Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #57

Menyeberangi Pegunungan Es Abadi

[partImg:[0]]

Angin badai salju bergemuruh hebat di ketinggian ribuan kaki, menghantam dinding tebing es abadi yang membentang putih berkilau di bawah naungan langit kelam Pegunungan Himalaya purba. Di atas jalur pendakian sempit yang dipenuhi oleh tumpukan es tebal dan jurang menganga tanpa dasar di sisi kiri, Bayu melangkah perlahan namun pasti, mengenakan jubah tebal berlapis kulit domba kutub yang tertutup butiran salju. Pukul dua siang lewat sepuluh menit, matahari musim dingin yang pucat terhalang sepenuhnya oleh badai blizzard yang mengamuk, mengubah daratan es tersebut menjadi labirin putih yang mematikan bagi siapa saja yang bernali mencobanya. Selama berhari-hari meninggalkan lembah tersembunyi, perjalanan mereka menuju puncak dunia ini merupakan ujian terberat dari seluruh rangkaian takdir yang harus ditanggung oleh sang pendekar. Di belakangnya, Sekar mengikuti dengan langkah tertatih-tatih namun penuh tekad, berpegangan erat pada tali pengaman yang diikatkan langsung ke pinggang Bayu demi bertahan dari terpaan angin badai yang mampu menerbangkan manusia.

"Tetaplah melangkah di belakangku, Sekar! Jangan lepaskan tali ini apa pun yang terjadi di tengah badai ini!" seru Bayu dengan suara keras, menembus deru angin es yang menderu-deru kencang di antara celah tebing batu.

Sekar mengangguk di balik selendang tebal yang menutupi wajahnya, merasakan gigil dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum di tengah suhu yang berada jauh di bawah titik beku. "Aku baik-baik saja, Bayu! Lanjutkan langkahmu, aku akan terus mengikutimu!" balas Sekar dengan suara parau namun penuh keyakinan.

Bagi mereka berdua, pendakian ke puncak Pegunungan Es Abadi bukan sekadar perjalanan fisik melintasi medan alam yang paling ekstrem di muka bumi, melainkan sebuah ziarah batin untuk menemukan tempat peristirahatan legenda cinta sejati yang diwariskan oleh para leluhur dunia persilatan masa silam.

"Kita sudah semakin dekat dengan dataran tinggi tempat legenda itu berada, bertahanlah sedikit lagi," ucap Bayu menyemangati, memusatkan sisa-sisa tenaga dalamnya untuk menghangatkan aliran darah di ujung-ujung jarinya.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Bayu dan Sekar menempuh pendakian maut melintasi Pegunungan Es Abadi ini bukanlah untuk mencari kekuasaan atau kesaktian duniawi, melainkan untuk menuntaskan petuah kuno yang tertulis dalam kitab warisan leluhur yang menyatakan bahwa di puncak es abadi tersebut terdapat Mata Air Kehidupan Abadi—sebuah tempat di mana jiwa-jiwa yang tulus dapat menyucikan ikatan cinta mereka dari segala noda dan dosa dunia persilatan. Di dalam lubuk hatinya yang senantiasa diisi dengan zikir dan Tazkiyatun Nafs, Bayu bertekad untuk melindungi Sekar sampai titik darah penghabisan, memastikan gadis itu dapat mencapai kuil es legendaris tersebut dengan selamat. Bayu tahu betul bahwa perjalanan ini mengancam nyawa mereka berdua; setiap embusan angin membawa hawa dingin yang mematikan, dan setiap pijakan kaki di atas es bisa berujung pada kejatuhan ke dalam jurang abadi. Namun, ketenangan batin yang ia peroleh dari kepasrahan total kepada Allah SWT membuat rasa takut itu melebur menjadi keteguhan jiwa yang luar biasa kuat.

"Kita harus mencapai dataran kuil sebelum malam turun sepenuhnya, karena badai salju di malam hari akan jauh lebih mematikan daripada sekarang," bisik Bayu pada dirinya sendiri, menatap tajam ke arah punggung bukit es yang masih tertutup kabut tebal di depan sana.

Sekar menarik napas panjang, merapatkan mantelnya, lalu menatap punggung Bayu dengan sorot mata penuh cinta dan kekaguman yang mendalam. "Aku percaya padamu sepenuhnya, Bayu. Ke mana pun kau membawaku, aku akan melangkah dengan ikhlas," ujar Sekar lembut, menyalurkan semangat batin yang luar biasa besar bagi sang pendekar.

Mereka berdua kembali memantapkan langkah, menancapkan tongkat pendakian berujung besi ke dalam lapisan es keras, menaikki tanjakan curam demi tanjakan dengan sisa-sisa tenaga yang terus terkuras di tengah udara tipis pegunungan tinggi.

❖ ❖ ❖

Transisi dari jalur pendakian vertikal yang sempit menuju dataran tinggi bersalju yang lebih luas terjadi ketika Bayu dan Sekar berhasil melewati celah sempit di antara dua dinding es raksasa yang dikenal sebagai Gerbang Angin Utara. Suasana di balik gerbang es tersebut mendadak berubah; deru badai angin ribut yang tadinya memekakkan telinga perlahan-lahan mereda menjadi desisan angin dingin yang konstan, sementara hamparan dataran putih bersih terbentang luas sejauh mata memandang di bawah naungan langit senja keemasan. Transisi psikologis ini dirasakan begitu nyata oleh Bayu; dari ketegangan fisik yang luar biasa saat bertaruh nyawa di tebing curam, kini ia merasakan keheningan sakral yang menyelimuti seluruh dataran es abadi tersebut. Bayu menghentikan langkahnya sejenak, membiarkan Sekar beristirahat bersandar pada sebongkah batu es besar, sementara ia mengedarkan pandangannya mengamati sisa-sisa reruntuhan kuil kuno yang terbuat dari pualam putih di ujung dataran tinggi.

Lihat selengkapnya