
Udara di aula utama Benteng Batu Hitam terasa begitu panas dan pengap, dipenuhi oleh bau mesiu yang menyengat, aroma anyir darah segar, serta debu reruntuhan batu pualam yang beterbangan akibat hancur lebur oleh hantaman tenaga dalam tingkat tinggi. Di atas lantai batu yang retak dan berlumuran darah, Bayu berdiri dengan lutut yang sedikit bergetar, mengenakan jubah abu-abunya yang kini robek di berbagai sisi dan basah oleh keringat bercampur darah merah pekat. Pukul tiga pagi lewat empat puluh lima menit, ditandai oleh runtuhnya pilar batu besar di sisi timur aula akibat getaran pertarungan dahsyat yang baru saja mencapai puncaknya. Di hadapannya, sepuluh langkah jaraknya, berdiri Sang Ketua Mazhab Naga Hitam—penguasa lalim yang selama ini menebarkan teror di dunia persilatan—dengan napas tersengal-sengal dan dada yang berlubang akibat tebasan pedang terakhir. Sunyi yang mencekam melingkupi ruangan luas tersebut, menyisakan deru angin gunung yang masuk melalui dinding benteng yang jebol dan suara tetesan darah yang jatuh dari ujung bilah pedang Bayu ke atas lantai batu.
"Kau... benar-benar berhasil menembus pertahanan mutlak mazhabku, pendekar pelarian..." geram Ketua Mazhab dengan suara parau yang bergetar hebat, sebelum akhirnya tubuh gempal pria tua itu ambruk ke depan dan menghantam lantai batu dengan suara gedebuk yang keras.
Bayu tidak langsung bergerak atau merayakan kemenangan kecil tersebut; ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap bilah pedangnya yang bergetar hebat di tangan kanannya, sementara sekujur tubuhnya mulai merasakan gelombang rasa sakit yang teramat sangat akibat luka dalam yang mengoyak rongga dadanya. Pertarungan hidup dan mati melawan ketua mazhab tadi telah menguras seluruh sisa tenaga dalam, menyisakan rongga dada yang terasa kosong dan terbakar hebat setiap kali ia mencoba menghirup udara malam yang dingin.
"Alhamdulillah... segala puji bagi Allah yang telah memberikan kemenangan ini," bisik Bayu lemah, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin gunung yang bertiup kencang menembus reruntuhan benteng.
Di sudut aula yang agak terlindung oleh reruntuhan pilar, Sekar berdiri terikat longgar namun selamat, menatap ke arah Bayu dengan mata berlinang air mata cemas dan ketakutan yang mendalam melihat kondisi fisik sang pendekar yang sudah berada di ambang batas kewajaran manusia.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Bayu bertahan hidup dan mengalahkan Ketua Mazhab Naga Hitam bukanlah demi meraih kemuliaan, kehormatan, atau kekuasaan atas dunia persilatan, melainkan untuk memastikan bahwa Sekar dan orang-orang tertindas lainnya terbebas dari rantai kezaliman yang mencekik leher mereka selama bertahun-tahun. Di dalam lubuk hatinya yang telah disucikan melalui zikir, Tazkiyatun Nafs, dan Muraqabah, ia tahu bahwa pertarungan ini adalah bentuk jihad menegakkan kebenaran dan melindungi jiwa yang suci dari kehancuran total. Bayu bertekad untuk menghancurkan benteng tersebut sampai ke akar-akarnya, memastikan tidak ada lagi sisa-sisa pengikut mazhab sesat yang bisa bangkit kembali dan meneror kedamaian umat manusia. Namun, ia juga menyadari bahwa harga yang harus dibayar untuk mencapai tujuan luhur tersebut sangatlah mahal; tenaga dalamnya telah terkuras habis, dan aliran chi di dalam tubuhnya kini berbalik menyerang organ-organ vitalnya akibat benturan jurang pemungkas melawan ketua mazhab.
"Kita harus segera meninggalkan tempat ini sebelum sisa-sisa pasukan bawah tanah mazhab datang mengepung kita, Sekar," ucap Bayu dengan suara terengah-engah, memaksakan kakinya untuk melangkah pincang mendekati gadis yang disayanginya.
Sekar berlari menghampiri Bayu, langsung merangkul lengan sang pendekar dengan tangan gemetar, sementara air matanya tumpah membasahi jubah abu-abu yang berlumuran darah. "Bayu, kau terluka parah! Darah segar terus keluar dari mulutmu... kita harus mengobati lukamu sekarang juga!" rintih Sekar dengan nada panik yang mencerminkan ketakutan luar biasa atas keselamatan nyawa Bayu.
Bayu tersenyum tipis untuk menenangkan gadis itu, meskipun rasa sakit di dadanya terasa seolah meremukkan tulang rusuknya menjadi serpihan kecil. "Aku baik-baik saja, Sekar... yang terpenting sekarang adalah membawa dirimu keluar dari neraka ini menuju tempat yang aman," balas Bayu lembut, mencoba menepis rasa sakit fisik yang kian mendera sekujur tubuhnya.
Ia tahu bahwa tubuhnya telah mencapai batas akhir ketahanannya; luka dalam akibat hantaman tenaga dalam lawan telah mencederai meridian utamanya, membuat setiap tarikan napas terasa seperti tusukan ribuan jarum panas di dalam rongga dadanya.
❖ ❖ ❖