Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Tembok Benteng yang Menjulang

Matahari sore baru saja tenggelam di balik punggung Pegunungan Tengkorak, meninggalkan sisa-sisa cahaya merah keemasan yang memantul di atas permukaan air parit raksasa. Di tempat yang dipenuhi oleh aura kematian dan bau belerang yang menyengat itu, berdiri sebuah benteng pertahanan paling mengerikan di daratan barat—Benteng Besi Hitam milik Sekutu Kegelapan. Dinding benteng tersebut dibangun dari batu cadas hitam setinggi tiga puluh tombak, menjulang angkuh menembus langit malam yang mulai kelabu, dikelilingi oleh parit api yang menyala-nyala sepanjang malam tanpa pernah padam, memuntahkan lidah api panas membakar angin malam yang berembus kencang.

Suasana di sekitar kawasan benteng begitu mencekam dan sunyi, kecuali suara bergemuruh dari kobaran api parit serta derap kaki ribuan prajurit elit yang berpatroli di atas menara pengawas. Di atas gerbang utama yang terbuat dari lempengan besi baja murni, berkibar bendera besar berlambang mata satu berdarah—simbol kekuasaan mutlak dari aliansi aliran hitam yang menguasai dunia persilatan barat. Tempat itu tidak bisa didekati oleh sembarang orang; jutaan perangkap tersembunyi, anak panah beracun, dan formasi tenaga dalam tingkat tinggi dipasang rapat di setiap jengkal tanah di luar tembok benteng.

Bayu berdiri tertegun di atas bukit batu karang berjarak dua ratus tombak dari parit api, menatap tajam ke arah benteng raksasa yang tampak bagaikan monster raksasa siap menelan siapapun. Jubah hitamnya berkibar ditiup angin malam, sementara di sampingnya, Ki Ranu dan beberapa pendekar setia berdiri siaga memegang senjata masing-masing dengan napas tertahan.

"Benteng itu dijaga ketat oleh ribuan prajurit elit dan lingkaran sihir kuno, Tuan muda," bisik Ki Ranu cemas, menatap kobaran api parit yang memancarkan cahaya kebiruan aneh.

Bayu mengangguk pelan, matanya menyala tajam penuh tekad baja. "Aku tahu penjagaannya luar biasa kuat, Ki Ranu. Tapi di balik tembok hitam itulah gadis berkerudung merah dan kunci rahasia segel disembunyikan."

❖ ❖ ❖

"Aku harus menyeberalkan parit api itu dan merobohkan gerbang besi malam ini juga, sebelum ritual kebangkitan Sekutu Kegelapan mencapai puncaknya," ucap Bayu tegas, menyatukan tekad di dalam hatinya yang bergemuruh.

Tujuan utama Bayu mempertaruhkan nyawa mendatangi sarang utama musuh bukanlah untuk mencari keselamatan atau bernegosiasi, melainkan menyelamatkan sandera dan menghancurkan benteng pertahanan terakhir aliansi hitam tersebut hingga rata dengan tanah. Berdasarkan informasi dari sisa-sisa gulungan rahasia yang ia pelajari, malam ini adalah bulan purnama merah—waktu paling tepat bagi Pendeta Hitam untuk menggunakan darah sang gadis berkerudung merah guna membuka gerbang dimensi kegelapan abadi.

Tanpa penghancuran benteng tersebut, seluruh dunia persilatan akan jatuh ke dalam cengkeraman kegelapan abadi tanpa ada lagi kekuatan yang mampu menandinginya. Bayu sadar bahwa risiko dari misi ini adalah kematian, namun ia tidak memiliki pilihan lain selain maju menerjang badai maut.

"Bagaimana cara kita melewati parit api yang membentang luas itu, Tuan muda?" tanya Ki Ranu dengan suara berat, mengukur jarak antara bukit persembunyian mereka dengan dinding benteng yang dikelilingi api abadi.

"Kita tidak akan melewati gerbang utama secara frontal tanpa persiapan," jawab Bayu tenang sambil meraba gagang pedang keperakannya. "Kita akan memanfaatkan jalur drainase air bawah tanah di sisi barat benteng yang luput dari pengawasan ketat mereka."

Ki Ranu mengangguk paham mendengar rencana tersebut. "Pilihan yang sangat berisiko, namun itu satu-satunya celah yang kita miliki untuk masuk ke dalam perut benteng."

❖ ❖ ❖

Suasana di sekitar lereng bukit barat semakin sunyi seiring malam yang semakin larut. Bayu memimpin kelompok kecilnya menyusuri jalan setapak berbatu yang curam, menghindari sorotan obor dari menara pengawas benteng yang terus berputar menyapu kegelapan. Bau belerang dan debu panas semakin pekat tercium di udara, menandakan bahwa mereka sudah berada sangat dekat dengan fondasi luar Benteng Besi Hitam.

Di hadapan mereka, terbentang sebuah terowongan batu tua yang separuh terendam air keruh—bekas saluran pembuangan air limbah benteng yang terhubung langsung ke bagian dalam kawasan penjara bawah tanah. Aliran airnya mengalir deras, mengeluarkan bau apek yang menusuk hidung, namun lorong itulah satu-satunya jalan tikus menuju jantung markas musuh.

"Berhati-hatilah pada setiap langkah kalian. Air di dalam terowongan ini mungkin telah dicampur dengan racun pelemah tenaga dalam," ujar Bayu mengingatkan kawan-kawannya sebelum ia melangkah masuk terlebih dahulu ke dalam gelapnya terowongan.

Begitu Bayu memasuki rongga saluran air yang dingin dan lembap, ia langsung mengalirkan Ilmu Pernafasan Semesta ke seluruh titik vital tubuhnya, menciptakan lapisan perisai chi keperakan yang menolak segala jenis racun atau gas beracun agar tidak meresap ke dalam aliran darahnya. Di belakangnya, Ki Ranu dan para pendekar lain mengikuti dengan langkah senyap, menjaga kewaspadaan tingkat tinggi.

"Kita sudah berada di dalam wilayah mereka," bisik salah seorang pendekar pengikut Bayu dengan suara gemetar tertahan.

"Tetap tenang dan jaga konsentrasi tenaga dalam kalian," balas Bayu tanpa menoleh, terus merayap menyusuri dinding batu terowongan yang licin.

Lihat selengkapnya