Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #37

Rencana Penyelamatan

Udara pagi di pelataran rumah panggung kayu milik suku pengembara terasa sangat sejuk, membawa aroma basah sisa embun dan tanah sabana yang tersiram hujan semalaman. Di bawah naungan atap ijuk yang melengkung anggun, Bayu berdiri tegak mengenakan jubah abu-abunya yang baru dibersihkan, menatap lurus ke arah cakrawala timur tempat sang surya mulai merayap naik menembus kabut tipis. Pukul enam lewat seperempat pagi, ditandai oleh bunyi kepakan sayap burung-burung elang padang rumput yang terbang berputar-putar di atas bukit batu, mengawali detik-detik perpisahan yang berat. Selama beberapa hari terakhir, tempat perlindungan sementara ini telah menjadi saksi bagaimana seorang pendekar pelarian menemukan kembali arti sebuah keluarga di tengah kerasnya dataran nomaden. Di hadapannya, berdiri Tegar—saudara angkatnya, seorang pendekar bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di pipi kiri, yang mengenakan pakaian kebesaran perang suku pengembara lengkap dengan sabuk kulit dan belati perak di pinggangnya.

"Apakah kau benar-benar harus pergi hari ini, Kakak? Pasukan penjaga mazhab di luar sana sedang memburu kepalamu seperti sekawanan serigala lapar," ucap Tegar dengan suara berat yang menyiratkan kecemasan mendalam di balik ketegaran wajahnya.

"Aku tidak punya pilihan lain, Tegar. Sekar berada di tangan mereka, dan setiap detik yang terbuang berarti penderitaan yang semakin besar bagi gadis itu," jawab Bayu tegas, menatap lekat-lekat mata saudara angkatnya dengan sorot ketulusan yang tidak bisa ditawar lagi.

Tegar menghela napas panjang, mengusap janggut pendeknya dengan tangan yang kokoh, lalu menepuk pundak Bayu pelan dua kali. "Aku tahu darah pendekar tidak pernah bisa ditahan di satu tempat yang sama terlalu lama, tapi ingatlah bahwa nyawamu bukan hanya milikmu sendiri sekarang."

Di sekeliling pelataran, puluhan prajurit nomaden berdiri mengawasi dengan kuda-kuda mereka yang sudah disiapkan, membawa perbekalan kering dan kantong air untuk perjalanan jauh melintasi perbatasan lembah. Bayu merapatkan tali pedangnya di pinggang, merasakan kesejukan bilah baja yang menyatu dengan tenaga dalamnya, siap menghadapi hari penentuan yang sudah lama ia nantikan sejak awal pelariannya.

"Aku titip keselamatan orang-orang di perkampungan ini selama aku pergi, Tegar," ujar Bayu lirih sambil merapikan ikatan kain di pergelangan tangannya.

"Pergilah dengan restu langit dan bumi, Saudaraku. Kembalilah dengan kemenangan, atau jangan kembali sama sekali," balas Tegar mantap, memeluk tubuh Bayu erat-erat dalam dekapan persaudaraan yang tulus sebelum akhirnya melepaskannya perlahan.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Bayu melangkah meninggalkan perkampungan suku pengembara bukan sekadar untuk membalas dendam kepada para penculik, melainkan menuntaskan janji sucinya dalam menyelamatkan Sekar dari cengkeraman Mazhab Naga Hitam. Di dalam lubuk hatinya yang telah disucikan melalui zikir dan Tazkiyatun Nafs, ia bertekad bahwa pencarian ini adalah bentuk pengabdian kepada kebenaran dan perlindungan bagi jiwa-jiwa yang tertindas. Bayu tahu betul bahwa rute menuju benteng utama musuh di Lembah Batu Hitam dipenuhi oleh jebakan maut, jurang terjal, dan pasukan elit yang siap menghabisi siapa saja yang berani mendekat. Namun, ketakutan itu telah lama sirna digantikan oleh keyakinan penuh kepada takdir Allah serta ketenangan jiwa yang ia peroleh selama bermeditasi di puncak bukit beberapa waktu lalu. Ia ingin memastikan bahwa Sekar bisa kembali menghirup udara kebebasan, hidup tanpa rasa takut, dan merasakan ketulusan cinta yang selama ini dirampas oleh intrik busuk dunia persilatan arus utama.

"Aku akan datang menjemputmu, Sekar, apa pun taruhannya di ujung jalan nanti," bisik Bayu pada angin pagi yang berembus kencang, melangkah mantap menuruni undakan tangga kayu rumah panggung tersebut.

Tegar mengekor di belakangnya hingga ke batas halaman, menyerahkan seekor kuda jantan berbulu hitam legam dengan tanda putih di dahinya—kuda terbaik dari kawanan peliharaan suku pengembara yang terkenal paling cepat dan tahan banting di medan sabana. "Gunakan kuda ini, Kakak. Namanya Badai, dia tidak akan mengecewakanmu di medan pertempuran yang paling sulit sekalipun," kata Tegar sambil menyerahkan tali kekang kulit kuda tersebut kepada Bayu.

Lihat selengkapnya