Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #51

Suaka Tersembunyi

Matahari sore baru saja menyemburkan pendaran cahaya jingga keemasan di balik barisan puncak Pegunungan Utara, memantulkan bayangan panjang pepohonan pinus purba ke atas permukaan tanah berumput hijau yang lembut. Di tempat yang tersembunyi di balik kabut tebal dan dinding tebing batu cadas yang curam itu, terbentang sebuah lembah subur yang seolah terisolasi sepenuhnya dari hiruk-pikuk dan kekejaman dunia persilatan luar. Udara di dalam lembah tersebut terasa sangat sejuk, bersih, dan dipenuhi oleh harumnya wangi bunga liar serta gemercik air jernih dari aliran sungai kecil yang mengalir membelah padang rumput. Tidak ada suara dentingan pedang, tidak ada bau belerang, dan tidak ada jeritan ketakutan; tempat itu bagaikan surga kecil yang terlupa oleh waktu dan sejarah.

Suasana di sekitar lembah begitu tenang dan damai, hanya dipecah oleh suara burung-burung langka yang berkicau riang di dahan-dahan pohon tinggi serta desau angin lembap yang membelai dedaunan. Di tengah hamparan rumput hijau yang luas itu, Bayu menghentikan langkah kudanya, membiarkan hewan penunggangnya menunduk merumput dengan tenang setelah berminggu-minggu menempuh perjalanan maut melintasi medan berbatu dan lereng gunung yang berbahaya. Bayu mengenakan jubah abu-abu yang kini tampak kusam dan berdebu, sementara di sampingnya, Ki Ranu dan beberapa pendekar yang tersisa berjalan pincang dengan wajah menyiratkan kelelahan fisik dan mental yang luar biasa.

"Tempat ini... rasanya seperti bukan bagian dari dunia yang sedang dilanda perang," gumam Ki Ranu pelan, menghela napas panjang sembari memijat bahunya yang masih terasa nyeri akibat sisa-sisa pertempuran sebelumnya.

Bayu menatap sekeliling dengan pandangan teduh, merasakan ketenangan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan di dalam dadanya. "Alam selalu menyediakan tempat bagi mereka yang lelah berjuang untuk beristirahat sejenak, Ki Ranu."

Namun, di balik keindahan dan kedamaian suaka tersembunyi itu, Bayu tahu bahwa mereka tidak boleh terlalu lama terlena dalam kenyamanan semu. Ancaman Sekutu Kegelapan dan sisa-sisa pasukan musuh masih terus membayangi setiap langkah mereka di luar sana.

❖ ❖ ❖

"Kita harus memanfaatkan lembah terisolasi ini sebagai tempat peristirahatan sementara untuk memulihkan luka, merawat prajurit yang cedera, serta menyusun strategi ulang sebelum melanjutkan perjalanan ke perbatasan akhir," ucap Bayu tegas, menatap kawan-kawannya dengan sorot mata penuh tanggung jawab.

Tujuan utama Bayu membawa rombongannya masuk ke dalam Suaka Tersembunyi bukanlah untuk menghindari pertempuran atau mencari tempat bersembunyi selamanya. Berdasarkan kondisi fisik para pengikutnya yang sudah mencapai batas ketahanan—banyak di antaranya mengalami luka parah akibat racun dan hantaman tenaga dalam musuh—memaksakan diri melanjutkan perjalanan dalam waktu dekat adalah sebuah tindakan bunuh diri yang konyol. Bayu sadar bahwa kekuatan kelompok mereka sedang berada di titik terendah, dan tanpa pemulihan yang memadai, mereka tidak akan mampu menghadapi rintangan yang jauh lebih berat di depan.

"Tuan muda benar, luka-luka di tubuh prajurit kita memerlukan waktu setidaknya beberapa hari untuk diobati dengan ramuan herbal yang tumbuh di sekitar lembah ini," sahut salah seorang pendekar senior sambil mendudukkan diri di atas batu datar dekat aliran sungai.

Bayu mengangguk pelan, lalu melangkah mendekati sebuah gua batu alami yang terletak di kaki tebing lembah—tempat yang sangat ideal untuk dijadikan markas peristirahatan sementara. Di dalam gua tersebut, udara terasa hangat dan kering, sangat cocok untuk menyimpan persediaan makanan serta merawat para korban yang terluka parah.

"Aku akan berkeliling sebentar untuk memastikan keamanan sekitar lembah ini dan mencari sumber air bersih tambahan," ujar Bayu kepada Ki Ranu sebelum ia melangkah pergi menyusuri tepi sungai kecil.

"Hati-hati, Tuan muda. Tempat terisolasi terkadang menyimpan misteri atau penghuni lain yang tidak kita ketahui," pesan Ki Ranu mengingatkan dengan nada penuh kewaspadaan.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam lembah mulai meredup seiring matahari yang perlahan-lahan tenggelam di balik cakrawala barat, digantikan oleh temaram cahaya senja yang keunguan. Bayu berjalan menyusuri tepian sungai berair jernih, menikmati keheningan yang menyegarkan pikiran dan jiwanya dari segala penat pertempuran. Suara derap air mengalir memberikan ketenangan tersendiri bagi titik Dan Tian di dalam tubuhnya, membantu melancarkan kembali sirkulasi chi yang sempat tersumbat akibat benturan tenaga dalam tingkat tinggi beberapa hari lalu.

Di sepanjang jalur sungai, tumbuh berbagai jenis tanaman obat langka yang selama ini hanya bisa dibaca dalam gulungan kitab kedokteran kuno. Bayu memetik beberapa helai daun Ginseng Salju dan Akar Dewa yang berkhasiat tinggi untuk mempercepat penyembuhan luka dalam, memasukkannya dengan hati-hati ke dalam kantong kain di pinggangnya.

"Tanaman-tanaman ini tumbuh subur tanpa tersentuh tangan manusia selama ratusan tahun," gumam Bayu dalam hati, mengagumi kebesaran alam yang menciptakan suaka tersembunyi tersebut.

Namun, di tengah langkah tenangnya, indra pendengaran Bayu yang tajam menangkap suara gemerisik aneh dari balik rumpun semak-semak lebat di dekat air terjun kecil bagian ujung lembah. Suara itu tidak seperti suara binatang liar biasa; ada getaran energi batin yang sangat halus menyertai setiap pergerakan di balik semak tersebut.

Bayu langsung menghentikan langkahnya, meletakkan tangan kanannya perlahan pada gagang pedang keperakannya yang terselip di pinggang. Matanya menyipit tajam menatap ke arah bayangan gelap di balik dedaunan yang rimbun.

"Siapa di sana? Keluar dan tunjukkan dirimu!" seru Bayu tenang namun penuh wibawa, mengalirkan sedikit tenaga dalam ke suaranya agar menggema di seluruh area air terjun.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya