Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Serangan Fajar

Fajar yang baru saja menyingsing di atas Lembah Harum sama sekali tidak membawa ketenangan. Langit pagi yang seharusnya dihiasi warna jingga keemasan kini tampak kelam, tertutup oleh kepulan asap hitam pekat yang membubung tinggi dari arah gerbang perbatasan lembah. Angin lembah berhembus kencang, membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang dan bau anyir darah yang mulai mencemari kesegaran udara pagi. Di sekitar gubuk kayu tempat Nyi Kenanga tinggal, rumpun-rumpun bambu kuning bergoyang hebat, seolah turut merasakan ketegangan luar biasa yang merayap di setiap jengkal tanah.

Di dalam gubuk, suasana senyap yang sempat tercipta beberapa saat lalu kini telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh suara derap sepatu bot yang menghantam tanah berlumpur di luar sana, diiringi suara dentingan logam dan tawa keji yang menggema memecah kesunyian. Bayu berdiri tegak di dekat pintu, otot-ototnya tegang namun terkontrol dengan baik. Meskipun luka di lambungnya masih menyisakan sedikit ngilu, aliran tenaga dalam yang bersirkulasi di tubuhnya berkat ramuan akar rumput bulu merak putih membuat staminanya kembali penuh.

Nyi Kenanga berdiri di sisi kanannya, wajahnya dingin bagai es. Tangannya yang keriput menggenggam erat sepasang belati kembar yang memancarkan kilau keperakan di bawah temaram cahaya pagi yang menembus celah dinding kayu. Di belakang mereka berdua, Sekar memegang belati kecil dengan tangan yang tidak lagi gemetar. Sorot mata gadis itu memancarkan tekad baja; tidak ada lagi air mata ketakutan, yang tersisa hanyalah keberanian untuk menghadapi takdir mereka.

"Mereka sudah terlalu dekat," bisik Nyi Kenanga tajam, matanya mengawasi bayangan-bayangan hitam yang mulai mengepung gubuk dari segala penjuru. "Aliansi Bayangan tidak akan berhenti sebelum mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan."

Bayu mengangguk pelan, matanya tidak pernah lepas dari pintu kayu yang mulai berderit akibat hantaman keras dari luar. "Gulungan rahasia itu tidak boleh jatuh ke tangan orang-orang keji itu, Nyi. Apapun taruhannya," jawab Bayu tegas, mempererat genggaman tangannya pada hulu pedang.

❖ ❖ ❖

"Tujuan utama mereka bukan sekadar menghabisi kita, melainkan merebut gulungan kuno warisan leluhur yang kusembunyikan di bawah lantai gubuk ini," Nyi Kenanga menjelaskan dengan cepat, melirik ke arah sudut ruangan tempat sebuah kotak kayu tua tertanam di dalam tanah. "Gulungan itu berisi rahasia pengobatan penawar segala racun di dunia persilatan. Jika jatuh ke tangan Aliansi Bayangan, mereka akan menggunakannya untuk menciptakan racun abadi yang tidak terobati."

Sekar menelan ludah, menyadari betapa besar taruhan dari pertarungan yang akan segera pecah ini. "Lalu apa rencana kita, Nyi? Kita terkepung dari segala penjuru."

"Kita harus memecah konsentrasi mereka," jawab Nyi Kenanga tanpa ragu. "Bayu, tugasmu adalah menahan serangan frontal di pintu utama bersama gerombolan pendekar bayaran mereka. Aku akan melindungi jalan keluar di bagian belakang dan mengamankan gulungan tersebut. Sekar, tetaplah berada di dekat kami, gunakan belatimu jika ada yang mencoba menyerang dari celah dinding."

Bayu menoleh menatap Sekar sejenak, memberikan isyarat meyakinkan melalui tatapan matanya. "Kau dengar itu, Sekar? Tetaplah di belakangku. Apapun yang terjadi, jangan biarkan mereka menyentuhmu."

"Aku tidak akan bersembunyi terus, Bayu," sanggah Sekar dengan suara lantang penuh keyakinan. "Kita berjuang bersama kali ini. Aku tidak akan membiarkan kalian menanggung semuanya sendirian."

Nyi Kenanga tersenyum tipis di tengah situasi yang mendesak itu, merasakan kebanggaan melihat keteguhan hati cucu angkatnya. "Bagus. Bersiaplah... Waktu kita telah habis. Mereka datang!"

Tepat setelah ucapan itu terlontar, hantaman keras dari luar menghancurkan dinding papan sebelah kiri gubuk berkeping-keping. Kayu berserakan ke udara, memperlihatkan puluhan pendekar berpakaian serba hitam dengan topeng besi menutupi wajah mereka, mengacungkan pedang terhunus ke arah ketiganya.

❖ ❖ ❖

Dentuman hancurnya dinding gubuk itu seolah menjadi lonceng kematian bagi kesunyian Lembah Harum. Debu dan serpihan kayu berterbangan di udara, menciptakan kabut tipis di dalam ruangan yang sempit. Bayu tidak menunggu para penyerang itu pulih dari keterkejutan mereka; dengan gerakan secepat kilat, ia melompat menerobos debu, mengayunkan pedangnya dalam sebuah lengkungan setengah lingkaran yang menyapu bersih barisan depan musuh.

Syuuung! Clang!

Benturan logam beradu nyaring, memercikkan bunga api di dalam ruangan yang remang-remang. Dua orang pendekar Aliansi Bayangan terpelanting ke belakang akibat hantaman tenaga dalam Bayu yang luar biasa, menubruk rekan-rekan mereka sendiri di luar gubuk. Serangan mendadak itu berhasil memecah formasi kepungan musuh untuk sesaat, membuka ruang gerak bagi Nyi Kenanga dan Sekar.

"Ikuti aku ke arah belakang!" seru Nyi Kenanga sambil melesat lincah, belati kembarnya menusuk tepat di titik mematikan salah seorang penyusup yang mencoba menghadangnya dari samping.

Sekar bergerak tepat di belakang Nyi Kenanga, belatinya terhunus, siap menebas apa saja yang membahayakan nyawa mereka. Suasana di dalam dan di luar gubuk mendadak berubah menjadi medan pembantaian yang riuh. Teriakan kesakitan, benturan pedang, dan deru napas memburu berpadu menjadi satu, merusak keindahan alam Lembah Harum yang tadinya damai.

Bayu berdiri sebagai benteng pertahanan terakhir di bagian depan, menahan gempuran lima orang pendekar pilihan Aliansi Bayangan sekaligus. Keringat bercampur darah segar mulai merembes dari perban di lambungnya, namun semangat juangnya tidak sedikit pun surut. Setiap ayunan pedangnya memancarkan tekad yang membara, melindungi orang-orang di belakangnya dari gelombang kematian yang terus berdatangan gelombang demi gelombang.

Lihat selengkapnya