
Tepat pukul tengah malam, ketika kepekatan malam merangkak naik menyelimuti Benteng Utama Sekte Darah Merah di dasar Lembah Kematian, suasana di dalam bangunan batu hitam itu terasa begitu mencekam dan menyesakkan dada. Dinding-dinding benteng yang terbuat dari batu andesit kuno tampak lembap, mengeluarkan bau amis darah yang bercampur dengan uap air tanah yang dingin. Di lantai paling bawah, jauh tersembunyi di bawah permukaan tanah yang tidak pernah tersentuh oleh cahaya matahari selama berabad-abad, terletak Ruang Penyiksaan Bawah Tanah—sebuah labirin sel isolasi tempat para penguasa kegelapan menyekap, menginterogasi, dan mematahkan semangat para pendekar idealis yang menolak tunduk pada tirani sekte.
Bayu melangkah masuk secara diam-diam melalui terowongan pembuangan air limbah yang kotor dan berbau belerang. Jubah perangnya yang tadinya bersih kini basah oleh lumpur hitam, sementara tangan kanannya menggenggam erat bilah pedang yang memantulkan pendar cahaya kemerahan dari obor dinding yang mulai meredup. Di belakangnya, Ki Jati dan Torgan mengawal dengan langkah sangat hati-hati, memastikan tidak ada satupun suara gesekan logam atau derap sepatu yang mengkhayalkan kedatangan mereka kepada para penjaga gerbang benteng.
"Tempat ini benar-benar neraka dunia, Bayu. Lihatlah jeruji-jeruji besi berkarat itu," bisik Ki Jati dengan suara bergetar pelan, menunjuk ke arah barisan sel sempit yang berjejer di sepanjang lorong bawah tanah yang panjang dan gulita.
Bayu menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya dari ujung lorong yang gelap. Suara rintihan tertahan, derit rantai besi yang bergesekan dengan batu, dan isak tangis lirih dari para tahanan yang kelaparan terdengar bersahut-sahutan di dalam keheningan malam yang pekat ini. Setiap langkah kaki yang mereka ayunkan di atas lantai batu berdarah itu terasa begitu berat, seolah menanggung beban penderitaan dari puluhan pendekar tak berdosa yang disiksa secara kejam tanpa mengenal belas kasihan.
Tujuan utama Bayu menyusup ke dalam jantung pertahanan musuh yang paling berbahaya ini bukan sekadar untuk mencari jalan keluar atau melarikan diri, melainkan untuk menemukan dan membebaskan para pendekar idealis dari berbagai perguruan besar yang disekap di dalam sel-sel bawah tanah tersebut. Berdasarkan peta rahasia yang diperoleh dari pemimpin bertopeng besi sebelumnya, di sinilah para tetua dan master silat yang memegang kunci rahasia pertahanan terakhir dunia persilatan ditahan dalam kondisi mengenaskan untuk dipaksa menyerahkan warisan leluhur mereka kepada Sekte Darah Merah.
"Kita harus membebaskan Master Giri dan para tetua sebelum fajar menyingsing, Ki Jati," ucap Bayu dengan suara tegas namun berbisik di samping telinga pengawalnya. "Jika kita gagal malam ini, seluruh sisa kekuatan aliran lurus di daratan utama akan musnah untuk selamanya."
Torgan mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya bergemeretak keras. "Sumpah demi leluhur padang rumput, aku akan merobohkan setiap jeruji besi di tempat ini jika ada di antara mereka yang disiksa hingga cacat!"
Tujuan besar itu menuntut keberanian yang luar biasa serta perhitungan strategi yang sangat matang, sebab satu kesalahan kecil dalam membuka kunci sel akan memicu alarm magis yang langsung mendatangkan ratusan pasukan pengawal elit dari lantai atas benteng. Bayu menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya dan memusatkan energi tenaga dalam murni ke ujung jari tangannya, bersiap membongkar gembok-gembok magis yang mengunci penderitaan para tahanan.
Transisi dari penyusupan senyap menuju detik-detik penyelamatan yang menegangkan terjadi ketika Bayu dan kelompok kecilnya berhasil mencapai titik terdalam dari labirin sel isolasi, tepat di depan sebuah pintu besi raksasa berukiran lambang kepala tengkorak yang dijaga ketat oleh dua orang algojo bermasker hitam.
"Berhenti! Siapa kalian yang berani memasuki area terlarang tahanan khusus?" bentak salah seorang algojo dengan suara serak, mengangkat cambok berduri besi ke udara.
Bayu tidak membuang waktu untuk berdebat atau bernegosiasi dengan para penjaga keji tersebut. Dalam sepersekian detik, ia melesat maju bagaikan bayangan angin, melepaskan tebasan cepat menggunakan punggung pedangnya yang dilapisi tenaga dalam putih keperakan.
Bum!
Hantaman tenaga dalam itu menghantam dada kedua algojo seketika tanpa ampun, membuat tubuh mereka terlempar ke belakang dan menabrak pintu besi raksasa hingga pingsan seketika tanpa sempat membunyikan lonceng alarm peringatan.
Torgan dan Ki Jati segera berlari menyusul, mengamankan lorong di sebelah kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada bala bantuan musuh yang datang mendadak. Bayu melangkah cepat mendekati meja jaga penjaga, mengambil seikat kunci besar berlapis mantra kuno yang tergantung di dinding, lalu bergegas menuju sel nomor satu tempat sosok yang dicarinya disekap dalam kegelapan pekat.
Suasana di lorong bawah tanah itu mendadak berubah menjadi tegang dan penuh harap ketika para tahanan di dalam sel-sel lain menyadari bahwa penyelamat mereka telah datang, memunculkan suara desisan dan gemerincing rantai dari balik jeruji besi yang berkarat.
Rintangan terbesar yang dihadapi Bayu saat mencoba membuka sel-sel tahanan tersebut adalah sistem pengaman magis yang rumit serta kondisi fisik para pendekar yang sudah berada di ambang kematian akibat siksaan berkepanjangan. Ketika Bayu memasukkan kunci pertama ke dalam gembok magis sel utama, aliran listrik hitam berdesis menyengat jari-jarinya, memancarkan percikan api kecil yang membakar ujung jubahnya.