
Matahari sore menggantung rendah di atas cakrawala barat Niskala, memancarkan bias cahaya merah darah yang memantul di dinding-dinding batu cadas Ngarai Batu Hitam. Angin lembah berembus kencang, membawa debu halus dan deru suara gesekan bebatuan yang menciptakan melodi sunyi nan mematikan di antara celah-celah tebing curam setinggi ratusan meter. Di dasar ngarai yang sempit dan berliku itu, jejak tapak kuda kuda putih Bora tampak jelas di atas tanah berpasir kering yang dipenuhi kerikil tajam. Bayu melangkah waspada di samping tunggangannya, matanya menatap tajam ke arah dinding batu yang menjulang tinggi di sisi kiri dan kanan, membentuk lorong alami tanpa jalan keluar lain selain maju atau berbalik arah. Suasana di sekitar ngarai terasa sangat senyap, seolah alam sendiri menahan napas menyambut detik-detik penentuan yang berbahaya.
"Tempat ini terlalu sunyi untuk ukuran jalur utama perdagangan, Bora," bisik Bayu lembut pada kuda setianya, mengelus surai putih binatang itu yang mendengking pelan merespons ketegangan udara di sekitarnya.
Di balik kesunyian itu, Bayu menyadari bahwa ia telah memasuki wilayah kekuasaan musuh tanpa pengawalan suku nomaden yang tertinggal di pos terdepan. Dinding batu cadas yang mengapit jalurnya tampak bagaikan raksasa bisu yang siap menelan siapa saja yang berani melintas tanpa kewaspadaan penuh. Waktu menunjukkan pukul empat sore lewat lima belas menit, saat bayangan tebing mulai memanjang menutupi jalan setapak, menciptakan kegelapan prematur di dasar ngarai yang semakin menambah pekat suasana mencekam.
"Kita harus segera keluar dari celah ini sebelum malam tiba sepenuhnya," gumam Bayu, mempererat pegangannya pada tali kekang kuda sambil mengawasi setiap sudut lekukan dinding batu yang mencurigakan.
Namun, sebelum ia sempat memacu kudanya lebih cepat, bau mesiu samar dan aroma keringat kuda asing tiba-tiba terbawa oleh embusan angin dari arah depan, memecah kesunyian ngarai secara drastis. Bayu menghentikan langkahnya seketika, jantungnya berdegup lebih cepat saat ia merasakan getaran halus merambat dari permukaan tanah batu di bawah telapak kakinya.
"Mereka sudah menunggu," ucap Bayu tajam, tangan kanannya secara refleks meluncur memegang gagang pedang di pinggangnya.
Tujuan utama Bayu melintasi Ngarai Batu Hitam yang berbahaya ini bukanlah untuk mencari pertarungan acak dengan pasukan musuh, melainkan demi mencapai benteng terakhir Laskar Hitam sebelum fajar menyingsing di hari berikutnya. Selama berminggu-minggu memburu sisa-sisa petinggi organisasi bayangan tersebut, ia tahu bahwa satu-satunya rute tercepat menuju markas utama mereka adalah menerobos celah ngarai sempit yang membelah punggung bukit perbatasan ini.
"Aku tidak boleh membuang waktu sedetik pun di tempat terkutuk ini," tekad Bayu dalam hati, menatap lurus ke ujung jalur ngarai yang tertutup oleh belokan tajam dinding batu.
❖ ❖ ❖
Tujuan hidupnya yang telah dirajut dengan darah dan air mata selama lima tahun terakhir kini berada di ambang penyelesaian akhir. Setiap langkah yang ia ayunkan di atas tanah berbatu ngarai ini adalah wujud nyata dari janji sucinya kepada arwah orang tua dan penduduk desanya yang telah dibantai tanpa belas kasihan. Ia tidak peduli seberapa banyak rintangan yang disiapkan oleh musuh di sepanjang jalur ini; tujuannya sudah bulat, dan tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang dapat membelokkan arah tekadnya untuk menuntut keadilan.
"Apakah kau siap menghadapi mereka semua, Bora?" tanya Bayu lirih, menatap mata kudanya yang memantulkan tekad baja yang sama.
Kuda putih itu mendengus mantap, menghentakkan kukunya ke tanah seolah menyatakan kesiapan untuk bertarung sampai titik darah penghabisan demi mendampingi sang pendekar. Bayu menarik napas dalam-dalam, menstabilkan aliran tenaga dalamnya ke seluruh persendian tubuhnya, bersiap menghadapi apa pun yang menanti di balik belokan ngarai di hadapannya.
Transisi dari perjalanan yang tenang namun penuh kewaspadaan menuju situasi krisis terjadi dalam hitungan detik ketika Bayu membelikliuk dinding batu dan mendapati jalan setapak di depannya telah terblokir sepenuhnya oleh tumpukan batu besar yang sengaja diruntuhkan dari atas tebing. Langkah kudanya terpaksa berhenti mendadak di tengah jalan sempit berukuran tidak lebih dari tiga meter lebarnya.
"Jalur ini ditutup," ujar Bayu dingin, menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam perangkap yang dirancang dengan sangat rapi.