
Matahari baru saja menggantung di titik tertinggi langit padang rumput Tandus Lembah Utara, memancarkan terik panas menyengat yang membuat udara bergetar di atas hamparan tanah gersang seluas mata memandang. Tepat pukul dua belas siang, di tengah-tengah perkemahan utama suku nomaden Klonoh yang dikelilingi oleh ratusan tenda kulit binatang, sebuah arena terbuka berbentuk lingkaran batu raksasa berdiri kokoh. Suasana di sekeliling arena terasa begitu tegang dan mencekam, dipenuhi oleh riuh rendah suara ribuan prajurit suku nomaden yang bersorak-sorai meneriakkan yag-yag perang kuno untuk membakar semangat bertarung.
Bayu berdiri tegak di sisi barat arena lingkaran batu tersebut, mengenakan celana kain tebal berwarna gelap dengan dada telanjang yang memperlihatkan otot-otot terlatih hasil gemblengan bertahun-tahun. Kulitnya yang kecokelatan mulai dibasahi oleh butiran-butiran keringat akibat suhu padang rumput yang luar biasa tinggi. Di seberangnya, berdiri sang panglima perang suku nomaden—seorang raksasa bertubuh kekar bernama Torgan, yang dikenal tidak pernah terkalahkan dalam duel adat satu lawan satu menggunakan tangan kosong.
"Hari ini, darah seorang pendekar daratan akan tumpah di atas pasir suci suku kami, Bayu!" teriak Torgan dengan suara menggelegar yang memecah angkasa, menepuk dadanya sendiri yang dipenuhi tato leluhur bercorak api.
Bayu tidak mengatakan sepatah kata pun untuk membalas provokasi tersebut. Ia hanya menatap tajam ke arah mata lawannya yang menyala penuh ambisi kemenangan. Kedua bilah pedang dan senjata tajam miliknya telah lama ia serahkan kepada sesepuh suku di luar batas arena, sesuai dengan hukum adat yang mutlak berlaku: duel kehormatan ini harus diselesaikan tanpa sebutir pun logam tajam, murni mengandalkan kekuatan raga, ketahanan napas, dan penguasaan tenaga dalam tingkat tinggi.
"Atas nama hukum leluhur Padang Rumput, pertarungan ini dimulai tanpa senjata, tanpa belas kasihan, hingga salah satu berlutut!" seru ketua adat suku yang berdiri di atas podium batu tinggi di tepi arena, mengangkat tongkat kebesarannya tinggi-tinggi ke udara.
Tujuan utama Bayu melangkah ke tengah arena maut ini bukanlah sekadar mempertahankan harga diri pribadinya di hadapan suku nomaden yang memandangnya sebelah mata, melainkan demi mendapatkan cap persetujuan dan tanda segel aliansi militer yang sangat dibutuhkan untuk menembus benteng pertahanan terakhir musuh besar mereka. Tanpa pengakuan dari sang panglima perang lewat sebuah duel kehormatan yang sah secara adat, suku nomaden tidak akan pernah mau meminjamkan pasukan berkuda mereka untuk membantu Bayu menyelamatkan ribuan sandera di lembah selatan.
"Ingat, Nak! Kau tidak boleh membunuh Torgan, karena itu akan memicu perang darah antarsuku yang tak berkesudahan. Kau hanya harus membuatnya menyerah atau menjatuhkannya ke tanah selama sepuluh hitungan!" bisik Ki Jati, pengawal setia yang mendampingi perjalanan Bayu, mengingatkan dari balik pagar pembatas penonton.
Bayu mengangguk kecil dalam hati, memahami betul taruhan besar yang sedang diembannya saat ini. Tujuan mulia itu menuntut tingkat pengendalian emosi yang luar biasa, sebab ia harus melawan seorang raksasa yang berniat menghancurkan tulang rusuknya, sementara ia sendiri harus menahan diri agar tidak melepaskan jurus maut yang dapat merenggut nyawa lawannya.
"Aku tidak akan mundur sebelum segel aliansi itu berada di tanganku," ucap Bayu pelan pada dirinya sendiri, merenggangkan otot-otot bahunya dan mengatur ritme pernapasan perut agar tenaga dalam murninya merata ke seluruh aliran darah.
Torgan mendengus kasar melihat ketenangan yang ditunjukkan oleh lawannya yang berpostur jauh lebih kecil darinya. "Bocah sombong! Kau pikir ketenangan palsu itu bisa menyelamatkan tulang-tulangmu dari remukan tinjuku?" bentak Torgan sambil melangkah maju dengan menghentakkan kakinya ke tanah berpasir hingga menciptakan kepulan debu tipis.
Bayu menarik napas dalam-dalam, memusatkan seluruh kesadarannya pada titik keseimbangan di pusar perutnya. Ia tahu betul bahwa tujuan besar penyelamatan ribuan nyawa rakyat kini sepenuhnya bergantung pada seberapa tangguh ia bertahan dan menaklukkan singa padang rumput di hadapannya dalam beberapa menit ke depan.
Transisi dari ketegangan penantian menuju detik-detik bentrokan fisik yang sesungguhnya terjadi ketika ketua suku menurunkan tongkat kebesarannya dengan cepat ke tanah, diiringi oleh pukulan tabuhan gendang perang raksasa yang bergemuruh keras mengguncang bumi perkemahan.
"Mulai!" teriak sang ketua adat.
Seketika itu juga, Torgan melesat menerjang maju dengan kecepatan yang luar biasa mengejutkan untuk ukuran tubuh sebesar itu. Tanah padang rumput bergetar hebat di setiap injakan kakinya yang bertenaga kuda. Dalam sepersekian detik, sang panglima perang sudah berada tepat di hadapan Bayu, mengayunkan kepalan tangan kanannya yang sebesar kelapa dengan kekuatan penuh, menciptakan desau angin tajam yang langsung menyambar telinga Bayu.
Bayu tidak mencoba menahan hantaman brutal itu secara langsung. Dengan gerakan gesit seperti bayangan angin, ia meliukkan tubuhnya ke samping kanan, membiarkan kepalan tangan Torgan melesat tipis lewat di depan dadanya hingga angin pukulannya membuat kulit Bayu terasa panas.
Bum!
Pukulan Torgan yang meleset itu menghantam sebuah batu besar di pinggir arena hingga hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil. Penonton bersorak histeris menyaksikan kedahsyatan tenaga fisik sang panglima perang.
Bayu memanfaatkan momentum putaran tubuh lawannya yang sedikit terbuka untuk melayangkan sabetan sikunya secara telak ke arah rusuk Torgan. Namun, alih-alih terpental, otot-otot perut sang panglima mendadak mengeras bagaikan lapisan baja, membuat sikut Bayu justru memantul kembali dengan getaran nyeri yang menjalar ke lengannya sendiri.
"Hahaha! Seranganmu tidak lebih dari gigitan nyamuk, Bocah Daratan!" geram Torgan sambil memutar tubuhnya seketika, melepaskan sapuan kaki bawah yang sangat berbahaya untuk merobohkan keseimbangan Bayu.