Matahari terik membakar hamparan tanah liat yang retak-retak di Padang Rumput Kering Utara, menciptakan ilusi optik berupa genangan air palsu yang berkilauan di kejauhan. Di tempat yang menjadi saksi bisu atas ganasnya alam liar tersebut, angin musim panas bertiup kencang, membawa serta debu halus dan pasir panas yang menyayat kulit siapa saja yang berani melintasinya tanpa pelindung. Wilayah itu dikenal luas sebagai teritori suku-suku nomaden liar yang tidak tunduk kepada hukum kekaisaran maupun aturan dunia persilatan arus utama. Di tengah lanskap yang tandus dan membakar itu, Bayu menghentikan langkah kudanya, menatap lurus ke cakrawala yang seolah tanpa ujung.
Suasana di padang rumput begitu sunyi mencekam, hanya dipecah oleh deru angin gurun yang menderu-deru melewati semak-semak berduri kering. Di kejauhan, tampak sisa-sisa tulang belulang binatang besar berserakan di atas tanah, menandakan betapa mematikannya tempat tersebut bagi para pelancong yang kehilangan arah. Bayu mengenakan jubah debu berkerudung tebal untuk melindungi dirinya dari sengatan panas matahari yang kejam, sementara kudanya—yang diberi julukan Kuda Besi karena ketangguhannya melintasi medan berbatu—mendengus gelisah sambil menghentakkan kuku-kukunya ke tanah.
"Perjalanan ini benar-benar menguji batas ketahanan fisik dan mental," gumam Bayu parau, tenggorokannya terasa kering akibat kurangnya persediaan air minum.
Ia tahu bahwa melintasi teritori suku nomaden liar pada musim badai pasir adalah sebuah tindakan bunuh diri bagi kebanyakan orang. Namun, jalan itulah satu-satunya rute tercepat jika ia ingin mengejar para pengkhianat Perguruan Singa Putih yang melarikan diri menuju perbatasan barat.
"Tuan muda, kita harus segera mencari perlindungan sebelum badai pasir hitam dari utara benar-benar menghantam tempat ini," ucap suara berat dari seseorang yang mendampinginya dari belakang—seorang pengawal setia bernama Ki Ranu yang bergabung dengannya di kota perdagangan sebelumnya.
Bayu mengangguk pelan, menatap gumpalan awan hitam pekat yang mulai berarak naik di ujung utara cakrawala. "Aku melihat kepulan asap di balik bukit batu itu. Mari kita periksa, semoga itu bukan perangkap suku nomaden."
❖ ❖ ❖
"Kita harus mendapatkan pasokan air segar dan peta jalur pintas melintasi bukit pasir sebelum badai itu menutup seluruh jalan keluar," kata Bayu tegas, memegang kendali kudanya erat-erat.
Tujuan utama Bayu dan Ki Ranu mempertaruhkan nyawa menyeberangi Padang Rumput Kering Utara bukanlah sekadar mencari jalan pintas menuju benteng musuh. Berdasarkan informasi dari gulungan rahasia yang ia peroleh di Kedai Angin Utara, terdapat sebuah mata air suci yang dikuasai oleh suku nomaden pengendara kuda liar—satu-satunya sumber air yang dapat menyembuhkan racun mematikan dari panah musuh yang masih mengalir di dalam darah Ki Ranu.
Tanpa air suci tersebut, Ki Ranu dipastikan tidak akan mampu bertahan hidup lebih dari tiga hari ke depan di bawah teriknya suhu padang pasir. Setiap desah napas pengawal tua itu kini terdengar berat dan tersengal-sengal, sementara luka di bahunya mulai mengeluarkan nanah kehitaman akibat racun beracun.
"Jangan pikirkan aku, Tuan muda... Kejar terus mereka yang telah menghancurkan perguruan kita," bisik Ki Ranu lemah di atas pelana kudanya, wajahnya tampak pucat pasi tertutup debu.
"Aku tidak akan meninggalkanmu di tempat terkutuk ini, Ki Ranu," balas Bayu penuh tekad, menoleh sekilas dengan sorot mata yang menyala tajam. "Kita akan melewati badai ini bersama-sama, mendapatkan air suci itu, dan menuntut keadilan."
Dengan memacu Kuda Besi mereka lebih cepat, keduanya menerobos semak-semak kering menuju arah kepulan asap yang terlihat tadi. Di tengah hamparan padang rumput yang luas dan tak bertepi itu, setiap detik sangat berharga; keterlambatan sedikit saja berarti kematian di bawah terjangan badai pasir hitam yang terkenal mampu mengubur seluruh karavan dalam semalam.
"Lihat di sana, Tuan! Ada tenda-tenda kulit binatang di balik bukit batu!" seru Ki Ranu dengan suara bergetar, menunjuk ke arah sekumpulan kemah bundar yang dikelilingi oleh puluhan kuda tangguh.
❖ ❖ ❖
Suasana di sekitar perkampungan nomaden itu tampak tegang dan lengang. Begitu Bayu dan Ki Ranu mendekati batas perkemahan, puluhan penunggang kuda liar bertubuh kekar dan berwajah garang langsung muncul dari balik bukit batu, menghunus tombak panjang dan pedang melengkung ke arah mereka. Rambut mereka dikepang rapi dengan hiasan bulu burung elang, dan mata mereka memancarkan permusuhan yang tajam terhadap orang asing.
"Berhenti, orang asing! Kalian memasuki teritori Suku Badai Besi tanpa izin!" bentak pemimpin rombongan pengawas suku tersebut dalam bahasa lokal yang kasar, mengarahkan ujung tombaknya tepat ke dada Bayu.
Bayu mengangkat kedua tangannya perlahan sebagai tanda damai, menahan kudanya agar tidak bergerak maju. Ia tahu bahwa salah gerak sedikit saja akan membuat hujan tombak menembus tubuh mereka berdua.
"Kami datang bukan untuk mencari permusuhan atau merebut wilayah kalian, Saudara," ucap Bayu tenang, menggunakan bahasa yang sama dengan nada penuh hormat. "Kami adalah pelancong yang terluka akibat terjangan racun, dan kami ingin memohon izin untuk mengambil sedikit air dari mata air suci suku kalian."
Pemimpin pengawas suku nomaden itu menyipitkan matanya, mengamati penampilan Bayu dan Ki Ranu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia melihat kondisi Ki Ranu yang sekarat serta tebasan pedang di jubah Bayu yang membuktikan bahwa mereka baru saja terlibat dalam pertempuran besar.
"Air suci suku kami tidak diberikan kepada sembarang orang, apalagi kepada pendekar asing yang membawa bau darah dan konflik dari dunia luar," jawab sang pemimpin dengan nada meremehkan. "Kecuali jika kau bisa membuktikan keberanianmu dalam ujian tradisi suku kami!"
Bayu mengerutkan keningnya sesaat, merasakan tantangan yang tersirat di balik ucapan pria kekar tersebut. "Ujian seperti apa yang kalian inginkan?" tanya Bayu tanpa ragu.
❖ ❖ ❖