
Matahari baru saja merayap naik di balik punggung Pegunungan Naga Tidur, memancarkan bias cahaya pucat yang menembus selimut kabut tipis di Dataran Tinggi Windermere. Pukul lima lewat lima belas menit pagi, udara terasa sangat menggigit kulit, membawa embun beku yang menempel di ujung-ujung rumput liar dan dedubukan pakis purba. Di hamparan sabana luas yang membentang sejauh mata memandang, hanya terdengar suara derap kuku kuda yang memecah keheningan fajar, menciptakan gema ritmis yang berpadu dengan desau angin pegunungan yang menusuk tulang.
Bayu merunduk rendah di atas pelana kuda hitam legam miliknya, membiarkan angin dingin menyapu jubah perangnya yang berkibar kencang ke belakang. Di samping kanannya, Ki Jati dan Torgan memacu kuda mereka dengan kecepatan penuh, menembus kabut pagi yang semakin lama semakin menebal hingga menutupi jarak pandang sejauh sepuluh tombak di depan mereka.
"Jejak tapak kuda mereka semakin segar, Bayu!" teriak Ki Jati di sela-sela deru angin, suaranya hampir tenggelam oleh suara hantaman kuku kuda di atas tanah berbatu. "Kelompok bayangan Sekte Darah Merah tidak lebih dari setengah jam perjalanan di depan kita!"
Bayu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menganggukkan kepalanya tegas, matanya yang tajam terus memindai bayangan-bayangan samar di antara gulungan kabut putih yang melayang-layang rendah di atas permukaan tanah dataran tinggi tersebut. Kuda jantan yang ditungganginya adalah ras terbaik dari padang rumput utara, memiliki napas panjang dan ketahanan luar biasa yang dirancang khusus untuk pertempuran jarak jauh tanpa henti.
Di bawah langit fajar yang kelabu, kejar-kejaran maut ini telah berlangsung selama tiga jam penuh tanpa jeda, menuntut ketahanan fisik maksimal baik dari manusia maupun hewan tunggangan mereka demi mengejar waktu sebelum para tawanan dibawa melewati batas jurang maut perbatasan barat.
Tujuan utama Bayu memacu kudanya tanpa kenal lelah menembus dinginnya dataran tinggi berkabut ini adalah untuk memotong jalur pelarian kelompok elit Sekte Darah Merah sebelum mereka berhasil mencapai Benteng Besi dan menyerahkan sandera kunci kepada sang ketua sekte. Berdasarkan informasi dari sandera yang lolos semalam, di antara rombongan tawanan tersebut terdapat sang sesepuh lembah yang memegang rahasia kunci pembuka Kitab Pusaka Naga Langit.
"Kita harus menangkap mereka sebelum mereka mencapai celah tebing batu karang di ujung dataran tinggi ini!" seru Bayu kepada Torgan yang memimpin formasi di sisi kiri. "Jika mereka masuk ke labirin tebing itu, kita akan kehilangan jejak dan selamanya tidak akan bisa menyelamatkan para tawanan!"
Torgan mengangguk garang, cambuk kulit kudanya dilecutkan lebih keras hingga hewan berotot itu mendengus kencang dan mempercepat lajunya. "Jangan khawatir, Pendekar! Pasukan berkuda kita tahu setiap jengkal jalan tikus di dataran tinggi ini. Mereka tidak akan bisa lolos!"
Tujuan besar itu membuat Bayu mengabaikan rasa penat yang mulai merayap di otot paha dan punggungnya. Setiap ayunan langkah kaki kuda adalah taruhan antara hidup dan mati, antara kehancuran dunia persilatan atau kembalinya kedamaian yang telah lama hilang. Ia tidak boleh gagal di tengah jalan, tidak setelah semua pengorbanan dan pertumpahan darah yang terjadi di suku nomaden sebelumnya.
"Fokus pada tujuan, Bayu," batinnya menguatkan diri, tangan kirinya semakin erat mencengkeram tali kekang kuda sementara tangan kanannya bersiap siaga di atas gagang pedang yang terselip di punggung pelana.
Transisi dari pengejaran sunyi di balik kabut tebal menuju bentrokan fisik yang mematikan terjadi ketika deru angin tiba-tiba membawa suara ringkikan kuda kesakitan disusul suara hantaman logam yang berdacing nyaring di kejauhan.
"Mereka sudah menyergap barisan pengintai kita di depan!" seru Torgan sambil mengangkat tombak pendeknya ke udara.
Seketika itu juga, kelompok pengejar membelah kabut tebal, memasuki sebuah lembah sempit yang diapit oleh dua dinding tebing batu kapur yang curam. Di hadapan mereka, rombongan pengawal Sekte Darah Merah tampak menghentikan laju kuda-kuda mereka. Para penjahat berjubah hitam itu sengaja memasang jebakan, berbalik arah dan menunggu di tikungan sempit untuk menyambut kedatangan Bayu dan pasukannya dengan hujan panah beracun.
"Awas! Panah dari atas tebing!" teriak Ki Jati memperingatkan sambil mengangkat perisai kecilnya untuk melindungi kepala.
Swish, swish, swish!
Puluhan anak panah berbulu hitam meluncur deras menembus kabut, melesat bagaikan gerimis mematikan dari atas tebing batu. Dua ekor kuda di barisan belakang pasukan nomaden mendengking kesakitan dan ambruk seketika ke tanah, melemparkan penunggangnya ke semak-semak berduri.
Bayu tidak sempat berpikir panjang. Ia menarik tali kekang kudanya ke kiri hingga hewan itu berputar setengah lingkaran, lalu melompat turun dari pelana kuda yang sedang berlari kencang, melayang di udara sambil mencabut pedangnya dari sarung untuk menangkis rentetan panah yang mengarah langsung ke dadanya.