Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #56

Chapter tanpa judul #56

Matahari pagi menyembulkan sinarnya menembus sisa-sisa kepulan asap hitam yang masih melayang tipis di atas permukaan tanah Suaka Tersembunyi. Suasana di lembah yang dulunya damai itu kini tampak berubah drastis setelah serangan mendadak para pengikut aliran sesat malam tadi; beberapa sudut rumah kayu tampak hangus terbakar, sementara rerumputan hijau di dekat gerbang utara koyak oleh hantaman tenaga dalam yang dahsyat. Di tengah puing-puing sisa bentrokan tersebut, angin pagi berhembus dingin membawa aroma arang dan belerang yang menusuk hidung, mengingatkan setiap orang bahwa tempat perlindungan yang mereka banggakan tidak lagi aman dari jangkauan musuh.

Di hadapan gua peristirahatan utama, Bayu berdiri termenung menatap jauh ke arah barisan pegunungan utara yang tertutup kabut tebal. Jubah abu-abunya berkibar pelan ditiup angin lembah, sementara tangannya menggenggam erat gagang pedang keperakan yang senantiasa menempel di pinggangnya. Di sekelilingnya, Ki Ranu, Rara, dan para pendekar yang tersisa duduk berkumpul dengan raut wajah lelah namun menyiratkan ketegasan yang mendalam. Tidak ada lagi senyuman atau rasa santai seperti hari-hari pertama mereka tiba di lembah ini; kenyataan pahit telah membuka mata semua orang bahwa musuh tidak akan pernah berhenti memburu mereka sampai ke ujung dunia sekalipun.

"Sisa-sisa pasukan Sekutu Kegelapan telah meninggalkan jejak penanda sihir di perbatasan lembah," ucap Rara dengan nada suara penuh penyesalan, melangkah mendekati Bayu sambil membawa sebuah serpihan batu hitam berukir simbol mata satu. "Ini berarti tempat ini sudah sepenuhnya bocor. Mereka tahu persis di mana kita bersembunyi."

Bayu mengambil serpihan batu hitam itu dari tangan Rara, mengamatinya sejenak sebelum merem맷nya hingga hancur berkeping-keping di dalam genggamannya. "Terima kasih atas peringatan itu, Rara. Sejak awal kita memang tahu bahwa kedamaian di sini sifatnya hanya sementara."

"Lalu apa langkah kita selanjutnya, Tuan muda? Apakah kita harus mencari suaka lain di pedalaman?" tanya Ki Ranu dengan suara serak, menatap tajam ke arah pemimpin muda tersebut.

❖ ❖ ❖

"Tidak ada lagi tempat bersembunyi yang aman di daratan ini selama sumber utama malapetaka itu masih bernapas di ujung utara," jawab Bayu tegas, menoleh ke arah Ki Ranu dan seluruh pengikutnya dengan sorot mata yang menyala tajam penuh keyakinan.

Tujuan utama Bayu saat ini bukan lagi sekadar mencari tempat berlindung atau menghindari kejaran musuh untuk memulihkan diri. Menyadari bahwa keberadaan mereka di Suaka Tersembunyi justru mendatangkan bahaya kehancuran bagi penduduk desa yang tidak bersalah, Bayu mengambil keputusan bulat untuk menghentikan pelarian ini selamanya. Ia bertekad untuk langsung mendatangi sumber dari segala masalah—Benteng Induk Pemusnah di Ujung Dunia, tempat di mana sang dalang utama Sekutu Kegelapan bersemayam bersama artefak kuno pemusnah peradaban.

"Kita akan bergerak maju langsung ke sarang utama mereka," lanjut Bayu dengan suara tegas yang menggempa di antara dinding-dinding gua. "Membiarkan mereka terus memburu kita dari satu tempat ke tempat lain adalah sebuah kekalahan perlahan. Kita harus menuntaskan pertempuran ini di kandang mereka sendiri."

Rara terperanjat mendengar keputusan besar tersebut. Gadis penjaga lembah itu menatap Bayu dengan rasa cemas bercampur kagum. "Ujung dunia adalah wilayah terlarang yang dipenuhi kutukan leluhur dan badai energi magis yang mematikan, Bayu. Perjalanan ke sana jauh lebih berbahaya daripada semua rintangan yang pernah kalian hadapi sebelumnya."

"Aku tahu risikonya sangat tinggi, Rara," balas Bayu lembut namun tidak tergoyahkan. "Namun, jika kita tidak memutus kepala ular itu sekarang, seluruh dunia persilatan akan mati perlahan di bawah tirani mereka. Aku tidak punya pilihan lain."

❖ ❖ ❖

Suasana di sekitar pelataran gua mendadak hening seketika. Para pendekar dan penduduk desa yang mendengarkan pernyataan Bayu saling berpandangan dengan napas tertahan. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa apa yang dikatakan oleh Bayu adalah kebenaran yang tidak terbantahkan; musuh tidak akan pernah berhenti mengejar selama mereka masih hidup dan bernapas di muka bumi ini.

Ki Ranu bangkit dari tempat duduknya, melangkah mantap mendekati Bayu lalu membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda penghormatan penuh. "Jika Tuan muda telah memutuskan untuk maju ke ujung dunia, maka hamba dan seluruh sisa prajurit Perguruan akan mengikutimu sampai titik darah penghabisan. Tidak ada kata mundur bagi kita."

"Benar! Kami akan bertarung bersama sampai akhir!" seru salah seorang pendekar senior diikuti oleh sorotan persetujuan dari kawan-kawan lainnya.

Melihat tekad baja yang berkobar di wajah para pengikutnya, Rara menghela napas panjang, menyadari bahwa ia tidak mungkin bisa menahan keputusan seorang pendekar sejati. Gadis itu merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah peta kulit binatang tua yang sudah menguning dimakan usia.

"Jika kalian bertekad pergi ke Ujung Dunia, kalian memerlukan ini," kata Rara sambil menyerahkan gulungan peta tersebut kepada Bayu. "Peta kuno peninggalan leluhur lembah kami. Ini adalah satu-satunya panduan yang menunjukkan jalur aman menembus Labirin Salju Abadi dan Tebing Pemisah Jiwa sebelum kalian mencapai benteng terakhir musuh."

Lihat selengkapnya