Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #34

Persahabatan di Tenda Hitam

[partImg:[0]]

Malam di dataran tinggi Padang Rumput Kaukasus merangkak naik dengan dingin yang menggigit tulang, sementara langit di atas membentang luas tanpa batas, dihiasi oleh taburan bintang yang berkilau tajam bagaikan serpihan berlian di atas kain veludru hitam. Di tengah hamparan padang rumput yang luas itu, sebuah tenda besar berbentuk kerucut yang terbuat dari kulit yak tebal berdiri kokoh, memancarkan cahaya jingga hangat dari nyala api unggun besar yang berkobar di bagian tengahnya. Asap tipis mengepul dari lubang ventilasi atap tenda, berpadu dengan aroma kayu bakar pinus dan bau daging panggang yang menggugah selera. Di dalam tenda yang dijuluki sebagai Tenda Hitam para tetua itu, puluhan prajurit nomaden berbadan tegap duduk melingkar dengan postur kaku, mengenakan jubah bulu domba tebal dan ikat kepala kulit berhiaskan taring serigala. Bayu duduk bersila di atas permadani wol tebal tepat di hadapan sang kepala suku—seorang lelaki tua bertubuh kekar dengan janggut putih lebat yang mengepang rapi dan tatapan mata setajam elang.

"Kau melangkah ratusan mil sendirian tanpa kuda di tanah para kesatria angin ini, orang asing," suara berat sang kepala suku memecah keheningan tenda, menggema di balik dinding kulit yak yang berderit diterpa angin malam. "Banyak pejuang hebat datang ke tempat ini mencari masalah atau kematian, tapi jarang ada yang datang membawa ketenangan di mata mereka seperti dirimu."

Bayu menatap lurus ke dalam mata lelaki tua itu, tanpa sedikit pun rasa gentar meski ia dikelilingi oleh puluhan prajurit elit suku nomaden yang siap menghunus pedang mereka kapan saja. "Aku tidak mencari pertikaian di tanah suku kalian, Kepala Suku," jawab Bayu tenang, suaranya jelas dan tegas memenuhi ruangan tenda. "Langkahku hanya mengikuti arah angin dan takdir yang membawaku melewati batas lembah ini untuk menyelesaikan sebuah urusan yang belum tuntas di ujung perbatasan."

Kepala suku, yang dikenal dengan nama Barghut, mengangguk perlahan sambil menuangkan air fermentasi susu kuda ke dalam mangkuk kayu tua dan mendorongnya ke hadapan Bayu. "Di tempat kami, setiap orang dinilai bukan dari dari mana ia berasal, melainkan dari bagaimana ia berdiri ketika badai menerpa," ucap Barghut dengan nada penuh wibawa. "Dan malam ini, kau telah membuktikan bahwa keberanianmu bukanlah omong kosong belaka ketika kau melangkah masuk ke perkemahan kami seorang diri tanpa membawa niat jahat."

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam tenda mendadak terasa hangat oleh penerimaan terselubung dari para tetua suku yang tadinya memandang curiga pada sosok pendekar asing bersenjata pedang tersebut. Bayu menyambut mangkuk kayu itu dengan kedua tangannya sebagai bentuk penghormatan, lalu meneguk air di dalamnya perlahan, merasakan kehangatan yang menjalar di tenggorokannya dan mencairkan sisa-sisa dingin yang membeku di tubuhnya setelah berhari-hari perjalanan panjang di padang rumput terbuka.

"Terima kasih atas kehangatan dan jamuan ini," kata Bayu tulus, meletakkan kembali mangkuk kosong itu ke atas permadani.

Tujuan utama Bayu singgah di perkemahan utama suku nomaden Kaukasus ini sebenarnya bukanlah untuk mencari sekutu atau sekadar mencari tempat bermalam, melainkan untuk meminta izin melintasi jalur pegunungan suci mereka yang menjadi satu-satunya akses tercepat menuju benteng rahasia Laskar Hitam di balik lembah utara. Selama berminggu-minggu melintasi padang rumput yang luas, ia menyadari bahwa berjalan seorang diri tanpa peta wilayah kekuasaan suku nomaden adalah tindakan bunuh diri, karena para penjaga perbatasan suku ini terkenal kejam terhadap setiap orang asing yang melanggar wilayah teritorial mereka tanpa izin tetua.

"Aku tahu jalur yang kulewati adalah tanah keramat milik kaum kalian," ucap Bayu kembali membuka pembicaraan setelah beberapa saat tenda diliputi keheningan malam. "Karena itulah aku memilih untuk datang langsung menghadapmu di sini, meminta restu dan izin untuk melewati celah gunung utara demi menuntaskan dendam yang telah merenggut seluruh keluargaku."

Barghut mendengarkan penuturan Bayu dengan saksama, kedua tangannya bersilang di dada bidangnya yang dipenuhi bekas luka pertempuran masa lalu. Bagi sang kepala suku, alasan pencarian keadilan dan pembalasan dendam keluarga bukanlah hal yang asing; tradisi darah dibayar darah adalah hukum tertinggi yang dijunjung tinggi oleh seluruh klan nomaden di padang rumput tersebut. Namun, memberikan izin kepada orang asing untuk melintasi jalur suci leluhur bukanlah keputusan yang bisa diambil sembarangan tanpa melalui ujian integritas dan kekuatan jiwa.

"Dendam adalah api yang membakar siapa saja yang menyalakannya, anak muda," ujar Barghut tajam, menatap lekat ke dalam mata Bayu. "Jika tujuanmu hanya dipenuhi oleh kebencian buta, maka jalur pegunungan utara akan menelanmu hidup-hidup sebelum kau sempat melihat wajah musuhmu."

Bayu mengepalkan kedua tangannya erat-erat di atas pangkuannya, merasakan gelombang emosi masa lalunya kembali bergejolak mendengar ucapan tersebut. "Api itu pula yang menjaga agar semangatku tidak padam selama bertahun-tahun di jalanan, Kepala Suku," jawab Bayu tegas, tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. "Aku tidak takut pada kematian, yang kutakutkan adalah pergi tanpa sempat menyelesaikan apa yang harus diselesaikan."

Tujuan Bayu kini bukan lagi sekadar bertahan hidup, melainkan membuktikan bahwa tekad seorang pendekar yang terluka mampu melampaui segala rintangan alam maupun aturan adat yang mengekang tanah perbatasan tersebut.

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana perbincangan tegang di dalam tenda utama menuju pelataran tengah perkemahan terjadi saat Barghut berdiri dari tempat duduknya dan memberi isyarat kepada seluruh prajurit untuk membubarkan diri keluar tenda. Malam semakin larut, namun udara dingin padang rumput seolah membeku di bawah naungan cahaya bulan sabit yang pucat. Bayu bangkit mengikuti langkah sang kepala suku keluar dari tenda kulit yak menuju tanah terbuka di mana api unggun besar masih menyala terang, dikelilingi oleh ratusan kuda tangguh milik suku nomaden yang berderap gelisah di dalam kandang pagar kayu.

"Ikuti aku, Bayu," panggil Barghut dengan suara berat yang memantul di antara tiang-tiang tenda.

Lihat selengkapnya