
Padang rumput liar luas yang membentang di bawah naungan langit senja keemasan di perbatasan Lembah Bayangan tampak begitu sunyi, kecuali oleh deru angin daratan kering yang meniup gelombang ilalang keperakan. Di atas hamparan tanah lapang yang gersang dan berdebu itu, Bayu berjalan seorang diri dengan langkah tertatih-tatih, mengenakan jubah abu-abunya yang compang-camping dan dipenuhi noda debu perjalanan panjang. Pukul lima sore lewat sepuluh menit, matahari perlahan-lahan merosot ke ufuk barat, memancarkan bias cahaya merah darah yang memantul di atas bilah-bilah rumput liar dan menciptakan bayangan panjang yang gemetar di atas tanah. Selama berminggu-minggu melarikan diri dari kejaran armada laut Pasukan Naga Hitam dan lolos dari cengkeraman Pulau Tengkorak Merah, Bayu mengira ia telah berhasil keluar dari zona bahaya dunia persilatan. Namun, alam liar di luar wilayah kekuasaan mazhab besar ternyata menyimpan ancaman baru yang tidak kalah mematikan bagi seorang pengelana asing. Bayu menghentikan langkahnya sejenak untuk mengatur napasnya yang tersengal-sengal, sementara tenggorokannya terasa kering akibat berhari-hari tidak meneteskan air bersih di tengah daratan sabana yang tandus tersebut.
"Kita sudah berjalan terlalu jauh ke wilayah teritorial suku nomaden, dan sepertinya kehadiran kita tidak disambut baik," gumam Bayu pelan, matanya menyipit menatap garis horison di depan.
Dari kejauhan, kepulan debu tebal membumbung tinggi ke udara, disertai oleh suara derap ratusan kuku kuda yang menghentak tanah dengan ritme yang semakin lama semakin mendekat dan menggetarkan dada. Bayu meraba gagang pedangnya secara insting, menyadari bahwa ia telah terkepung oleh barisan pasukan berkuda nomaden yang bergerak dengan kecepatan luar biasa dari segala penjuru mata angin. Para penunggang kuda itu mengenakan pakaian kulit binatang tebal, membawa tombak panjang berujung besi runcing, dan meneriakkan y Deck perang dalam bahasa asing yang asing di telinga sang pendekar. Bayu tidak berniat mencari pertumpahan darah di tanah asing ini, namun ia tahu bahwa dalam tradisi suku pengembara padang rumput, kehadiran orang asing tanpa izin diartikan sebagai bentuk tantangan atau mata-mata musuh.
"Berhenti di tempat, orang asing! Angkat tanganmu dan jangan lakukan gerakan apa pun yang bisa membuat kepalamu terpisah dari leher!" bentak seorang penunggang kuda berbadan kekar yang memimpin barisan depan dengan suara menggelegar menembus angin sabana.
Bayu perlahan-lahan melepaskan tangannya dari gagang pedang, mengangkat kedua telapak tangannya ke udara sebagai tanda menyerah damai, sambil menatap tajam ke arah pemimpin pasukan nomaden yang kini telah menghentikan kudanya tepat beberapa meter di hadapannya.
❖ ❖ ❖
Tujuan Bayu membiarkan dirinya dikepung dan ditawan oleh pasukan berkuda nomaden bukanlah karena ia menyerah pada takdir buruk, melainkan sebuah strategi sadar untuk mendapatkan informasi mengenai jalur pintas melintasi sabana menuju benteng pertahanan terakhir Mazhab Naga Hitam. Setelah terpisah dari Sekar di tengah kekacauan pelarian di pelabuhan malam itu, prioritas utamanya kini adalah menemukan kembali jejak gadis berkerudung merah sebelum malam pergantian musim tiba dan ritual sesat mazhab tersebut dimulai. Bayu tahu betul bahwa melawan ratusan pasukan berkuda di padang rumput terbuka tanpa kuda dan perbekalan adalah sebuah tindakan bunuh diri yang sia-sia, terlepas dari seberapa tinggi tingkat ilmu pedang yang dikuasainya. Oleh karena itu, membiarkan dirinya dibawa ke hadapan kepala suku utama suku pengembara adalah satu-satunya cara agar ia bisa berbicara langsung dengan pemimpin tertinggi mereka dan membuktikan bahwa ia bukan musuh mereka.
"Aku tidak datang untuk mencari musuh di tanah leluhur kalian, para ksatria padang rumput," ucap Bayu dengan suara tenang dan penuh wibawa, menatap lurus ke dalam mata sang pemimpin pasukan penangkap. "Aku sedang memburu musuh bersama yang juga menjadi ancaman bagi kediaman kalian di padang rumput ini."
Pemimpin pasukan nomaden itu mendengus sinis di atas pelana kudanya, lalu meludah ke tanah sambil tertawa mengejek mendengar ucapan Bayu. "Banyak orang asing datang ke wilayah kami dengan dalih perdamaian, tetapi ujung-ujungnya mereka membawa pedang dan api kehancuran bagi ternak kami. Kau akan menjelaskan semuanya langsung di hadapan Kepala Suku Besar di tenda utama!" bentak sang pemimpin pasukan seraya mengibaskan tali kekang kudanya.
Beberapa prajurit nomaden segera turun dari kuda mereka, mendekati Bayu dengan gerak-gerik kasar, lalu mengikat kedua tangan sang pendekar menggunakan tali kulit kasar yang ditarik erat-erat. Bayu tidak memberikan perlawanan sedikit pun; ia membiarkan dirinya digiring di tengah kepungan puluhan kuda yang berderap pelan menuju arah perkemahan pusat suku pengembara yang terletak di balik bukit batu kapur. Di dalam hatinya, ia terus melafalkan zikir dan menenangkan batinnya, menjaga agar tenaga dalam dan kesadarannya tetap utuh di tengah situasi penawanan yang penuh ketidakpastian tersebut.
❖ ❖ ❖
Transisi dari hamparan padang rumput terbuka menuju pusat perkemahan suku pengembara terjadi ketika rombongan pasukan berkuda menembus celah bukit batu kapur yang curam, memperlihatkan sebuah lembah luas yang dipenuhi oleh ratusan tenda besar terbuat dari kulit hewan ternak. Suasana di dalam perkemahan itu tampak sangat sibuk namun teratur; anak-anak berlarian di antara tenda-tenda, para wanita mengolah hasil buruan di dekat perapian besar, dan para prajurit mengasah senjata mereka di bawah temaram cahaya api unggun yang mulai dinyalakan menyambut datangnya malam. Transisi psikologis ini dirasakan betul oleh Bayu; dari udara bebas sabana yang sunyi, ia kini berada di jantung kekuatan masyarakat nomaden yang menjunjung tinggi hukum rimba dan kehormatan suku. Setiap pasang mata prajurit yang ia lewati memandang ke arahnya dengan tatapan curiga, permusuhan, dan rasa penasaran yang besar terhadap sosok pendekar asing berambut panjang yang berjalan dengan tangan terikat di tengah iring-iringan tawanan.
"Dorong dia agar berjalan lebih cepat! Kepala Suku Besar sudah menunggu di tenda utama!" hardik seorang pengawal bertubuh gempal sambil mendorong punggung Bayu menggunakan gagang tombaknya.