinding batu bata merah yang mulai runtuh. Di sebuah kedai rempah-rempah terbengkalai yang berbau arang basah dan kayu lapuk, Bayu duduk di atas peti kayu kosong sambil mengasah bilah pedangnya dengan batu asah basah. Suara gesekan logam yang berirama konstan berpadu dengan dengung angin laut yang menembus celah-celah jendela tanpa kaca, menciptakan suasana sunyi yang dipenuhi ketegangan.
"Kau membuang waktu percuma dengan mengasah senjata itu di tempat kotor ini, Bayu," suara serak seorang lelaki tiba-tiba memecah keheningan dari sudut paling gelap ruangan tersebut.
Bayu tidak berhenti mengasah pedangnya, matanya tetap awas menatap pantulan cahaya lampu minyak pada permukaan baja yang berkilau tajam. "Tempat ini cukup bersih untuk orang sepertiku, dan pedang ini butuh kesiapan sebelum malam berganti," jawab Bayu dengan nada datar, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa terkejut atas kehadiran sosok asing yang muncul tanpa suara.
Dari balik tirai kain usang yang bergoyang ditiup angin malam, sesosok pria bertubuh tinggi besar mengenakan jubah beludru hitam berkerah tinggi melangkah keluar. Wajahnya setengah tersembunyi di balik bayangan tudung kepala, namun sepasang mata tajamnya bersinar dingin di bawah temaram cahaya lampu. Lelaki itu tersenyum tipis, memperlihatkan gigi putih yang kontras dengan kulit wajahnya yang pucat pasi.
"Dunia luar tidak lagi peduli pada keadilan yang kau cari, anak muda," ucap pria berjubah itu sambil merapatkan langkahnya mendekati Bayu. "Kerajaan sibuk dengan perang saudara, dan para penguasa korup tidur nyenyak di atas tumpukan emas. Dendammu tidak akan pernah terbalas jika kau berjalan seorang diri."
Bayu akhirnya menghentikan gerakannya, meletakkan batu asah di samping peti kayu, lalu mendongak menatap lelaki di hadapannya dengan tatapan menyelidik. "Siapa kau, dan apa urusanmu datang mencariku di tempat terpencil seperti ini?" tanya Bayu tajam, tangan kanannya siaga mencengkeram gagang pedang.
"Namaku tidak penting," jawab pria itu dengan senyum penuh rahasia. "Yang penting adalah apa yang bisa kami tawarkan padamu untuk mempermudah jalanmu menuju kehancuran Laskar Hitam."
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Bayu berada di distrik pelabuhan ini sebenarnya adalah mencari kapal kargo rahasia yang dapat membawanya langsung ke markas besar musuh di seberang pulau, bukan untuk meladeni tawaran dari orang-orang asing mencurigakan. Namun, nama besar yang baru saja disinggung oleh lelaki berjubah hitam itu membuat darahnya mendidih seketika, mengingatkannya pada kelompok rahasia yang menguasai jaringan kriminal bawah tanah di seluruh wilayah pesisir.
"Jangan sebut nama mereka jika kau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan pada keluargaku," geram Bayu, suaranya mengandung tekanan emosi yang dalam dan berbahaya.
Pria berjubah itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar hampa di dalam ruangan yang sempit dan lembap tersebut. "Justru karena kami tahu segalanya tentang Laskar Hitam, kami datang menemuimu, Bayu. Organisasi kami, Aliansi Bayangan, telah memantau setiap langkahmu sejak kau keluar dari pegunungan es utara. Kami tahu siapa musuhmu, dan kami tahu betapa sulitnya bagimu menembus benteng pertahanan mereka seorang diri."
Bagi Bayu, tujuannya hidup di dunia ini sudah sangat mutlak: membalas kematian orang keluarganya dengan tangannya sendiri, tanpa bantuan pihak lain yang memiliki niat terselubung. Ia tahu betul bahwa organisasi bayangan seperti Aliansi Bayangan tidak pernah memberikan pertolongan secara cuma-cuma; setiap bantuan yang mereka berikan selalu harus dibayar dengan darah, pengabdian mutlak, atau nyawa.
"Aku tidak butuh bantuan organisasi pembunuh bayaran untuk menyelesaikan urusanku," tegas Bayu, berdiri perlahan dari peti kayu untuk menunjukkan postur tubuhnya yang siap bertarung jika perbincangan itu berubah arah.
Pria itu menggelengkan kepala perlahan, menyeringai dingin. "Jangan terburu-buru menolak tawaran yang bisa mengubah nasibmu, anak muda. Pikirkan baik-baik sebelum kau membuang kesempatan emas ini."
❖ ❖ ❖