
Kabut tebal yang merayap turun dari puncak-puncak bukit di Lembah Harum seolah membawa serta aroma kematian yang pekat. Malam itu, di bawah naungan rembulan yang tertutup awan kelabu, angin berhembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Lembah yang biasanya terkenal karena keindahan flora obatnya kini berubah menjadi medan senyap yang mencekam. Di sebuah gubuk kayu tua yang tersembunyi di balik lebatnya rumpun bambu kuning, pelita minyak tanah berkedip lemah, memancarkan cahaya kekuningan yang hampir padam.
Bayu terbaring kaku di atas sebuah amben bambu beralaskan jerami kering dan kain usang. Napasnya terdengar berat, memburu, namun tersendat-sendat di tenggorokan. Setiap kali dadanya naik turun, rintihan tertahan lolos dari bibirnya yang pucat pasi dan pecah-pecah. Luka tusuk di lambungnya menganga lebar, menghitam di bagian pinggirnya akibat racun jahat dari bilah pedang musuh yang belum sepenuhnya dikeluarkan. Darah segar terus merembes, membasahi perban darurat yang melilit tubuhnya.
Di sisi amben, seorang wanita paruh baya dengan pakaian sederhana namun bersih bergerak cekatan. Wajahnya tegas, dihiasi garis-garis kerutan usia yang menyiratkan pengalaman hidup yang keras, namun sorot matanya memancarkan ketenangan yang luar biasa. Namanya Nyi Kenanga, seorang tabib terasing yang memilih menghabiskan sisa hidupnya di ujung lembah ini. Tangannya yang terampil mencelupkan kain linen ke dalam sebuah mangkuk tanah liat berisi air rebusan daun dewa, lalu dengan hati-hati membersihkan darah yang mengering di sekitar luka Bayu.
"Bertahanlah, anak muda," bisik Nyi Kenanga parau, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin malam yang menghantam dinding kayu gubuk. "Racun itu telah merasuk jauh ke dalam aliran darahmu. Jika kau menyerah sekarang, maka sia-sialah perjuangan orang-orang yang telah mengantarmu sampai ke tempat terkutuk ini."
Sekar, yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur darurat itu, menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah. Kedua tangannya yang basah oleh keringat dingin saling meremas erat di depan dada. Bulir-bulir air mata menetes tanpa henti dari pelupuk matanya, membasahi pipinya yang tirus. Pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Bayu yang kehilangan warna aslinya. Setiap tarikan napas pemuda itu terasa bagaikan hantaman palu besi di dada Sekar.
"Apakah keadaannya semakin memburuk, Nyi?" suara Sekar bergetar hebat, nyaris tak berbentuk di antara isak tangis yang berusaha ditahannya. "Aku mohon, lakukanlah sesuatu. Racun itu... aku bisa melihatnya menyebar ke lehernya."
Nyi Kenanga tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebilah pisau kecil yang telah diasah tajam dan dipanaskan di atas bara api. Tanpa ragu, namun dengan presisi tinggi, ia mengiris sedikit daging di sekitar luka Bayu untuk mengeluarkan gumpalan darah hitam pekat yang telah membeku. Bayu mengerang keras dalam ketidaksadarannya, tubuhnya melengkung ke atas menahan sakit yang luar biasa sebelum akhirnya kembali terkulai lemas.
"Racun dari Sekte Bayangan Hitam tidak mudah untuk ditaklukkan, Sekar," jawab Nyi Kenanga akhirnya dengan nada datar namun menyiratkan beban berat. Ia menatap Sekar tajam, menembus manik mata gadis itu. "Dan kehadiranku di sini, merawat pemuda ini, adalah takdir buruk yang telah lama kuhindari. Darah yang mengalir di nadinya mengingatkanku pada masa lalu yang ingin kubunuh dan kubur dalam-dalam."
Sekar tertegun. Napasnya tertahan sejenak. Ia tahu Nyi Kenanga bukan sekadar tabib biasa yang hidup mengasingkan diri tanpa alasan. Ada ikatan tak kasat mata, sebuah rantai masa lalu yang menghubungkan wanita paruh baya itu dengan lembaran kelam sejarah keluarga Sekar bertahun-tahun silam. Di luar gubuk, lolongan serigala malam bersahutan dengan gemerisik daun bambu, seolah menjadi saksi bisu atas pertaruhan nyawa yang sedang berlangsung di dalam ruangan sempit tersebut.
❖ ❖ ❖
"Kita harus segera mencari akar rumput bulu merak putih," ucap Nyi Kenanga tegas, memecah keheningan yang menyesakkan di dalam gubuk. Ia meletakkan pisau kecilnya ke atas nampan kayu dengan suara berdenting nyaring. "Hanya tanaman langka itu yang memiliki penawar cukup kuat untuk menetralisir racun di tubuh Bayu sebelum matahari terbit besok pagi. Jika fajar menyingsing dan racun itu mencapai jantungnya, maka jiwanya akan terenggut selamanya."
Sekar membelalakkan mata, rasa takut dan tekad bergejolak dalam dadanya secara bersamaan. "Di mana aku bisa menemukan rumput itu, Nyi? Katakan padaku! Aku akan pergi mencarinya sekarang juga, sekecil apapun peluangnya!"
"Tidakkah kau dengar cerita orang-orang tua tentang jurang maut di ujung timur Lembah Harum?" Nyi Kenanga menatap Sekar dengan pandangan menyelidik, menguji seberapa besar nyali gadis di hadapannya. "Rumput bulu merak putih hanya tumbuh di tebing curam yang selalu diselimuti kabut beracun dan dijaga oleh kawanan kera siluman bermata merah. Perjalanan ke sana memakan waktu berjam-jam melalui jalur pendakian yang licin dan penuh perangkap alami."
