
Malam di dalam benteng bawah tanah Liskara merayap pekat dengan udara lembap yang berbau besi tua dan abu mesiu basah. Di balik dinding batu hitam yang tebal, koridor-koridor sempit diterangi oleh obor-obor minyak yang menyala redup, memantulkan bayangan panjang yang menari-nari gelisah di atas lantai batu yang licin. Bayu melangkah tanpa suara, mengenakan jubah gelap milik prajurit musuh yang berhasil ia taklukkan di pos penjagaan luar. Setiap tarikan napasnya dijaga agar tetap tenang, menyamarkan detak jantung yang berpacu kencang di dalam dadanya. Di ujung lorong terjauh, sebuah pintu besi tempa setinggi dua meter dengan ukiran lambang bulan sabit merah tampak berdiri kokoh, menjaga rahasia kelam yang telah lama disembunyikan oleh para petinggi Laskar Hitam.
"Mereka pasti menyembunyikannya di sini," bisik Bayu pelan pada dirinya sendiri, meraba permukaan dinding batu yang dingin untuk memastikan tidak ada mekanisme jebakan tersembunyi di sekitar ambang pintu.
Suasana di level terdalam benteng itu terasa mati, jauh dari hiruk-pikuk prajurit di lantai atas. Hanya terdengar suara tetesan air dari langit-langit gua dan dengung samar angin malam yang menembus ventilasi besi di atas kepala. Bayu berhenti tepat di depan pintu besi besar tersebut, matanya awas mengawasi setiap sudut koridor yang sunyi senyap, siap menghadapi apa pun yang keluar dari balik jeruji tebal itu.
"Tahan sebentar lagi, Sekar," ucapnya lirih, menguatkan tekad yang sempat goyah setelah perjalanan panjang dan melelahkan yang ia tempuh seorang diri.
Penguasaan tenaga dalamnya dipusatkan ke ujung jari-jarinya, bersiap menghadapi penjaga atau mekanisme pertahanan apa pun yang melindungi pintu sel tahanan rahasia tersebut. Kegelapan malam di luar benteng seolah menyatu dengan keheningan lorong bawah tanah, menciptakan ketegangan yang kian menekan setiap inci urat saraf sang pendekar.
Tujuan utama Bayu menyusup ke sarang musuh yang paling berbahaya ini bukanlah sekadar untuk mencari kemenangan atas pertarungan melawan Laskar Hitam, melainkan untuk menyelamatkan Sekar—satu-satunya sahabat masa kecilnya yang masih hidup dan disandera sebagai alat tukar oleh para petinggi organisasi tersebut. Selama bertahun-tahun, bayangan wajah Sekar yang ketakutan pada malam pembantaian desa mereka terus menghantui mimpi-mimpi Bayu, mendorongnya untuk melintasi samudra, mendaki gunung es, dan menerobos ngarai batu maut tanpa rasa takut.
"Aku datang untuk membawamu pulang, Sekar, apa pun taruhannya," tekad Bayu dalam hati, menatap lekat ke arah gembok besar yang menggantung di palang pintu besi di hadapannya.
❖ ❖ ❖
Tujuan hidupnya kini telah sepenuhnya terfokus pada keselamatan gadis itu; dendam kesumat pada para pembunuh keluarganya harus diletakkan sejenak di bawah prioritas utama untuk mengeluarkan Sekar dari tempat penyiksaan yang keji ini. Bayu tahu bahwa kegagalan dalam misi penyelamatan ini tidak hanya akan merenggut nyawanya sendiri, tetapi juga memupus harapan terakhir dari sisa-sisa masa lalunya yang tersisa di dunia.
"Di mana para penjaga yang biasanya berpatroli di sini?" tanya Bayu dalam hati, merasa curiga atas kesunyian yang tidak wajar di sekitar sel tahanan tersebut.
Namun, rasa curiga itu segera diabaikannya demi meraih tujuan utamanya. Ia meraba saku jubahnya, mencari kunci atau kawat besi yang sempat ia ambil dari saku kepala pengawas penjara di pos depan, berharap benda sederhana itu cukup untuk membuka pintu sel yang tampak sangat kokoh.
Transisi dari suasana luar koridor yang sunyi menuju ruang tahanan terdalam terjadi saat Bayu melangkah melewati ambang pintu lengkung batu dan berdiri tepat di hadapan sel besi tempat Sekar ditawan. Cahaya obor yang temaram memperlihatkan sosok seorang gadis bergaun kusam yang duduk meringkuk di sudut ruangan batu yang dingin, dengan kedua pergelangan tangan dan kakinya terbelenggu oleh rantai besi tebal yang menempel di dinding.