Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #55

Chapter tanpa judul #55

Matahari sore baru saja tergelincir di balik punggung Pegunungan Seribu, menyisakan bias jingga kemerahan yang memantul di atas permukaan air Sungai Citarum yang mengalir tenang. Di bawah naungan rumpun pohon bambu yang lebat dan rimbun, desir angin lembah berembus pelan membawa aroma tanah basah dan dedaunan busuk khas hutan tropis menjelang malam. Suara riak air yang menabrak bebatuan besar di tepi sungai berpadu dengan jerit burung-burung kepodang yang kembali ke sarang, menciptakan suasana senja yang damai sekaligus menyimpan kesunyian yang mencurigakan. Di balik semak-semak belukar yang tinggi di sisi timur sungai, dua sosok bayangan manusia bergeming tanpa suara, menyatu dengan warna gelap pepohonan untuk menghindari pengamatan dari luar.

Bayu berjongkok di atas dahan sebuah pohon beringin tua yang condong ke arah sungai, jubah abu-abunya terlipat rapi menyatu dengan warna batang pohon yang berlumut. Di bawahnya, beberapa meter dari tepi air, Sekar bersandar pada rumpun bambu sambil memegang erat gagang pedang pendeknya dengan jari-jemari yang lentur namun siap siaga. Tidak ada percakapan di antara mereka; komunikasi keduanya hanya dilakukan melalui isyarat mata dan gerakan tangan yang sangat terlatih. Mereka telah mengintai tempat itu selama lebih dari dua jam sejak bayangan matahari mulai memanjang di atas tanah, menunggu waktu yang tepat untuk bertindak sebelum fajar senja benar-benar tenggelam ke dalam malam yang pekat.

"Mereka sudah dekat," bisik Bayu sangat pelan, nyaris tak terdengar oleh desir angin yang lewat di antara daun-daun bambu.

Sekar mengangguk kecil, matanya menatap tajam ke arah tikungan sungai di hulu tempat samar-samar terlihat riak air yang tidak wajar akibat gerakan perahu kecil.

"Aku melihat tiga orang di atas perahu bambu itu," balas Sekar dengan suara serupa desisan angin, jari tangannya semakin mengeratkan genggaman pada senjata.

Suasana di tepi sungai itu mendadak berubah menjadi arena perburuan sunyi yang mematikan, tempat di mana siapa pun yang lengah ses डिटik saja akan kehilangan nyawa tanpa sempat berteriak meminta tolong.

"Tujuan kita malam ini bukan untuk mencari pertempuran besar atau memamerkan ilmu silat tingkat tinggi, Sekar," ucap Bayu dengan nada suara rendah yang sarat akan pengalaman dan kehati-hatian.

Sekar melirik sekilas ke arah Bayu, menunggu kelanjutan instruksi dari rekan seperjuangannya itu sambil mengawasi perahu musuh yang semakin mendekati area persembunyian mereka.

"Lalu, apa target utama kita terhadap tiga orang mata-mata Aliansi Bayangan Besi itu, Bayu?" tanya Sekar menuntut kejelasan strategi.

Bayu menyipitkan matanya, menatap lurus ke arah perahu bambu yang kini mulai melambat di dekat batu besar penanda batas sungai.

"Kita harus menyergap mereka dalam diam, melumpuhkan pergerakan mereka seketika, dan memastikan burung merpati pos atau tabung sinyal api yang mereka bawa tidak sempat dilepaskan ke udara," tegas Bayu dengan pandangan penuh perhitungan.

Bagi Bayu dan Sekar, misi penyergapan kecil ini memiliki arti yang sangat krusial bagi keselamatan seluruh pasukan perlawanan di Lembah Kemenangan. Jika ketiga mata-mata musuh itu berhasil meloloskan diri atau mengirimkan sinyal lokasi persembunyian mereka ke markas pusat Aliansi Bayangan Besi di seberang bukit, maka ribuan pasukan tiran akan segera mengepung tempat perlindungan mereka dalam hitungan jam. Oleh karena itu, tidak boleh ada satu pun kesalahan kecil yang dibiarkan terjadi; setiap gerakan harus dihitung dengan presisi mutlak, bagaikan seorang tabib yang menotok titik mati pada tubuh pasiennya.

"Aku akan mengurus dua orang di bagian depan perahu, sementara kau cegah orang yang memegang sangkar burung di bagian belakang," instruksi Bayu cepat namun tenang.

Sekar mengangguk mantap, menyetujui pembagian tugas tersebut tanpa keraguan sedikit pun di dalam hatinya.

"Paham. Mereka tidak akan sempat menyentuh sangkar burung itu sedetik pun," jawab Sekar mantap, menyiapkan tubuhnya untuk melompat dari persembunyian.

Tujuan mereka sangat jelas dan tidak bisa ditawar lagi: membungkam mata-mata musuh tanpa suara, merebut dokumen atau alat komunikasi rahasia, dan menjaga kerahasiaan markas perlawanan dengan taruhan nyawa mereka sendiri.

Perahu bambu kecil itu akhirnya merapat pelan ke tepi batu besar di bawah naungan pohon beringin tempat Bayu dan Sekar bersembunyi. Suara gesekan lambung perahu dengan bebatuan sungai terdengar samar, tenggelam di bawah deru air yang mengalir deras di antara celah-celah tebing. Tiga orang pria berzirah hitam tipis dengan lambang serigala bermata merah di dada tampak sibuk menambatkan tali perahu ke akar pohon yang mencuat di tepi air. Wajah mereka tampak lelah, namun sorot mata mereka tetap waspada mengawasi sekeliling hutan yang tampak sunyi senyap tanpa tanda-tanda kehidupan manusia.

"Ikat perahu yang benar, Jaka! Kita harus segera mengirimkan laporan sandi ini ke markas sebelum malam benar-benar gelap," bentak salah seorang dari mereka dengan suara berbisik namun bernada perintah yang tegas.

Pria bernama Jaka mengangguk, buru-buru melilitkan tali ke akar pohon sambil membawa sebuah tabung bambu kecil di tangan kirinya.

Transisi dari tahap pengintaian yang tegang menuju detik-detik penyergapan yang menentukan merayap melalui hembusan angin senja yang tiba-tiba bertiup agak kencang. Bayu memberi isyarat tangan satu kali kepada Sekar, sebuah tanda bahwa hitungan mundur penyergapan telah dimulai. Di dalam benak Bayu, segala aliran tenaga dalam ditenangkan hingga mencapai titik nol, membuat keberadaan fisiknya seolah menyatu dengan hembusan angin dan bayangan pepohonan bambu di sekitarnya. Ini adalah teknik penyamaran tingkat tinggi dari Kitab Warisan Samudra Selatan yang memungkinkan seorang pendekar bergerak tanpa meninggalkan jejak suara sedikit pun di atas tanah.

Lihat selengkapnya