Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #46

Chapter tanpa judul #46Titik Lemah Tubuh Besi

Matahari pagi belum sepenuhnya menembus pekatnya kabut sulfur yang menyelimuti Arena Tengkorak Hitam, sebuah pelataran batu vulkanik yang terletak tepat di jantung markas besar Sekutu Kegelapan. Di tempat yang menjadi saksi bisu atas berbagai pertempuran darah dan kekejaman aliran sesat tersebut, udara terasa sangat panas dan menyesakkan dada, dipenuhi oleh bau mesiu serta keringat dingin para petarung. Di tengah arena yang dikelilingi oleh dinding batu karang terjal setinggi puluhan tombak itu, Bayu berdiri tegak dengan napas terengah-engah, menghadapi musuh terkuat yang pernah ia temui sepanjang hidupnya—Sang Ketua Benteng, penguasa mutlak aliran hitam yang memiliki teknik bela diri "Tubuh Besi Kebal Senjata".

Suasana di sekitar arena begitu sunyi mencekam, nyaris tidak ada suara angin yang berhembus lantaran tekanan energi batin yang amat masif dari sang ketua benteng. Kulit pria paruh baya itu tampak berkilau keperakan bagai baja murni yang ditempa di dalam kawah gunung berapi, memantulkan cahaya matahari pagi dengan pendaran yang menyilaukan mata. Setiap langkah kaki yang diayunkannya di atas lantai batu menciptakan getaran kecil, menunjukkan betapa sempurnanya penguasaan teknik fisik tingkat tinggi yang dimilikinya. Bayu memegang erat pedang keperakannya dengan kedua tangan, merasakan getaran hebat pada bilah senjatanya setiap kali beradu dengan pertahanan musuh pada ronde-ronde sebelumnya.

"Kau tidak akan pernah bisa menembus kulitku, anak muda," suara sang ketua benteng bergema rendah, memecah kesunyian dengan nada meremehkan. "Ilmu Tubuh Besi milikku telah mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi. Tidak ada pedang di dunia ini yang mampu menggores kulitku."

Bayu tidak membalas dengan kata-kata. Ia menyipitkan matanya, mengingat kembali setiap petunjuk berharga yang pernah ia dapatkan dari sang petapa sepuh di pulau karang terpencil beberapa waktu lalu. Di tengah situasi hidup dan mati ini, ingatan tentang rahasia titik akupunktur aliran darah adalah satu-satunya kunci yang tersisa.

❖ ❖ ❖

"Aku harus menemukan celah pada titik peredaran darahnya yang tersembunyi, atau aku akan mati di tempat ini bersama seluruh impian dunia persilatan," batin Bayu penuh tekad, mengatur detak jantungnya agar tetap tenang di tengah badai tekanan musuh.

Tujuan utama Bayu dalam pertarungan hidup mati ini bukanlah mengandalkan kekuatan fisik murni untuk beradu tenaga dengan sang ketua benteng—karena hal itu adalah sebuah kesia-siaan belaka. Berdasarkan ajaran sang petapa pulau karang, sehebat apa pun pertahanan luar seseorang, selalu ada satu titik lemah di mana aliran chi dan sirkulasi darah berpusat sebelum disebarkan ke seluruh tubuh. Titik lemah itu biasanya terletak di bawah ketiak kiri atau pangkal leher belakang, di mana pori-pori kulit terbuka sepersekian detik setiap kali sang pengguna teknik bernapas untuk memompa tenaga dalamnya.

Bayu tahu bahwa ia hanya memiliki satu kesempatan kecil. Jika ia gagal membaca pola pernapasan sang ketua benteng, tebasan pedangnya tidak akan mampu meninggalkangoresan sekecil apa pun, dan tubuhnya akan hancur berkeping-keping di bawah hantaman pukulan maut sang penguasa benteng.

"Fokuskan pikiranmu pada aliran energi alam, jangan pada wujud fisiknya," bisik hati kecil Bayu, mengingat petuah sang petapa sepuh dengan penuh keyakinan.

Ia mulai mengalirkan Ilmu Pernafasan Semesta ke seluruh indranya, mempertajam pendengaran dan penglihatannya hingga mampu menangkap getaran sekecil apa pun dari udara di sekitarnya. Di sekeliling arena, Ki Ranu dan para pendekar yang tersisa menonton dengan napas tertahan, memanjatkan doa agar pemuda itu diberikan keselamatan dan kemenangan.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam arena terasa semakin menegang seiring berputarnya waktu. Sang ketua benteng mendengus dingin melihat sikap tenang Bayu, menganggap ketenangan itu sebagai bentuk keputusasaan dari seorang pendekar muda yang tahu ajalnya sudah dekat. Tanpa membuang waktu lagi, penguasa aliran hitam itu melangkah maju dengan kecepatan luar biasa, menciptakan lesatan angin kencang yang menyapu debu di lantai batu.

Duar!

Sebuah pukulan telak dihantamkan langsung ke arah dada Bayu. Meskipun Bayu sempat mengangkat pedangnya untuk menangkis, dahsyatnya tenaga dalam sang ketua benteng membuat tubuh Bayu terdorong mundur sejauh tiga tombak, meninggalkan jejak sepatu yang menggores permukaan batu keras.

"Menyerahlah, Bayu! Kematianmu adalah takdir yang tidak bisa diubah oleh siapa pun!" bentak sang ketua benteng sambil kembali melancarkan rentetan pukulan jarak dekat bertubi-tubi yang bergerak bagaikan badai besi.

Bayu meliuk-liuk menghindari hantaman maut tersebut dengan gerakan kaki yang lincah, memanfaatkan kelenturan tubuhnya untuk mengimbangi kekuatan fisik musuh yang luar biasa dominan. Setiap kali tinju musuh nyaris mengenai wajah atau tubuhnya, hembusan angin panas membakar kulitnya, menunjukkan betapa mematikannya setiap serangan yang dilayangkan.

Di tengah kesibukannya menghindari maut, mata Bayu tidak pernah lepas dari gerak-gerik tubuh sang ketua benteng. Ia mengamati setiap naik turunnya dada musuh, mencari ritme pernapasan yang menjadi kunci rahasia dari petunjuk petapa pulau karang.

"Tiga kali tarikan napas panjang... lalu ada jeda sepersekian detik di antara sirkulasi darahnya," gumam Bayu dalam hati, mulai memahami pola pertahanan musuh yang selama ini dianggap sempurna tanpa cela.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya