Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Penolakan Berdarah

Malam di Kota Liangzhou merangkak naik dengan tirai kelam yang pekat, menelan sisa-sisa cahaya jingga di ufuk barat tanpa menyisakan kehangatan sedikit pun. Kota tua yang dikelilingi benteng batu granit hitam itu tampak muram, diselimuti kabut tipis yang merayap dari lorong-lorong sempit berliku. Di bawah terangnya cahaya bulan sabit yang pucat, bayangan bangunan-bangunan berarsitektur kuno menjulang tinggi seperti raksasa bisu yang mengawasi setiap gerak-gerik di bawahnya. Aroma debu gurun yang bercampur dengan bau anyir darah dari pasar budak ilegal di sudut distrik utara menciptakan atmosfir yang menyesakkan dada. Di salah satu persimpangan lorong batu yang sunyi, hembusan angin malam berdesir kencang, menggoyangkan lentera-lentera kertas merah yang tergantung di depan kedai-kedai remang, menciptakan pantulan cahaya merah darah di atas genangan air hujan.

Bayu melangkah pelan menyusuri lorong sempit tersebut, jubah abu-abunya terseret sedikit di atas permukaan batu yang lembap. Langkah kakinya terdengar berirama, bergema memantul di antara dinding-dinding rumah yang saling berhimpitan rapat.

"Kota ini tidak pernah berubah sejak pertama kali aku mendengar cerita tentang kekejamannya," gumam Bayu lirih, matanya menyapu setiap sudut bayangan gelap yang berpotensi menyimpan ancaman.

Di ujung lorong, sekelompok pria berzirah kulit hitam dengan lambang ular melingkar di bahu mereka tampak berdiri memblokir jalan. Mereka adalah utusan khusus dari Aliansi Bayangan Besi, sebuah faksi bawah tanah yang terkenal paling kejam di seluruh wilayah barat.

"Kau membuang-buang waktu kami, pendekar timur," suara serak dari seorang pria bertubuh gempal memecah keheningan malam.

Bayu menghentikan langkahnya tepat tiga meter di hadapan mereka, wajahnya tetap tenang tanpa menunjukkan secercah pun rasa gentar.

"Aku tidak tertarik pada tawaran aliansi mana pun, apalagi kelompok yang hidup dari darah orang tak berdosa," balas Bayu dingin, tatapannya menghujam tajam ke arah pemimpin kelompok tersebut.

❖ ❖ ❖

"Tujuanku datang ke Liangzhou bukan untuk bernegosiasi dengan para pengkhianat dan pembunuh bayaran," ucap Bayu tegas, tangan kanannya perlahan merapat ke gagang pedang pusaka yang terselip di pinggangnya.

Pemimpin utusan itu, seorang pendekar bermuka parut bernama Ganja, tertawa sinis mendengar jawaban telak tersebut.

"Tawaran dari Tuan Besar kami adalah kesempatan emas, Bayu. Menolak Aliansi Bayangan Besi sama artinya dengan menulis surat kematianmu sendiri di kota ini," ancam Ganja sambil melangkah maju perlahan.

Bayu sama sekali tidak bergeming dari posisinya, napasnya teratur, membiarkan aliran tenaga dalam dari Kitab Warisan Samudra Selatan meresap ke seluruh jalur meridian tubuhnya.

"Kematian bukanlah sesuatu yang asing bagiku, Ganja. Jika kalian ingin memaksa, silakan buktikan apakah kalian memiliki kemampuan untuk merenggutnya dariku," tantang Bayu dengan suara datar yang sarat akan keyakinan mutlak.

Tujuan Bayu malam itu sangat sederhana namun berisiko tinggi: menembus blokade Aliansi Bayangan Besi di distrik pusat agar bisa mencapai gerbang timur menuju lembah perbatasan.

"Aku harus keluar dari labirin kota ini hidup-hidup malam ini juga, atau rahasia perguruanku akan terkubur selamanya bersama jasadku di sini," batin Bayu memperingatkan dirinya sendiri, bersiap menghadapi segala kemungkinan terburuk.

❖ ❖ ❖

Suasana di lorong sempit itu mendadak berubah menjadi sangat tegang, seolah detik-detik waktu berjalan jauh lebih lambat dari biasanya.

"Kau benar-benar keras kepala, anak muda," desis Ganja, mengangkat tangan kanannya sebagai aba-aba kepada selusin anak buahnya yang langsung menghunus senjata tajam berupa golok bermata dua.

Bayu merendahkan sedikit kuda-kuda kakinya, merasakan getaran halus dari permukaan batu lorong yang menandakan pergerakan musuh dari arah belakang.

"Mereka sengaja menjebakku di lorong buntu ini," pikir Bayu cepat, menyadari bahwa ia telah digiring masuk ke dalam perangkap strategis oleh kelompok Aliansi Bayangan Besi.

Tanpa menunggu aba-aba lebih lanjut, Ganja melompat mundur ke belakang barisan, sementara para pembunuh bayaran di sekitarnya langsung menerjang maju secara serentak.

"Serang! Jangan biarkan dia bernapas!" teriakan komandan lapangan menggema memecah malam, disusul oleh derap puluhan kaki yang menghantam tanah batu secara bersamaan.

Bayu menarik napas dalam-dalam, membiarkan hawa dingin malam menyatu dengan energi panas di dalam dadanya sebelum akhirnya ia meledakkan tenaga dalamnya ke udara.

"Mari kita lihat seberapa tangguh para pembunuh bayaran barat ini," gumamnya pelan, tepat sebelum bentrokan maut pertama terjadi di bawah temaram cahaya lentera merah.

Lihat selengkapnya