Angin malam di puncak Bukit Karang Hitam berembus kencang, membawa serta debu pasir dan bau belerang yang menyengat dari kawah purba di sisi timur. Langit malam tampak kelam tanpa bintang, tertutup tirai awan tebal yang menggantung rendah seolah hendak menelan seluruh dataran tinggi ke dalam kegelapan abadi. Di tengah pelataran batu yang luas dan dikelilingi oleh pilar-pilar sisa reruntuhan kuil kuno, bara api dari obor-obor besar memantulkan cahaya kuning kemerahan yang menari liar di atas permukaan tanah. Suara gemuruh angin yang membentur dinding tebing terdengar bersahutan dengan deru napas berat para pengawal Benteng Naga Besi yang berdiri mengitari arena pertempuran. Suasana di tempat itu begitu mencekam, dibalut oleh tekanan tenaga dalam yang luar biasa besar hingga membuat udara di sekitar pelataran terasa padat dan menyesakkan dada bagi siapa pun yang menghirupnya.
Bayu berdiri tegak di atas hamparan batu pualam yang retak, jubah abu-abunya berkibar liar diterpa angin malam yang menderu keras. Di tangannya, pedang pusaka peninggalan sang guru memantulkan kilatan cahaya kebiruan yang tajam, kontras dengan kegelapan malam yang pekat. Beberapa meter di hadapannya, sesosok bayangan raksasa perlahan-lahan melangkah keluar dari kegelapan koridor batu utama, memecah keheningan dengan suara hantaman langkah kaki yang bergemuruh di atas tanah. Sosok itu adalah Singa Wulung, sang Ketua Benteng Naga Besi yang legendaris, seorang pendekar tiran yang ditakuti di seluruh penjuru daratan barat karena kekejamannya dan ilmu silatnya yang dianggap mustahil untuk dikalahkan. Pria paruh baya itu bertubuh tinggi besar bagaikan raksasa, mengenakan zirah hitam legam berukir kepala naga emas di dadanya, dan wajahnya dihiasi oleh bekas luka sayatan panjang yang melintang dari dahi hingga pipi kirinya.
"Jadi, kaulah tikus muda dari timur yang lancang merobohkan pos-pos pertahananku dan berani menginjakkan kaki di tanah kekuasaanku?" suara Singa Wulung menggelegar dahsyat, memecah keheningan malam dan mengguncang gendang telinga siapa pun yang mendengarnya. Bayu menyipitkan matanya, menatap lurus ke arah sang ketua benteng tanpa menunjukkan secercah pun rasa gentar di wajahnya yang tenang. "Aku datang untuk mengakhiri tiranimu, Singa Wulung, dan menuntut pertanggungjawaban atas darah orang-orang tak berdosa yang telah kau tumpahkan," jawab Bayu dengan nada suara dingin yang mengalirkan ketegasan mutlak. Singa Wulung tertawa terbahak-bahak, suara tawanya yang menggelegar memantul di dinding tebing batu seolah menertawakan ketidaktahuan pemuda itu. "Anak muda yang naif! Di hadapan ilmu Raga Vajra Besi yang ku miliki, pedang murahanmu itu bahkan tidak akan mampu menggores kulitku, apalagi merenggut nyawaku!" bentak Singa Wulung sambil mengepalkan kedua tangan besarnya, memancarkan gelombang tenaga dalam berwarna keemasan yang langsung melesat ke udara malam.
"Pertarungan ini bukan tentang seberapa tebal kulit besi yang kau banggakan, melainkan tentang tekad untuk menegakkan keadilan," balas Bayu tajam, merendahkan kuda-kuda kakinya dan membiarkan aliran tenaga dalam dari Kitab Warisan Samudra Selatan bergemuruh di dalam jalur meridian tubuhnya. Singa Wulung mendengus meremehkan, melangkah maju dengan tegap sambil meretakkan jemarinya yang berukuran dua kali lipat ukuran tangan normal manusia biasa. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa kuat tekadmu saat jasadmu hancur berkeping-keping di bawah telapak tanganku," geram sang ketua benteng, bersiap menerjang ke depan.
"Tujuan utamaku malam ini bukan sekadar bertahan hidup atau melarikan diri dari benteng terkutuk ini seperti sebelumnya, Kirana," ucap Bayu pelan tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari sosok raksasa Singa Wulung di hadapannya. Di kejauhan, di balik pilar batu yang runtuh, Kirana mengangguk cemas sambil mendekap kantong obat darurat di dadanya, memantau setiap gerak-gerik pertempuran puncak tersebut dengan jantung yang berdegup kencang. Bayu menarik napas dalam-dalam, memusatkan seluruh pikiran dan ketenangan batin yang ia peroleh dari malam kebangkitan batin sebelumnya ke dalam satu titik pusat energi di dalam dadanya. "Aku harus menembus pertahanan mutlak Singa Wulung dan merobohkan benteng ini dari akarnya, atau seluruh wilayah barat akan terus hidup di bawah teror darah dan penderitaan," batin Bayu memperingatkan dirinya sendiri, menyadari bahwa taruhan dari pertarungan ini adalah nyawa mereka berdua dan masa depan seluruh penduduk lembah.
"Kau melamun di tengah medan perang, anak muda? Itu adalah kesalahan fatal!" bentak Singa Wulung yang tiba-tiba melesat secepat kilat ke hadapan Bayu, mengayunkan kepalan tangan besarnya yang dilapisi tenaga dalam keemasan. Bayu yang telah siaga langsung mengerahkan ilmu Langkah Bayangan Angin, meluncur mulus ke sisi kiri tepat sepersersekian detik sebelum kepalan tangan musuh menghantam batu tempat ia berdiri tadi. Bum! Suara ledakan keras mengguncang tanah pelataran, meninggalkan lubang menganga sedalam setengah meter di atas batu pualam akibat hantaman tenaga dalam sang ketua benteng. Bayu tidak membuang waktu; ia segera membalikkan badan dan menebaskan pedang pusakanya dengan kuat ke arah leher Singa Wulung. Trang! Suara dentingan logam yang sangat nyaring berdering keras, bagaikan pedang yang menebas balok baja murni, membuat tangan Bayu bergetar hebat sementara Singa Wulung bahkan tidak bergeming sedikit pun dari posisinya.
"Sudah kubilang, tubuhku telah disempurnakan dengan ilmu Raga Vajra Besi! Senjatamu hanyalah mainan anak kecil di hadapanku!" seru Singa Wulung dengan senyuman meremehkan, langsung melancarkan sabetan siku maut ke arah dada Bayu. Bayu terpaksa melompat mundur sejauh beberapa meter untuk menghindari hantaman telak tersebut, merasakan panasnya gelombang tenaga dalam musuh yang membakar ujung jubah abu-abunya. Tujuan Bayu kini bergeser dari sekadar bertahan menjadi mencari kelemahan di balik pertahanan kebal yang luar biasa itu, karena ia tahu persis bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang benar-benar kebal tanpa memiliki titik lemah pada jalur peredaran darah dan aliran tenaga dalamnya. "Pasti ada celah di balik aliran tenaga dalam Vajra itu, aku hanya perlu menemukannya sebelum tenagaku terkuras habis," pikir Bayu cepat, mengatur kembali ritme pernapasannya di tengah desingan angin malam yang semakin beringas.