
Matahari baru saja merayap naik di balik cakrawala timur Lembah Kematian, memancarkan bias cahaya merah pucat yang menembus celah-celah jeruji besi tebal di ruang tahanan bawah tanah Benteng Utama Sekte Darah Merah. Pukul lima lewat tiga puluh menit pagi, udara di dalam ruang isolasi bawah tanah itu terasa sangat dingin dan pengap, berbau amis darah kering serta uap lembap batu dinding yang telah tertutup rapat selama berabad-abad. Di sudut paling gelap dari sel penjara batu andesit yang sunyi, Bayu terbaring lemah di atas lantai batu yang dingin, tubuhnya dipenuhi luka-luka sayatan dan lebam akibat pertempuran brutal melawan Ketua Sekte Darah Merah malam sebelumnya.
Sekar berdiri di depan pintu sel besi berkarat, napasnya memburu cepat setelah berhasil melumpuhkan penjaga pintu luar menggunakan serbuk penidur ramuan rahasia warisan leluhurnya. Di tangannya, sebuah obor kecil berkedip-kedip memantulkan bayangan di dinding batu yang basah.
"Bayu... b-bangunlah, kumohon," bisik Sekar dengan suara bergetar hebat, matanya berkaca-kaca menatap kondisi mengenaskan dari pemuda yang mempertaruhkan nyawanya demi membebaskan para tawanan.
Bayu membuka matanya perlahan, mengerang pelan saat rasa sakit yang luar biasa menghantam sekujur tulang rusuk dan dadanya secara bersamaan. "Sekar... kau... bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini?" tanyanya terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar di antara tetesan air yang jatuh dari langit-langit gua.
Suasana di dalam ruang tahanan itu begitu mencekam, dipecahkan hanya oleh suara derit rantai besi tua dan napas berat Bayu yang berpacu di ambang kesadaran. Sekar tidak membuang waktu menjawab pertanyaan itu; ia segera mendekatkan obor ke gembok pintu sel, bersiap mempertaruhkan seluruh pengetahuan medis dan keahlian mekanik kunonya untuk merobohkan benteng pertahanan terakhir yang mengurung kebebasan mereka.
Tujuan utama Sekar menyusup seorang diri ke ruang tahanan paling berbahaya di benteng musuh ini adalah untuk membongkar kunci mekanik sel tahanan tingkat tinggi dan merawat luka-luka parah yang mengancam nyawa Bayu sebelum pasukan patroli utama Sekte Darah Merah kembali berganti shift pada pukul enam pagi. Berdasarkan buku catatan leluhur marga pengobat yang ia pelajari di lembah utara, gembok sel tersebut bukan menggunakan kunci biasa, melainkan teka-teki kombinasi pin logam berputar yang dirancang khusus oleh ahli jebakan sekte hitam.
"Aku harus membuka gembok ini dalam waktu kurang dari tiga menit, atau kita berdua akan terjebak di sini selamanya," ucap Sekar penuh tekad, mengeluarkan serangkaian jarum perak tipis dan kawat baja kecil dari dalam kantong kain pinggangnya.
Bayu menggelengkan kepalanya lemah, mencoba menolak pengorbanan gadis itu. "Jangan... risiko terlalu besar, Sekar. Pergilah selamatkan dirimu sendiri bersama Master Giri..."
"Diam dan simpan tenagamu, Bayu!" potong Sekar tegas, namun air matanya menetes jatuh ke atas lantai batu. "Aku tidak datang sejauh ini hanya untuk melihatmu mati membusuk di dalam sel ini. Tujuanku adalah membawamu keluar hidup-hidup, dan aku tidak akan gagal!"
Tujuan mulia tersebut menuntut konsentrasi tingkat tinggi di bawah tekanan psikologis yang luar biasa. Sekar menempelkan telinganya ke dinding besi gembok, mendengarkan bunyi klik mekanik bagian dalam dengan kepekaan pendengaran yang luar biasa tajam, sementara jarinya dengan terampil memutar pin baja satu persatu sesuai hitungan formula rahasia yang ada di dalam kepalanya.
Transisi dari ketegangan mekanik gembok menuju proses penyelamatan fisik yang krusial terjadi ketika Sekar memutar pin terakhir dengan sebuah ketukan kecil yang mantap.
Clank!
Suara mekanik gembok besi besar itu berbunyi nyaring, memecah kesunyian lorong bawah tanah yang gelap. Kait besi tebal yang mengunci pintu sel terlepas dari rangkanya, membuka jalan selebar tubuh manusia menuju kebebasan yang telah lama dirindukan.
Sekar segera mendorong pintu besi itu hingga berderit terbuka, lalu bergegas masuk ke dalam sel dan berlutut di samping tubuh Bayu yang terkulai lemas di atas lantai batu yang dingin.
"Pintu selnya terbuka... kau berhasil, Sekar," gumam Bayu lirih, mencoba mengangkat tangan kanannya yang terasa begitu berat seperti menanggung beban ribuan kati.
Tanpa membuang sedetik pun waktu, Sekar membuka kantong obat daruratnya. Ia merobek kain jubah Bayu yang berlumuran darah menggunakan pisau belati kecil, memperlihatkan luka menganga di bagian dada kiri akibat hantaman energi hitam musuh malam tadi. Suhu di dalam ruangan terasa semakin dingin ketika angin malam dari ventilasi atas berhembus masuk, membuat tubuh Bayu mulai menggigil hebat akibat kehilangan banyak darah.
"Tahan sebentar, Bayu. Ini akan terasa sangat nyeri, tapi aku harus membersihkan racun hitam yang mengalir di pembuluh darahmu," ucap Sekar dengan suara bergetar, mencampur serbuk penawar luka khusus ke atas telapak tangannya.