"Aku tidak peduli seberapa berbahaya tempat itu!" Sekar maju dua langkah, suaranya meninggi, memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan. "Bayu terluka parah demi melindungiku dari tikaman pedang pengawal bayangan tadi sore. Jika bukan karena dirinya, aku yang akan terbujur kaku di sini sekarang. Aku tidak akan membiarkannya mati begitu saja sementara aku hanya duduk berpangku tangan menunggu ajalnya tiba."
Nyi Kenanga terdiam sejenak. Ia memperhatikan kilatan api di mata Sekar—kilatan yang sangat mirip dengan seseorang dari masa lalunya. Sebuah desahan panjang terlepas dari bibir wanita tua itu.
"Kau keras kepala, sama seperti ibuku dulu," gumam Nyi Kenanga pelan, hampir tak terdengar. Ia kemudian berdiri, melangkah pelan menuju sudut ruangan, lalu mengambil sebuah kantong kain usang dan sebatang obor bambu. Ia melemparkan kantong tersebut tepat ke pangkuan Sekar. "Di dalam kantong itu terdapat serbuk pelindung terhadap kabut beracun dan belati kecil untuk berjaga-jaga. Pergilah lewat jalan setapak di belakang air terjun. Jangan pernah menoleh ke belakang, apapun suara yang kau dengar di dalam kegelapan hutan."
Sekar menangkap kantong itu erat-erat, mendekatkannya ke dadanya seolah itu adalah jimat keselamatan. Ia menoleh sekilas ke arah Bayu yang masih berjuang melawan rasa sakit di amben. Wajah pucat pemuda itu menjadi bahan bakar utama bagi tekadnya.
"Jaga dia selama aku pergi, Nyi," pinta Sekar dengan suara bergetar namun penuh penekanan. "Aku akan kembali membawa rumput itu, atau aku tidak akan kembali sama sekali."
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Sekar membalikkan badan dan melangkah keluar dari gubuk. Hawa dingin malam langsung menyergap kulitnya begitu ia menerobos pintu kayu yang berderit nyaring. Langkah kakinya mantap, meninggalkan bayangan gubuk yang semakin mengecil di telan kegelapan malam Lembah Harum. Tujuan utamanya hanya satu: menyelamatkan nyawa Bayu, bagaimanapun caranya.
❖ ❖ ❖
Jalur setapak di belakang air terjun tersembunyi di balik dinding lumut yang tebal dan licin. Air yang jatuh dari ketinggian menciptakan suara gemuruh konstan yang memekakkan telinga, meredam setiap suara langkah kaki Sekar di atas bebatuan basah. Gadis itu menyalakan obor bambu yang diberikan Nyi Kenanga; nyala api kecil berkobar melawati kegelapan malam, memantulkan bayangan menari-nari di dinding batu yang basah.
Semakin jauh ia menyusuri jalan setapak, suasana hutan bambu semakin terasa asing dan menakutkan. Pohon-pohon tua berukuran pelukan orang dewasa tampak seperti raksasa berwajah muram yang membungkuk mengawasi gerak-geriknya. Akar-akar gantung yang menjulur dari dahan-dahan tinggi menyerupai jemari kurus yang siap mencengkeram kapan saja. Sekar memperketat genggamannya pada gagang belati di pinggangnya, sementara matanya awas mengamati setiap jengkal tanah yang diinjaknya.
"Fokus, Sekar. Jangan biarkan ketakutan menguasaimu," bisiknya pada diri sendiri, mencoba mengusir debaran jantung yang bergemuruh di dadanya.
Ia teringat kembali bagaimana pertempuran sore tadi terjadi begitu cepat. Sekte Bayangan Hitam menyergap rombongan kecil mereka tanpa peringatan di perbatasan hutan. Bayu, dengan kemampuan pedangnya yang luar biasa, berhasil merobohkan tiga orang penyerang sebelum akhirnya salah seorang musuh melancarkan serangan pengecut dari arah belakang. Tusukan itu seharusnya merobek jantung Sekar, namun Bayu mendorongnya menjauh, mengambil alih hantaman maut tersebut dengan tubuhnya sendiri.
“Lari, Sekar... cari perlindungan...” bisik terakhir Bayu sebelum pemuda itu jatuh pingsan di pelukannya.
Ingatan itu membakar semangat di dada Sekar, menghapus rasa lelah yang mulai merayap di otot-otot kakinya. Ia mendaki lereng curam dengan napas memburu. Serbuk pelindung dari kantong Nyi Kenanga ia taburkan tipis-tipis di sekitar leher dan lengannya begitu ia mulai mencium bau belerang yang menyengat dan kabut putih tipis mulai merayap naik dari dasar jurang. Bau itu begitu pekat, membuat kepalanya sedikit pusing, namun ia terus melangkah maju tanpa ragu.
Di balik rimbunnya semak belukar berduri, lolongan binatang malam terdengar semakin dekat. Suaranya bukan sekadar lolongan serigala biasa, melainkan gabungan suara dengusan berat dan cakar yang mengores bebatuan. Sekar tahu ia sudah memasuki wilayah terlarang, batas di mana makhluk-makhluk liar penghuni tebing mencari mangsa. Obor di tangannya mulai menipis, minyak di dalamnya hampir habis terbakar, memaksa gadis itu untuk bergerak lebih cepat sebelum kegelapan total merenggut sisa penglihatannya.