Matahari sore baru saja tergelincir di balik cakrawala barat Lembah Bayangan, meninggalkan semburat warna jingga kemerahan yang perlahan-lahan larut ke dalam pekatnya malam. Di halaman depan Pesanggrahan Kuno—sebuah markas tersembunyi yang dikelilingi oleh barisan pohon pinus raksasa—angin malam bertiup dingin, membawa aroma getah pinus dan kelembapan tanah basah setelah disiram hujan lebat sehari sebelumnya. Di tempat yang sunyi dan terpencil dari hiruk-pikuk dunia persilatan itu, Bayu dan kawan-kawan sedang duduk mengelilingi unggun kecil yang memancarkan kehangatan, mencoba memulihkan tenaga setelah berhari-hari menempuh perjalanan yang melelahkan.
Suasana di sekitar pesanggrahan begitu senyap, hanya dipecah oleh suara kayu bakar yang meletup-letup kecil dan desau angin yang menggesek dedaunan pinus di kegelapan. Di bawah pendaran cahaya api yang menari-nari, bayangan wajah para pendekar tampak tegang dan kelelahan. Tidak ada yang bersuara; masing-masing sibuk dengan pikiran dan kekhawatiran mereka sendiri mengenai keselamatan dunia persilatan yang kian hari kian terancam oleh intrik aliran hitam. Bayu sendiri duduk bersila dengan mata terpejam, memusatkan perhatian untuk menstabilkan aliran chi di dalam tubuhnya.
"Apakah malam ini akan berjalan tenang tanpa gangguan?" gumam Ki Ranu pelan, memecah keheningan sambil melempar sepotong ranting kering ke dalam kobaran api unggun.
"Di dunia persilatan saat ini, ketenangan hanyalah ilusi semu sebelum badai besar datang," jawab Bayu tanpa membuka matanya, suaranya terdengar tenang namun mengandung ketegasan yang dalam.
Tiba-tiba, dari arah jalan setapak yang gelap di luar gerbang pesanggrahan, terdengar derap kaki kuda yang berlari kencang memecah keheningan malam. Suara itu semakin mendekat dengan cepat, disusul oleh derit pintu kayu gerbang yang didorong terbuka dengan kasar secara mendadak.
❖ ❖ ❖
"Kita harus segera mendapatkan informasi akurat mengenai pergerakan sisa-sisa pasukan Perguruan Singa Putih sebelum mereka melancarkan serangan balasan," ucap Bayu tegas, bangkit berdiri dari posisi duduknya begitu mendengar suara keributan di luar halaman.
Tujuan utama Bayu dan kelompoknya bertahan di Pesanggrahan Kuno bukanlah sekadar beristirahat memulihkan luka, melainkan merencanakan strategi penyusupan ke jantung pertahanan terakhir musuh. Berdasarkan petunjuk yang mereka kumpulkan dari berbagai pertempuran sebelumnya, kelompok pemberontak pimpinan musuh sedang mempersiapkan ritual pemusnahan massal untuk menguasai seluruh wilayah barat. Bayu tahu bahwa waktu yang dimilikinya sangat sempit; setiap detik penundaan berarti bertambahnya korban jiwa dari kalangan pendekar yang menolak tunduk pada tirani.
"Tuan muda! Ada utusan darurat dari suku perbatasan yang datang membawa berita penting!" seru Ki Ranu sambil berlari kecil menghampiri pintu masuk utama pesanggrahan.
Bayu melangkah cepat menyusul pengawal setianya ke teras depan. Di sana, tampak seorang penunggang kuda utusan dari suku nomaden perbatasan turun dengan terhuyung-huyung. Pakaiannya compang-camping, berlumuran debu dan bercak darah kering, menandakan bahwa ia telah menempuh perjalanan maut demi menyampaikan pesan darurat tersebut tanpa henti selama berhari-hari.
"Bawa dia masuk ke dekat api unggun dan berikan air minum!" perintah Bayu sigap, membantu memapah sang utusan yang hampir ambruk akibat kelelahan luar biasa.
Utusan itu meneguk air dari mangkuk yang diberikan dengan tangan gemetar, lalu menatap tajam ke arah Bayu dengan napas terengah-engah. "Pendekar Bayu... Saya datang membawa kabar buruk yang akan mengubah seluruh jalannya pertempuran ini."
❖ ❖ ❖
Suasana di sekitar api unggun mendadak menjadi tegang mencekam. Seluruh pendekar yang berada di pesanggrahan langsung mendekat, membentuk lingkaran di sekitar sang utusan yang masih berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Cahaya api unggun yang kemerahan memantulkan wajah-wajah penuh kecemasan dan tanda tanya besar.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi di perbatasan barat?" tanya Bayu dengan nada mendesak, menatap lekat-lekat mata sang utusan yang dipenuhi ketakutan.
Utusan itu menundukkan kepalanya sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, sebelum akhirnya mengangkat wajahnya kembali. "Sekutu Kegelapan... Aliansi terlarang yang selama ini dianggap telah musnah dalam perang besar puluhan tahun lalu, kini bangkit kembali dari kedalaman lembah terkutuk."
Mendengar nama tersebut disebut, beberapa pendekar senior di lingkaran itu langsung terperanjat kaget, bahkan ada yang menjatuhkan cangkir kayu di tangan mereka hingga pecah berserakan. Nama Sekutu Kegelapan adalah mimpi buruk terkelam dalam sejarah dunia persilatan—sebuah gabungan aliran sesat yang kekuatannya mampu membalikkan langit dan bumi.
"Bagaimana mungkin mereka bangkit lagi? Bukankah segel leluhur telah mengunci pergerakan mereka?" seru salah seorang pendekar dengan suara bergetar ketakutan.
"Segel itu telah dilemahkan oleh pengkhianat dari dalam," jawab sang utusan dengan suara parau. "Dan yang lebih mengerikan lagi, saat ini seluruh pasukan Sekutu Kegelapan sedang memburu seorang gadis berkerudung merah yang memegang kunci rahasia kebangkitan artefak kuno."
Bayu mengerutkan keningnya dalam-dalam, merasakan hawa dingin mendadak merayap di punggungnya. "Gadis berkerudung merah? Siapa dia, dan apa hubungannya dengan artefak itu?"