Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

Kerja Sama Pendekar dan Tabib

Pagi yang seharusnya cerah di Lembah Harum kini berubah menjadi arena kelam yang dipenuhi debu reruntuhan gubuk Nyi Kenanga. Asap hitam mengepul tebal dari kayu-kayu yang terbakar, berpadu dengan kabut dingin lembah yang tersapu oleh hembusan angin ribut akibat benturan tenaga dalam tingkat tinggi. Di bawah naungan langit kelabu yang menaungi reruntuhan tersebut, udara terasa begitu pekat dan berat, seolah setiap tarikan napas membawa serta serpihan rasa gentar yang menekan dada siapa saja yang berada di sana.

Ketua Tertinggi Aliansi Bayangan berdiri tegak di tengah puing-puing, jubah hitamnya berkibar megah ditiup angin, sementara topeng bertanduk emas di wajahnya memantulkan kilau cahaya matahari pagi yang pucat. Aura membunuh yang memancar dari tubuhnya begitu mendominasi, membuat tanah di sekitar pijakannya tampak bergetar halus. Di hadapannya, Bayu dan Nyi Kenanga berdiri berdampingan, merapatkan barisan dengan napas memburu.

Bayu mencengkeram hulu pedangnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Luka di lambungnya yang baru saja menutup kembali terasa berdenyut nyeri akibat tekanan aura musuh yang luar biasa besar, namun sorot matanya menyala tajam, menunjukkan keteguhan yang tidak luntur oleh teror sang penguasa iblis. Di sisi kanannya, Nyi Kenanga menghapus darah yang menetes di sudut bibirnya dengan punggung tangan, belati kembarnya bergetar ringan menahan beban tekanan energi lawan yang menindih titik-titik meridian mereka.

"Kalian kira perlawanan kecil ini bisa menghentikan takdir?" suara Ketua Tertinggi Aliansi Bayangan bergema dingin, memecah kesunyian lembah dengan nada merendahkan. "Serahkan gulungan rahasia itu, dan aku mungkin akan membiarkan jasad kalian tetap utuh di tanah ini."

Bayu melirik sekilas ke arah Nyi Kenanga, lalu mengangguk kecil. Tanpa sepatah kata balasan, kerja sama senyap yang terjalin secara naluriah di antara seorang pendekar muda dan sang tabib sepuh langsung terwujud dalam satu gerakan mematikan.

❖ ❖ ❖

"Kita tidak mungkin bisa mengalahkannya dalam duel terbuka di tempat sempit ini, Nyi!" bisik Bayu cepat, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin lembah. "Tujuan kita bukan membunuhnya, melainkan merebut celah untuk melarikan diri bersama Sekar ke luar lembah sebelum bala bantuan musuh yang lain menutup seluruh jalur pelarian."

Nyi Kenanga melirik sekilas ke arah sudut reruntuhan tempat Sekar bersembunyi sambil mendekap kotak kayu berisi gulungan rahasia. Wanita paruh baya itu mengangguk tegas. "Kau benar, Bayu. Aku akan menggunakan serbuk racun angin puyuh untuk menutup penglihatannya sesaat. Saat itulah kita harus menciptakan jalur keluar melalui barisan pendekar bayaran di belakangnya."

Tujuan mereka kini sangat jelas: bertahan hidup, melindungi gulungan pusaka, dan melarikan diri menembus kepungan Aliansi Bayangan menuju perbatasan luar kota. Tidak ada ruang untuk keraguan ataupun kesalahan langkah. Sekecil apapun kelengahan akan berakibat pada kematian mutlak bagi ketiganya.

"Bersiaplah pada hitungan ketiga," bisik Nyi Kenanga lagi, jemarinya merogoh kantong kecil di balik jubahnya yang berisi serbuk khusus rahasia racikan tabib Lembah Harum. "Satu... dua..."

Sebelum hitungan ketiga sempat dilafalkan, Ketua Tertinggi Aliansi Bayangan melangkah maju satu langkah. Hantaman energi hitam meluncur deras tanpa peringatan, menerjang langsung ke arah tempat mereka berdiri bagaikan hantaman badai maut.

"Sekarang!" teriak Nyi Kenanga.

Serbuk putih beracun dilemparkan serempak dengan tebasan pedang Bayu yang mengerahkan seluruh sisa tenaga dalamnya. Ledakan energi bercampur kepulan asap pekat seketika meledak di tengah reruntuhan, menutupi pandangan dan mengaburkan indra musuh dalam sekejap.

❖ ❖ ❖

Ledakan serbuk racun angin puyuh menciptakan kabut putih tebal yang berputar-putar liar, membutakan mata para pendekar Aliansi Bayangan yang berdiri di barisan depan. Ketua Tertinggi mendengus marah, mengibaskan jubah hitamnya untuk meniup asap tersebut, namun detik-detik berharga itu telah dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Bayu dan Nyi Kenanga.

"Sekar, lari ke arah jalur air terjun!" seru Nyi Kenanga tajam, melesat bagaikan bayangan kilat menembus kepulan asap bersama Bayu.

Sekar yang sejak tadi bersiap di balik batu besar langsung bergerak cepat. Membawa kotak kayu berisi gulungan rahasia di dekapannya, gadis itu berlari sekencang mungkin mengikuti jalan setapak licin yang menuju ke arah tebing luar lembah. Langkah kakinya ringan namun penuh kewaspadaan, menghindari setiap akar pohon yang melintang di tanah.

Di belakangnya, suara pertempuran kembali pecah dengan dahsyat. Bayu dan Nyi Kenanga bahu-membahu menepis setiap serangan membabi buta dari para pendekar bayaran yang berusaha mengejar. Nyi Kenanga melontarkan belati-belati kecil beracun kelumpuh yang tepat sasaran, merobohkan tiga orang musuh seketika dalam sekali lemparan, sementara Bayu bertindak sebagai perisai pelindung utama, menebas siapa saja yang mencoba mendekati jalur pelarian Sekar.

Kerja sama antara pengalaman puluhan tahun sang tabib sepuh dan tenaga membara sang pendekar muda menciptakan sinergi yang sempurna. Mereka bergerak lincah di antara rimbunnya rumpun bambu yang mulai terbakar, meninggalkan barisan musuh yang kebingungan di dalam kepulan asap putih.

Lihat selengkapnya