
Matahari baru saja bergeser sedikit ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang menerobos celah-celah dedaunan pohon pinus di hutan perbatasan luar kota Lembah Harum. Udara pagi yang dingin kini telah berganti dengan kehangatan siang hari yang menyengat, namun suasana di sekitar tempat Bayu, Nyi Kenanga, dan Sekar berdiri sama sekali tidak terasa menenangkan. Bayangan hitam sang pendekar misterius bertopi bambu masih membentang di atas tanah berumput, menciptakan ketegangan yang membuat detak jantung berdegup lebih kencang dari biasanya.
Bayu berdiri kokoh dengan pedang terhunus, menatap tajam sosok asing di hadapannya yang perlahan-lahan mengangkat kepala dan menyingkap sedikit topi bambunya. Di sisi kanannya, Nyi Kenanga menahan napas sejenak, sementara Sekar merapatkan dekapannya pada kotak kayu berisi gulungan rahasia di dadanya. Angin berhembus pelan, menerbangkan helai demi helai daun pinus kering yang berserakan di antara kaki mereka, seolah menjadi hitungan mundur detik-detik sebelum pertarungan baru meletus.
Namun, di luar dugaan, sosok bertopi bambu itu tidak langsung mencabut pedangnya atau melancarkan serangan mematikan. Sebaliknya, ia justru tersenyum tipis, mengangkat kedua tangan kosongnya ke udara sebagai tanda bahwa ia tidak berniat bertarung.
"Tenanglah, pendekar muda," suara pria itu terdengar tenang, berat, dan sarat akan pengalaman hidup. "Jika aku benar-benar ingin merenggut nyawa kalian atau merebut kotak pusaka itu, aku sudah melakukannya sejak kalian tertatih-tatih menyeberangi jembatan gantung di lembah tadi."
Bayu tidak langsung menurunkan kewaspadaannya. Ia menyipitkan mata, mengamati setiap gerak-gerik sang pelancong misterius. "Lalu apa maksud kedatanganmu menghadang jalan kami di sini? Apakah kau bagian dari Aliansi Bayangan?"
❖ ❖ ❖
"Aliansi Bayangan hanyalah sekumpulan anjing pemburu yang matanya telah dibutakan oleh keserakahan," jawab pria itu sambil melangkah perlahan maju, membuka topi bambunya sepenuhnya, memperlihatkan wajah separuh baya yang dihiasi janggut tipis dan sorot mata bijaksana. "Namaku Ki Ranu. Dan tujuanku datang ke sini bukan untuk merampas, melainkan untuk memberikan apa yang sangat kalian butuhkan guna menyelesaikan perjalanan ini."
Nyi Kenanga membelalakkan matanya begitu mendengar nama tersebut. Ia melangkah maju satu langkah, menatap pria itu dengan pandangan tidak percaya. "Ki Ranu? Bukankah kau... kau telah menghilang sejak tragedi penghancuran desa asal Sekar belasan tahun silam? Bagaimana mungkin kau bisa berada di tempat ini?"
Ki Ranu menoleh ke arah Nyi Kenanga, lalu mengangguk hormat. "Lama tidak bersua, Nyi Kenanga. Aku tahu kalian sedang dikejar waktu dan musuh. Gulungan rahasia di tangan gadis itu tidak akan ada artinya jika kalian tidak mengetahui ke mana arah tujuan akhir yang sebenarnya harus dituju."
Mendengar ucapan tersebut, Sekar maju dengan napas tertahan, rasa penasaran bercampur harapan membuncah di dadanya. "Apa maksudmu, Ki Ranu? Apakah kau tahu di mana tempat asalku? Tempat di mana rahasia keluargaku disimpan?"
"Tentu saja, anak muda," Ki Ranu merogoh kantong jubahnya, lalu mengeluarkan sebuah gulungan kulit binatang usang yang tampak sangat tua dan menguning dimakan usia. Ia membentangkannya sedikit, memperlihatkan goresan peta rumit penuh simbol-simbol kuno. "Tujuan kalian selanjutnya bukanlah melarikan diri tanpa arah di dalam kota, melainkan bergerak menuju ke arah barat laut, melewati Pegunungan Kabut Seribu, menuju ke lembah asal Sekar yang selama ini terkunci oleh kutukan waktu."
❖ ❖ ❖
Ki Ranu menyerahkan gulungan kulit binatang usang itu langsung ke tangan Sekar. Gadis itu menerimanya dengan tangan gemetar, merasakan tekstur kulit hewan yang kasar namun sarat akan sejarah. Begitu Sekar membuka lipatan peta tersebut, sebuah sinar samar berpendar lembut dari guratan tinta khusus yang terbuat dari getah pohon herbal langka, memetakan jalur-jalur rahasia yang tidak pernah tercatat di peta umum manapun di dunia persilatan.
Bayu mendekat, ikut mengamati garis-garis petunjuk yang tertera di atas peta kuno itu. "Barat laut... melewati Pegunungan Kabut Seribu?" gumam Bayu memastikan. "Perjalanan ke sana membutuhkan waktu berhari-hari melalui jalur pendakian yang sangat berbahaya dan dipenuhi monster liar."
"Itulah satu-satunya jalan jika kalian ingin memutus rantai dendam yang dibawa oleh Aliansi Bayangan," jelas Ki Ranu dengan suara tegas. "Gulungan rahasia yang dibawa Sekar adalah kunci utama untuk membuka gerbang kuil leluhur di lembah asal tersebut. Di sanalah jawaban atas seluruh tragedi masa lalu tersimpan rapi."
Nyi Kenanga menghela napas panjang, beban kekhawatiran di wajahnya sedikit terangkat meskipun masih menyisakan keraguan. "Apakah jalur itu aman dari intaian pasukan Aliansi Bayangan, Ki Ranu?"
"Tidak ada jalan yang sepenuhnya aman di dunia persilatan saat ini, Nyi," jawab Ki Ranu jujur. "Namun, peta ini menunjukkan jalur rahasia para leluhur yang melewati gua-gua bawah tanah dan punggung bukit tersembunyi—jalur yang tidak akan bisa dilacak oleh anjing pelacak manapun dari Aliansi Bayangan."
Sekar menatap peta kuno di tangannya, lalu mengalihkan pandangannya menatap Bayu dan Nyi Kenanga secara bergantian. Kehangatan dan keyakinan kembali merayap di dadanya. Peta ini bukan selembar kertas biasa, melainkan jembatan menuju kebenaran dan kedamaian yang selama ini ia impikan.